
Sulit sekali membuat istrinya terbangun, tangisan wanita itu juga semakin tidak bisa dikondisikan. Sebagai manusia normal, jelas dia takut. Terlebih lagi, pria itu kerap menerima wejangan dari Mikhayla terkait keberadaan makhluk tak kasat mata yang mungkin saja mengikuti para wanita hamil.
"Maaf, ini mungkin akan sakit, tapi aku tidak punya pilihan lain."
Merasa tidak punya pilihan lain, Zean menggigit jempol Syila sekuat tenaga hingga istrinya memekik kesakitan. Usaha itu tidak sia-sia, istrinya benar-benar terbangun, tapi mungkin jempolnya sakit luar biasa.
"Kamu kenapa? Hm? Mimpi apa?"
Bukannya menjawab, Syila justru menghambur ke pelukan sang suami. Zean pikir istrinya akan marah, tapi yang terjadi kini justru berbeda hingga Zean kembali dibuat bingung.
Napasnya kini terengah-engah, Zean paham istrinya masih terbawa suasana hingga setakut ini. Zean membisikkan beberapa kalimat penenang yang dia dapatkan dari Ibra sewaktu Zean menikahi Nathalia.
"Jangan tinggalkan aku, aku mohon, Zean."
Dia berucap lirih dengan isak tangis yang terdengar mengiris kalbu Zean. Istrinya tengah bersedih, entah mimpi apa hingga ketika bangun dia bertekuk lutut begini. Padahal, sama sekali tidak ada yang Zean lakukan padanya, memaksanya saja tidak.
"Tidak akan, tenanglah."
Zean mengusap pelan punggung Syila yang kini bergetar dalam pelukannya. Memang tidak lagi sehisteris ketika masih terpejam, tapi percayalah saat ini dia menangis tersedu-sedu dan hati Zean tetap sakit melihatnya.
Beberapa saat, Zean biarkan sang istri menyudahi kesedihannya. Perlahan, tubuh Syila sedikit lebih tenang. Dia mendongak, menatap mata teduh Zean yang kini sejak tadi tertuju padanya.
"Mimpi buruk ya, mimpi apa memangnya? Coba sini cerita, aku butuh penjelasanmu, Sayang."
Syila kembali panas jika mengingat hal itu, dia menenggelamkan wajah di dada bidang sang suami tanpa menjawab lebih dulu. Masih sebatas ketenangan yang Syila cari, wanita itu tidak sedikitpun melepaskan Zean dari pelukannya.
"Sayang?"
Memang, wanita adalah makhluk yang paling tidak bisa diduga-duga. Baru saja beberapa menit yang lalu dia meraung persis terancam nyawanya. Kini, Syila kembali terlelap meninggalkan Zean yang terpaksa menahan sedikit lebih lama rasa penasaran itu hingga esok hari, itupun jika Syila ingat.
.
__ADS_1
.
Keanehan dalam diri istrinya tidak hanya berlangsung di malam hari. Paginya, Zean kembali dibuat bingung lantaran Syila seakan tidak bisa lepas darinya. Entah imbas dari mimpi buruk, atau karena perasaan bersalah akibat Syila menolak keinginannya semalam, Zean juga tidak mengerti.
Hampir jam delapan, keduanya masih nyaman bergemul dalam selimut. Sedikit membuang waktu, tapi tidak masalah karena karena Zean memang tidak masuk kerja beberapa hari nanti.
"Mau kemana?" tanya Syila kala menyadari Zean melepas pelukannya.
"Kamar mandi, mau ikut?"
Lihat, dia bahkan mengangguk cepat ketika Zean mengajaknya ke kamar mandi. Biasanya harus dengan rayuan maut, bahkan pemaksaan lebih dulu agar mereka bisa bersama di kamar kecil itu.
"Tumben."
Pria itu terkekeh seraya mengacak rambut Syila yang hingga kini belum kembali seperti semula. Tangannya tidak pernah melepaskan lengan Zean sama sekali, tidak peduli sekalipun suaminya hendak melakukan apa saat ini.
"Kamu kenapa sih?"
Zean mengerjap pelan, dia melongo lantaran mendengar pertanyaan beruntut dari sang istri. Suara Syila bahkan naik satu oktaf, jelas saja Zean bingung seketika.
"Bukan begitu, cuma bingung saja kamu kenapa ... apa aku buat kesalahan?" tanya Zean lembut setelah usai mencuci tangannya, jika tidak Syila enggan dia sentuh sampai esok hari.
"Kamu aneh, Syila yang biasanya tidak begini ... walau memang aku bahagia saja kamu begini, tapi bukan berarti aku tidak boleh tahu penyebabnya, 'kan?"
Ya, tidak menutup kemungkinan Zean sangat bahagia dengan istrinya yang mendadak manis dan lengket persis madu dari alam begini. Hanya saja, dia mendadak bingung dan penasaran apa sebabnya, Zean mengenal Syila lebih dari Syila mengenal dirinya sendiri. Kali ini, di mata Zean sang istri seakan tengah kehilangan jati diri.
"Kamu tidak akan meninggalkanku, 'kan?"
"Pertanyaanmu konyol sekali, baru saja tadi malam aku membahas hal itu. Tidak, Sayang tidak ... kenapa Syilaku jadi begini? Hm?"
Belum juga dia menjawab, sepertinya mimpi Syila terlalu memalukan untuk dijelaskan. Mungkin Syila sendiri akan malu nantinya. "Mimpi buruk?" tanya Zean lembut dan tetap sesabar itu layaknya bertanya pada anak seumuran Azkara.
__ADS_1
"Iya," jawabnya singkat sembari memainkan ujung jemari Zean yang sejak tadi tidak dia lepaskan. Khawatir suaminya lari mungkin.
"Mimpinya gimana? Dikejar jin? Iblis? Renternir atau apa?"
"Bukan, mimpinya lebih buruk dari itu."
"Lebih buruk? Lalu mimpi apa? Katakan, siapa yang membuat istriku semalam menangis?" tanya Zean menepikan anak rambut yang sedikit mengganggu di wajah sang istri.
"Kamu," jawabnya kembali dengan mata yang kini mengembun, hanya mimpi tapi sakit hati Syila sampai ke urat nadi.
"Aku? Kenapa aku?"
"Kamu selingkuh tadi malam, aku lihat sendiri," jawabnya kemudian menghempaskan jemari Zean yang sejak tadi dia genggam.
"Hah? Lihat dimana?"
"Semua, di kantor, di rumah ... bahkan di rumah sakit, parahnya lagi kamu tidak melihatku sama sekali dan lebih memilih wanita itu, apa salah hatiku sakit?" Dia berapi-api, seakan tengah menjadi korban pengkhianatan sang suami.
"Hahahahahahaha itu yang buat kamu menangis semalam? Astaga, itu cuma mimpi, Syila ... ada apa denganmu?" tanya Zean seraya menahan perutnya yang mendadak sakit.
"Tapi tetap saja, aku lihat sendiri kok, jelas-jelas itu kamu bukan Sean."
"Ya Tuhan, tapi itu mim_"
"Apa bedanya? Tetap saja hatiku sakit." Dia benar-benar menangis, Zean kembali merengkuh tubuh sang istri begitu erat. Sekalipun itu mimpi, tetap saja Zean salah.
"Maaf, lain kali aku tidak akan datang ke mimpimu seperti itu ... maaf ya," tutur Zean lembut dan menganggap semua memang salah dia yang datang ke dalam mimpi Syila dengan membawa luka.
.
.
__ADS_1
- To Be Continue -