Istri Rahasia Sang Presdir

Istri Rahasia Sang Presdir
Extra Part 07


__ADS_3

Gema takbir menggetarkan jiwa yang bergelimang akan noda. Setelah satu bulan bertarung menahan lapar dan dahaga, hari kemenangan akhirnya tiba. Setelah dua tahun tanpa Ibra, tahun ini mereka juga kembali merasakan ketiadaan Sean di rumah utama.


Ya, sejak beberapa tahun lalu keluarga ini memang tidak bisa seutuh dahulu. Kendati demikian, Zean selalu menjadikan sebuah kehilangan sebagai pembelajaran untuk dapat menghargai setiap pertemuan.


Dia percaya, yang namanya hidup tidak dapat lepas dari sebuah perpisahan. Cepat atau lambat, manusia hanya bisa menunggu waktu itu akan tiba. Kepergian Ibra untuk selama-lamanya membuat Zean selalu was-was dengan keadaan oma dan juga papanya. Terlebih lagi, saat ini kondisi kesehatan Kanaya memang tidak sebaik dahulu.


Dalam balutan baju yang senada, keluarga besar Mikhail berkumpul di kediaman Ibra. Tempat dimana omanya menghabiskan kenangan bersama Ibra sewaktu hidup, katanya hingga akhir tidak akan meninggalkan kamar yang menjadi saksi cinta mereka.


Beruntungnya, meski kondisi kesehatan Kanaya menurun, masih ada Amara dan Zia yang begitu tulus merawat mertuanya. Terlebih lagi, dua cucunya menjadi dokter yang syukurnya bisa diandalkan.


Hingga Sean dan Zean menikah, Kanaya masih diizinkan Tuhan untuk melihat cucunya, bahkan cicitnya. Air mata tak terbendung ketika melihat empat generasi berkumpul dalam ruangan yang sama.


Zean percaya keabadian cinta itu nyata, dan dia juga percaya bahwa suatu saat nanti Nasyila akan berada di posisi Kanaya yang kehilangan dirinya. Cukup lama Sean mengecup punggung tangan Kanaya, meski saat ini omanya mulai salah panggil dan mengira dirinya Sean, tapi sama sekali tidak mengapa.


Air mata Zean rasanya sudah kering, dia terlalu sakit membayangkan bagaimana takdirnya di masa depan. Hingga, ketika meminta maaf pada Mikhail pria itu justru kehilangan feel akibat aroma tangan Mikhail.


"Pa, Zean minta maaf."


"Iya, Zean ... harus berapa kali papa bilang iya sudah papa maafkan," ucap papanya menghela napas panjang, dia mulai lemas dan malas jika adegannya sampai diulang berkali-kali begini.


"Iya, tapi yang kali ini Zean memang benar-benar minta maaf ... apa papa tidak cuci tangan? Bau rendang, Pa," ucap Zean masih mendramatisir keadaan hingga membuat pria itu mendapat pukulan di pundaknya.


"Eits baru saling memaafkan, jangan cari keributan."


"Kau benar-benar ya!!"

__ADS_1


Baru juga hati dan pikiran mereka sedikit jernih beberapa saat lalu, kini kembali memanas dan Mikhail sudah mengangkat telapak tangannya untuk disiapkan agar mendarat ke pundak Zean.


Zean kembali ke sisi sang istri yang Sejak tadi sudah duduk lemas di sofa dengan kipas di tangan kanannya. Udara di sini sudah dingin, tapi Syila masih tetap kepanasan bahkan keningnya membasah karena keringat.


"Sayang panas? Tidak betah pakai kerudung begini?" tanya Zean menyeka keringat sang istri.


Sejak awal sudah dia katakan pada Lengkara jangan dipaksakan harus tertutup sempurna layaknya Zalina, tapi demi tercapai kata seragam Lengkara lebih memikirkan Zalina saat ini.


"Tidak masalah, Sayang ... kan aku memang sering kepanasan," tutur Syila lembut dan berharap Zean tidak lagi mempermasalahkan kaftan yang dia sebut persis siluman kelelawar.


"Mau minum?"


"Tidak, kamu kipasin aku saja kalau tidak punya pekerjaan," pinta Syila benar-benar meminta, dia memang merasakan panas yang menjalar dari ujung rambut hingga ke ujung kakinya.


"Eh jangan, tadi sudah minta maaf masa nyuruh-nyuruh lagi," ucap Syila merasa tak enak hati, beberapa saat lalu sebelum mengunjungi kediaman Kanaya keduanya sudah saling memaafkan lebih dahulu.


Semenjak hamil, Syila kerap meminta Zean melakukan ini dan itu hingga sang suami sakit kepala. Untuk itu, dia tidak ingin permintaan maaf tersebut seakan dianggap angin lalu.


"Tugasku, bukan kamu nyuruh-nyuruh ... sini aku kipasin, atau kalau perlu kita ke kamar saja biar bisa dibuka bajunya."


"Astaghfirullah, Kak Zean!! Masih pagi juga sudah ngajak kak Syila ngamar."


Ini lagi satu, baru saja beberapa saat lalu meminta maaf dan menerima tunjangan hari raya lebih dari gaji Bastian sebulan, Lengkara dengan santainya mengucapkan kalimat yang membuat Zean terjebak dalam masalah.


"Kau yang astaghfirullah!! Siapa yang mau ngamar, otakmu kemana, Lengkara?!!"

__ADS_1


"Pa!! Kak Zean mau mukul, Pa," teriak Lengkara yang kemudian membuat Mikhail mengrahkan pistol mainan Hudzaifah ke arah putranya.


"Apa? Mau mukul?"


"Iya, Pa ... tadi tangannya sudah diangkat begini," tambah Lengkara yang sialnya benar, Zean mengangkat tangan seolah hendak memukulnya.


"Papa gaboleh!! Tante Lengkala punya Hudzai."


"Tukang fitnah!! Celaka hidup_"


"Zean!!"


Belum sempat Zean angkat bicara, sebuah umpan dari pistol mainan Hudzaifah menempel di keningnya. Memang tidak berbahaya, tapi dia yang diperlakukan begini seolah tidak ada harga dirinya.


"Sabar, Sayang ... kalau kata Zalina, bersihkan diri, sucikan hati, duduklah jangan dilanjutkan."


Gelak tawa Hudzaifah dan Mikhail benar-benar bahagia di depannya. Sontak Zean melirik perut sang istri, hanya anak itu satu-satunya harapan yang bisa melawan dua penguasa di depannya itu.


"Kalau nanti kamu lahir, jadilah pelindung Papa, Nak ... jangan seperti Abangmu itu. Padahal Papa membuatnya susah payah, siang malam sampai sakit pinggang. Benar, 'kan, Sayang?" tanya Zean menuntut persetujuan dari Syila dan wanita it hanya melongo mendengar ucapannya.


.


.


- Extra Part -

__ADS_1


__ADS_2