Istri Rahasia Sang Presdir

Istri Rahasia Sang Presdir
BAB 84 - Kerinduan


__ADS_3

Tiba di rumah sakit, mereka bergegas seakan mengerti betapa besar rindu yang harus Syila tuntaskan siang ini. Tanpa melepaskan genggaman tangannya, Zean benar-benar tidak khawatir akan pandangan seseorang yang mungkin saja mengenalnya.


Sejak tadi hati dada Syila berdebar tak karuan. Sebesar itu kemarahan Nyayu hingga ketika Zulia membuka mata, dia memilih bungkam. Sebentar lagi, ruangan tempat Zulia dirawat sudah ada di depan matanya.


Syila ingin memeluk dan merengkuh tubuh yang selalu dia rindukan setiap malamnya. Bahkan, jika memang harus dia akan mencium telapak kakinya demi bisa menghapus luka yang Syila torehkan.


Namun, tampaknya Tuhan sedang menghukumnya. Dada Syila yang tadinya sudah sesak, semakin tersiksa kala melihat tempat pembaringan itu menyisakan selimut yang sedikit berantakan.


"Zean? Apa kita tidak salah kamar?" tanya Zia bingung dan belum bisa mengerti apa yang terjadi sesungguhnya.


Rahang Zean mengeras seketika, secepat mungkin merengkuh sang istri yang hampir saja kehilangan keseimbangan. Tanpa pikir panjang, pria itu keluar meski Syila seakan sulit melangkah.


Mereka terlambat, Zean tahu ini ada yang tidak beres. Sembari menenangkan istrinya, pria itu mendatangi dokter yang sempat menangani Zulia.


Tidak ada siapapun yang patut dicurigai selain Nyanyu, entah apa yang direncanakan wanita itu lantaran menghalangi kebahagiaan istrinya. Mikhail yang bingung sendiri, tetap mengikuti langkah putranya.


"Maaf, Pak ... kami melakukan kesalahan."


Mudah sekali meminta maaf, Zean hampir saja mendaratkan pukulan di wajah pria itu. Beruntung saja Mikhail sedang dalam keadaan waras hingga secepat mungkin menahan putranya.


"Jangan, Zean, kita cari saja mereka. Kemungkinan tidak akan jauh ... Syila, kira-kira ibumu dibawa pulang kemana?"


Rumah Nyayu, kemungkinan paling benar adalah rumah wanita itu. Mereka bergegas mendatangi kediaman Nyayu. Bastian tetap diminta hati-hati meski dalam keadaan terdesak. Mikhail meminta keduanya untuk tenang, padahal dia sendiri tidak tenang sebenarnya.


Memasuki lingkungan yang sederhana dan asri itu, harapan Syila begitu besar. Matanya terus menatap ke depan, perjalanan kali ini rasanya lama sekali. Sementara Mikhail terus bertanya rumahnya warna apa, hal itu membuat Zia kesal dan meminta suaminya untuk diam.


Hingga ketika tiba di kediaman Nyayu, Syila harus kembali menelan kekecewaan. Tidak ada Nyayu di sana, apalagi Zulia. Hanya ada suami dan anaknya di sana, tapi tidak mengapa. Setidaknya, Syila bisa bertanya.

__ADS_1


"Mas, ibu dibawa kemana? Aku mau ketemu Ibu."


"Mas tidak tahu, Syila. Kemarin Mas ke rumah sakit masih ada, lagipula mana mungkin Nyayu bawa pulang Ibumu ke sini."


"Aku baru saja ke rumah sakit, dan ibu sudah pergi ... hanya Mas yang mungkin tahu dimana Mbak Nyayu bawa ibu."


Syila setengah berteriak, Zean yang mulai kehilangan kesabaran maju dan mencoba bicara baik-baik. Dia tidak ingin menggunakan kekerasan saat ini, Zean sadar mungkin benar bahwa Nyayu memang berjasa dan rela merawat Zulia.


Namun, bukan berarti hal itu membuat Nyayu berhak memutus hubungan Syila dengan ibu kandungnya. Secara baik-baik, Zean meminta Bara untuk mengatakan dimana wanita itu membawa pergi Zulia.


"Saya yang salah ... saya tahu keluarga kalian tidak mungkin menerima saya semudah itu, tapi tolong jangan halangi hak istriku."


Bara menatap Zean datar kemudian menghela napas panjang. Nyayu memang keterlaluan, tapi Bara tidak dapat berbuat lebih karena statusnya sama seperti Zean, sebatas orang baru.


"Katakan, dimana mertua saya?"


"Saya tidak dapat memastikan beliau masih disana atau tidak, tapi bebarapa saat lalu istriku mengatakan mereka akan ke makam om Prabu."


Mengunjungi makam ayahnya adalah hal yang sang ibu sukai, bebarapa kali Zulia akan datang meski hanya sekadar mengucapkan salam.


Jika benar mereka mendatangi tempat peristirahatan terakhir sang ayah, artinya keadaan Zulia sudah lebih baik. Sepanjang perjalanan Syila tidak berhenti berharap kali ini tidak akan gagal lagi.


.


.


"Syila tunggu!!"

__ADS_1


Belum usai Zean bicara, istrinya berlari menjauh. Mikhail menatap sekeliling tempat ini, dimanapun pemakaman hati Mikhail akan terluka dan mengingat sang papa.


"Mas, ayo."


"Sebentar, Zia ... Mataku kemasukan debu."


Zia yang mengerti mengapa suaminya mendadak berubah begitu hanya mengusap pelan pundaknya. Kehilangan orangtua adalah luka paling sakit, jelas Mikhail terluka.


Jika mata Mikhail baru saja mngembun, lain halnya dengan Syila saat ini. Langkahnya yang tadi luar biasa cepat, mendadak berat kala melihat wanita lemah yang duduk di kursi roda dengan didampingi Nyayu di sisinya.


Syila tidak bermimpi, malaikat yang sejak lama dia rindukan kini terlihat lemah dengan setangkai mawar putih yang dia genggam dengan tangan keriputnya.


Tanpa peduli ada Nyayu di sana, Syila nekat mendekat dengan air mata yang kini membasahi kedua belah pipi. Namun, anehnya saat ini Nyayu tidak menyerang Syila dengan kata-kata menusuk itu.


"Ibu."


Zulia menatap ke arah sumber suara. Itu adalah putrinya, dia tidak salah dan kali ini bukan bermimpi seperti kemarin-kemarin.


Putrinya berlutut seraya mengenggam erat jemarinya, tapi yang bisa Zulia berikan hanya air mata. Dia tidak mampu menggerakkan tangannya untuk mengusap pelan puncak kepala sang putri.


Syila meratap, mengucapkan seribu kata maaf dengan air mata yang benar-benar tidak terbendung lagi. Pemandangan itu benar-benar menyakitkan, Nyayu yang kemarin sempat egois memisahkan mereka tanpa sadar meneteskan air mata pada akhirnya.


Dia sangat tahu Zulia menginginkan Syila. Meski wanita itu tidak bisa berucap jelas, bibirnya yang kaku mencoba memanggil Syila setiap harinya.


"Maaf, Syila ... tapi kamu memang layak dihukum seperti itu."


.

__ADS_1


.


- To Be Continue -


__ADS_2