
Baru saja mereka membahas resepsi pernikahan beberapa waktu lalu, sama sekali tidak ada masalah dan mereka sudah sepakat untuk menundanya. Namun, di luar dugaan Mikhail justru salah sangka. Dahulu mereka memang sempat membahas resepsi pernikahan, Mikhail menawarkan akan bagaimana pestanya nanti, Zean menjawab terserah.
Zean tidak belajar dari pengalaman, bagaimana buruknya imbas kata terserah. Beberapa karyawannya sudah mengucapkan selamat ketika Zean tiba di kantor. Tidak hanya itu, beberapa rekan kerja yang cukup dekat dengannya mempertanyakan kenapa secepat itu dia menduda.
"Astaga, Papa ...."
Zean adalah orang pertama yang terkejut melihat undangan pernikahannya sendiri. Dia menatap Yudha yang terlihat sama bingungnya, sama sekali tidak menduga jika antara mereka berdua terjadi kesalahan semacam ini.
"Kenapa tidak bilang dari awal, Yud?"
"Mana saya tahu, Pak ... saya juga baru dikasih undangannya tadi pagi."
Bagaikan pengantin yang dipaksa menikah detik itu juga, Zean ketar-ketir lantaran khawatir Syila marah besar dan menolak resepsi pernikahan ini. Sungguh, tangan Zean dibuat gemetar dengan dadanya yang kini berdebar.
"Anda sendiri belum diundang? Eh ... Maksudnya belum tahu? Bukankah ini keinginan Anda sendiri?"
Yudha jelas saja mengerutkan dahi, tidak habis pikir dan mendadak penasaran apa yang terjadi sebenarnya. Apalagi, ketika melihat Zean yang menggelengkan kepala beberapa kali.
"Papa sepertinya salah paham, apa undangan ini sudah disebar ke banyak orang?" tanya zean berharap jika belum semengerikan itu, sebagai pemimpin perusahaan jelas dia tidak ingin membuat nama Mikhail jadi tercemar.
"Sudah ... kata Lengkara undangan saya yang terakhir, sisanya sudah dia sebar."
Semakin terkejut lagi Zean kala Yudha menyebut nama adiknya ikut berperan dalam menyebarkan undangan. Anehnya, tidak ada yang menghubunginya atau bertanya sedikit saja terkait resepsi pernikahan itu.
"Lengkara? Dia ikut juga?"
__ADS_1
"Hm, panitia sebar undangan katanya," jawab Yudha seadanya, sebagaimana yang dia dengar dari kekasihnya bahwa dia tengah memiliki tanggung jawab besar untuk resepsi pernikahan Zean.
"Panitia apanya, astaga mereka benar-benar ... jangan-jangan Sean juga sudah tahu hal ini?"
"Kurang tahu, sepertinya Sean tidak ikut campur."
Sebenarnya Zean ingin marah, tapi di sisi lain dia juga bahagia karena itu adalah keinginannya sejak lama. Duduk bersama Syila di hadapan orang banyak dan memproklamirkan bahwa Syila adalah miliknya.
Tidak ingin semuanya menjadi rumit, Zean bergegas menuju kediaman Orang tuanya. Sudah pasti yang dia tuju adalah Mikhail, pembuat ulah yang sembarangan menentukan resepsi pernikahannya.
Zean melaju dengan kecepatan sedang, sembari menghubungi Syila dan berharap istrinya tidak terkejut mendengar hal ini. Menyesal sekali dia menjawab seperti itu, sama sekali dia tidak ingat bagaimana Evan yang ketar-ketir akibat ketikan asal Mikhayla, persis Papanya kali ini.
"Papa!!'
Belum juga turun dari mobil, Zean sudah berteriak memanggil sang papa. Kediaman Mikhail tampak sepi seperti biasa, hanya ada Rahman dan Bastian yang menyambutnya dengan tatapan penuh tanya di depan.
"Pa!!"
Mata Zean membola kala melihat suasana di ruang tamu, seorang fashion designer yang menangani gaun pernikahan Nathalia empat tahun lalu juga berada di sana. Tidak hanya itu, Zean juga melihat istrinya tengah berada di sana dengan gaun pengantin yang begitu pas di tubuhnya.
"Sudah datang ternyata, baru saja Papa mau telepon."
Dia sudah bingung, melihat apa yang kini terjadi jelas saja semakin bingung. Wajah bingung Zean tidak bisa dia sembunyikan, ditambah lagi kecantikan istrinya membuat lidahnya sejenak tidak dapat berucap.
"Apa yang terjadi sebenarnya, Pa?"
__ADS_1
"Kamu sendiri yang minta Papa urus semuanya ... Itu Anggita Papa undang kesini untuk membawakan gaun pengantinnya agar istrimu tidak lelah dan kau tidak repot."
"Kapan aku mintanya?" tanya Zean dengan napas yang kini masih terengah-engah.
"Sejak awal kau membawa istrimu Papa sudah tanya, Zean resepsinya nanti mau bagaimana? Kau jawab terserah, ya sudah Papa siapkan."
"Astaga, bukan terserah Papa ... tapi terserah Syila."
"Ck sudahlah jangan banyak protes, lagipula cuma resepsi, Papa tidak minta kamu nikah lagi."
Zean memang juara debat tingkat nasional, tapi untuk manusia yang satu ini dia memang kalah telak dan sama sekali tidak memmiliki kekuatan untuk melawan.
"Kak Zean kenapa sih? Bukannya makasih gitu, Kak syila saja bahagia .... kenapa kakak manyun begitu?" Ameera mengerutkan dahi usai mendengar perdebatan kecil kedua pria di rumah ini.
"Bukan begitu, Meera. Aku sangat berterima kasih pada Papa, tapi setidaknya konfirmasi dulu padaku ... aku sendiri bahkan terkejut melihat namaku di undangan pernikahan."
"Ya bagus dong, syukur-syukur masih nama Kakak sendiri, kalau diganti nama kak Sean gimana? Nangis pasti." Ameera tergelak dan menurutnya hal ini sungguh lucu hingga perutnya terasa sakit.
"Papa hanya ingin kalian berdua benar-benar terbuka, mulutku sudah lelah sampai berbusa menolak lamaran sahabat-sahabat Papa untukmu, Zean."
Zean tahu posisinya memang sudah kalah, dia hanya menghela napas panjang. Pria itu kini beralih menatap istrinya, raut wajahnya sama sekali tidak memperlihatkan jika dia marah, apa mungkin wanita itu sudah tahu juga, pikir Zean.
.
.
__ADS_1
- To Be Continue -