
Nathalia masih meringis dan memegangi pergelangan tangannya. Sean memang sekasar itu tadi sore. Hendak mengadu pada Jack juga percuma, dia tidak mungkin membantu. Bahkan jika sampai pria itu mengetahui fakta bahwa Zean sudah curiga, yang kena imbas tentu saja Nathalia.
Di saat kepalanya sakit begini, Zia benar-benar datang seperti yang Nathalia takutkan. Tidak bersama kedua adik ipar cerewetnya, tapi bersama Kanaya yang sama-sama kerap membuat Nathalia tersinggung.
"Mama harusnya istirahat saja, tidak perlu repot-repot begini, Ma."
Dia muak, kesal dan saat ini sedang tidak ingin diganggu siapapun. Kehadiran Zia dan Kanaya hanya membuat suasana hatinya semakin tertekan, pikirannya masih kacau dengan sikap sean dan kini harus pura-pura manis seperti biasa.
"Mama hanya ingin memastikan, kalian baik-baik saja ... Mama juga bawa gurame bakar, siapa tahu Zean suka."
"Tapi Zean tidak suka ikan, Ma."
"Kata siapa cucuku tidak suka ikan? Kamu saja yang terlalu sibuk sampai makanan kesukaan suami saja tidak paham," ucap Kanaya sembari menghela napas pelan.
Mendengar kalimat itu, Nathalia diam seraya memutar bola matanya malas. Persetan dengan makanan itu, yang dia inginkan saat ini kedua orang itu pergi. Sama sekali tidak tertarik untuk makan bersama malam ini. Dia belum siap jika harus berpura-pura romantis bersama Zean setelah pertikaian mereka tadi sore.
"Beres."
Zia menatap bangga meja makan, dia hanya ingin putranya baik-baik saja setelah kepergiannya. Semenjak kematian Ibra, Zia mencoba untuk tidak melepaskan Zean begitu saja. Bukan hanya perihal hubungannya dengan Nathalia, akan tetapi yang dia pikirkan saat ini adalah nutrisi putranya.
"Zean mana?"
"Masih di kamar, mau aku panggilkan sekarang, Ma?"
Sebuah kalimat tanya yang tidak sebenarnya, mulut Nathalia melontarkan kata-kata itu tapi hatinya berharap Zia pergi sekarang juga. Sungguh, dia sangat tidak sabar menunggu jawaban mertuanya.
"Hm jangan deh, Zean pasti capek ... nanti tolong temenin dia makan malam ya, Nath."
Ingin sekali dia pastikan putranya makan dengan baik sebelum pergi. Namun, Mikhail yang mengajak makan di luar malam ini tidak memungkinkan Zia bisa berlama-lama di rumah putranya.
__ADS_1
Senyum Nathalia mendadak redup kala mendengar jawaban Zia, seolah sesedih itu mertuanya cepat pulang. Padahal, saat ini hatinya bersorak ria dan ingin mengantar mereka secepatnya ke luar.
"Yah, mama kok pulang ... kita makan sama-sama dulu, Ma."
"Besok-besok saja, Papa banyak mau malam ini," tutur Zia sembari tertawa kecil di sana.
Sesuci itu mata Zia memandang Nathalia yang bersikap lembut dan sopan padanya. Selama menjadi menantunya, Zia bahkan tidak pernah mendapati sikap kasar Nathalia. Meski sedikit risih dengan peampilannya, tapi sikap manis Nathalia membuat Zia menepis pikiran buruknya.
Hati Nathalia selega itu kala mendengar ucapan mertuanya, dengan senang hati dia mengantar Zia dan Kanaya hingga ke depan rumahnya. Mikhail yang hanya menunggu di mobil sama sekali tidak membuatnya curiga, dia hanya berpikir jika mertuanya itu lelah berjalan karena sakit pinggang.
.
.
"Akhirnya pulang juga ... ini pasti gara-gara aku ngadu kemarin, mereka jadi datang seenaknya."
Perlakuan Sean tadi sore, membuat nathalia benar-benar kacau hingga Zia datang dia anggap pengganggu. Wanita itu terus saja mengomel hingga tanpa dia sadari sejak tadi Sean mendengarkan dengan jelas sumpah serapahnya pada Zia dan Kanaya secara bergantian.
"Calmdown, Nathalia. Perawatanmu mahal, jangan sampai keriput hanya karena nenek peyot itu."
Dia mengatur napas untuk beberapa saat, sebisa mungkin menepis bayang-bayang kanaya yang membuat kekesalannya kian nyata malam ini. Namun, baru beberapa detik jiwanya sedikit tenang, Sean sengaja menabraknya dari belakang hingga Nathalia hampir saja terjatuh.
"Ze-zean?"
"Ulangi," titah Sean menatapnya tajam dengan tangan yang kini mengepal dan siap melayangkan pukulan pada wanita itu.
"Ulangi apa?"
"Sudah kukatakan jaga sikapmu, kau mencela keluargaku ... kenapa bisa mama menyayangi menantu semunafik ini."
__ADS_1
Sean menatap Nathalia begitu miris, pria itu menggeleng pelan dan membayangkan kenapa bisa Zean bertahan hingga empat tahun lamanya.
Sejenak suasana menjadi tegang, kali ini dia memang keterlaluan dan sedikit lepas kenadi. Biasanya memang tidak pernah begini, sama sekali dia tidak mengira pria itu memantaunya sejak tadi.
"Maaf, aku tidak bermaksud."
"Tidak bermaksud apa? Jelas-jelas aku mendengar semua yang kau katakan, Jallang."
Sudah dua kali Sean membentaknya dengan sebutan itu, jelas saja Nathalia semakin cemas dan yakin betul Zean mengetahui apa yang terjadi.
Hampir saja Sean melayangkan telapak tangan tepat di wajah Nathalia. Beruntungnya, akal sehat Sean masih bicara hingga dia tidak melupakan jika Nathalia adalah wanita. Pria itu memilih melangkah ke ruang makan, tapi terhenti kala Nathalia mengekor di belakangnya.
"Kau mau apa?"
Nathalia mendongak, tidak biasanya Zean bertanya hal semacam ini. Sudah waktunya makan malam, dan tujuan Nathalia tentu saja sama.
"Makan."
"Aku tidak sudi makan bersama wanita munafik sepertimu."
Nathalia menganga kali ini, dia tidak habis pikir kenapa Zean benar-benar sekasar itu. Sebenarnya sejak kematian Ibra, Zean sudah memperlihatakan perubahan sikapnya. Namun, untuk yang kali ini dia lebih menggila lagi dan berhasil membuat dada Nathalia panas seketika.
"Siallan!! Alisha ... awas saja kau."
.
.
- To Be Continue -
__ADS_1