
"Bisa kau jelaskan?"
Zean membeku dan tertunduk lesu menatap beberapa lembar foto yang memperlihatkan dengan jelas kebersamaan antara dia dan Nasyila. Zean terlalu lengah, dia terlampau bahagia hingga melupakan fakta bahwa dia yang pergi berhari-hari pasti menciptakan kecurigaan sang papa.
"Ini ketenangan yang kau maksud? Katakan, sebelum Papa paksa wanita itu yang menjelaskan!" bentak Mikhail kehilangan kesabaran.
Kekecewaan tergambar jelas dari gurat wajahnya. Sudah dia duga sejak awal, ada yang tidak beres dengan Zean. Tidak butuh waktu lama untuk Mikhail membuktikan kecurigaannya, berawal dari dia yang meminta seseorang untuk mengintai putranya, hingga kini menyusul kepergian Zean ke Bandung.
Ketidakjujuran Zean sejak awal tentang rumah tangganya adalah akar dari semua kekacauan ini. Mikhail hanya mampu menghela napas kasar, dia di titik bingungnya. Sulit sekali mempercayai jika sang putra yang terlihat sebahagia itu dengan pernikahannya main wanita.
"Jangan libatkan Syila, Pa ... semua murni salahku."
Syila, nama yang cukup sopan terdengar di telinga Mikhail. Pria itu menoleh pada sang putra yang kini memunguti foto-foto kebersamaannya yang diabadikan sebagai bukti untuk menangkapnya, entah siapa pelakunya.
"Syila? Simpananmu? Berapa kali Papa bilang, jangan main wanita!! Kau punya istri, kenapa justru pulang ke rumah wanita lain?"
Ingin sekali dia tampar, tapi Mikhail sadar betul dia bukan pria baik-baik di masa lalu.Tatapan tajam masih tertuju pada Zean, sementara Syila menunggu di luar lantaran khawatir akan terjadi sesuatu yang seharusnya tidak boleh diketahui orang lain.
"Syila juga istriku, Pa."
Tegas, mantap dan sama sekali tidak ada keraguan kala dia mengucapkannya. Mikhail yang mendengar sontak mendelik tajam dan mendaratkan telapak tangan juga pada akhirnya di wajah Zean.
__ADS_1
"Ulangi!!"
"Syila istriku, Pa," tegas Zean menatap tajam wajah sang papa, tamparan itu cukup pedas hingga membuat hati Zean sedikit dongkol.
Mikhail, namanya bak malaikat penurun hujan. Tapi, jika sedang dalam keadaan marah dan kecewa lebih menyeramkan dari malaikat maut. Zean sadar dia akan berada di posisi ini, lambat laun dan itu hanya menunggu waktu saja.
Namun, tidak pernah terpikirkan akan secepat ini Mikhail mengetahui hubungannya. Hendak mengelak juga percuma, entah kenapa papanya justru memata-matai Zean padahal sejak empat tahun lalu pria itu sudah bicara terkait privasi.
"Istri? Berani sekali kau, Zean ... jika sampai Halim mengetahui aibmu, mau bagaimana Papa menghadapinya? Kau sadar akibat perbuatanmu?"
"Istriku bukan aib, Pa!! Semua ini adalah keinginanku, aku yang akan bertanggung jawab sendiri atas perbuatanku, Pa." Zean sangat paham, perjanjian pernikahan itu bukan hanya sebuah perjanjian biasa.
Aset milyaran dan masa depan banyak orang ikut serta sebagai imbasnya andai benar-benar kacau. Akan tetapi, tampaknya Zean menghancurkan sendiri segala yang telah dia tata selama ini.
Zean diam, kekecewaan sang papa teramat jelas dan dia tidak akan menyela pembicaraan selagi belum diminta. Dia tidak ingin berdebat, khawatir jika sang Papa serangan jantung nantinya. Sesaat, mungkin Mikhail membutuhkan waktu untuk mengerti.
"Atas dasar apa kau melakukan hal ini?"
"Aku butuh istri, Pa ... aku juga ingin merasakan kebahagiaan sesungguhnya yang tidak aku dapat selama bersama Nathalia. Salah jika aku menikahi Syila? Selama ini aku sudah bertahan dengan pernikahan yang Papa inginkan."
Sejenak Zean butuh waktu untuk menghela napasnya, sungguh semua ini tiak sesuai dengan rencananya. "Tapi aku tidak sekuat itu, empat tahun bukan waktu yang singkat ... aku tersiksa, Pa."
__ADS_1
Kembali diam, tidak ada pembicaraan yang terdengar baik dari Mikhail maupun Zean. Tampaknya pria itu tengah berusaha memahami putranya, jika dia tatap mata tulus Zean sama sekali tidak ada kebohongan di sana.
"Maaf ... aku tahu Papa pasti kecewa, tapi aku sudah dewasa dan berhak dengan kehidupanku. Aku sudah berusaha berbakti, empat tahun lalu aku tidak membantah perintah Papa walau aku belum mau menikah sama sekali ... kali ini, aku mohon berikan kebebasan untukku, Pa.
Kepala Mikhail mulai sakit, dia memijat pangkal hidungnya sembari terpejam untuk beberapa lama. Dia telah membuat kesalahan besar, faktanya Zean tidak berbeda dari Sean. Putranya sama-sama pemberontak pada akhirnya, akan tetapi dalam hal ini memang kesalahan tertuju padanya.
"Empat tahun? Dan kau diam saja, Zean."
Di luar dugaan, Mikhail justru menatapnya penuh sesal. Dia seolah merasa tengah menyayat sembilu di hati putranya. Jika saja Zean tidak bersandiwara dan hubungan mereka seakan baik-baik saja, mungkin Mikhail tidak sesakit ini.
"Apa yang kau perlihatkan pada kami? Pernikahanmu baik-baik saja, kalian bahagia ... bahkan standar kebahagiaan kaum hawa di negeri ini adalah seperti Nathalia, dan kau? Kau tersiksa selama empat tahun ini, Zean?"
Mikhail tidak lagi mampu berkata-kata, dia memiliki menantu seperti Keyvan yang hidup bahagia dengan cinta dari putrinya. Akan tetapi, di sisi lain, Mikhail justru memiliki putra yang terpenjara dalam pernikahan sepahit itu.
"Kenapa putraku sebodoh ini?"
Zean menghela napas panjang, ucapan Mikhail tidak salah. Dia memang bodoh pada dasarnya, akan tetapi jika saja bukan khawatir masa depan perusahaan sang papa mana mungkin Zean bersedia menjalani hidup dalam kepura-puraan tanpa akhir.
"Setelah ini bagaimana? Kau tahu konsekuensinya jika pengkhianatanmu sampai ke telinga Halim?"
.
__ADS_1
.
- To Be Continue -