
Dalam hidup Zean selalu percaya bahwa segala sesuatu tentu ada hikmahnya. Meski sempat khawatir akan terjadi hal serius, pria itu tetap harus bersikap tenang. Persiapannya cukup pagi, setelah sarapan di kediamannya Zean membawa serta anak dan istrinya untuk menjemput Mikhail yang ternyata sudah siap di ruang tamu.
"Siap, Pa?"
"Sudah dong, lihat Papa masih berwibawa, 'kan?"
Zean merasa dirinya sudah sangat tenang. Begitu tiba di kediaman orang tuanya, Mikhail ternyata lebih tenang lagi. Seakan hal ini bukan bencana, pria itu bahkan menyiapkan koper yang membuat Zean berpikir sang papa salah tangkap.
"Pa? Kita bukan mau liburan ya, itu Papa bawa koper buat siapa?"
"Sean, dia pasti butuh baju, Zean ... kasihan nanti di rumah mertuanya tidak pakai baju."
Zean melongo, butuh waktu beberapa saat untuknya berpikir tentang apa yang kini terjadi. Semudah itu Mikhail menganggap Sean akan menikah, padahal bisa saja saat ini putranya terancam pidana.
"Mertua? Mertua apanya, Pa? Sean itu digrebek, bukan melamar anak orang ... kita lagi kena musibah, bukan suka cita," jelas Zean menghela napas panjang.
Saat ini Zia tengah terdiam di sofa, sementara Ameera dan Lengkara masih diam membisu belum ada yang berani bicara. Anehnya, Mikhail justru bahagia dan dia adalah orang pertama yang mengucapkan Alhamdulillah.
"Ini, otaknya kurang berfungsi tu begini ... dengarkan Papa, bukankah dalam hidup ada yang namanya kesempatan dalam kesempitan?"
"Iya, lalu apa?" Zean benar-benar tidak habis pikir dengan ide Mikhail yang sungguh di luar nalarnya.
"Kita bisa memanfaatkan keadaan ini untuk menikahkannya, kau tahu sendiri selama ini bagaimana dia hidup bukan?"
Sesaat Zean merenungi ucapan sang papa. Jika dipikir memang benar juga, jika tidak terpaksa ataupun dipaksa mungkin sang kakak tidak akan pernah menikah.
"Tapi apa mungkin, Pa?"
__ADS_1
"Mungkin-mungkin saja lah, kau jago jadi duta perdamaian ... gunakan kemampuanmu," tutur Mikhail sama sekali tidak pusing menghadapi masalah ini, mungkin karena dahulu dia bahkan lebih parah, maka dari itu sepele bagi Mikhail.
"Baiklah, kita pergi sek_"
"Papa!! Zean!!"
Satu personil terlupakan, sejak tadi Mikhayla masih di rumahnya. Wanita itu berteriak dari luar dan kini membawakan tas kecil yang kemungkinan besar isinya baju untuk mereka.
"Aku sudah siapkan baju sama sarung baru buat Papa, siapa tahu butuh ... ini juga peci, malu nanti kalau kelihatan ubannya."
"Khayla!!" sentak Mikhail masih tetap menerima pemberian putrinya. Agak sedikit jengkel, tapi benar juga.
"Jangan marah-marah, istighfar coba."
"Kak Evan benar-benar belum pulang, Kak? Harusnya ada dia," tutur Zean berharap sekali Keyvan bisa ikut karena hanya dia yang sedikit serius di rumah ini.
"Belum, mungkin minggu depan. perginya juga baru kemarin, kelamaan kalau nunggu dia," ujar Mikhayla tidak sabar masalah adiknya akan segera terselesaikan. Jika harus menunggu Keyvan yang kini masih berada di London, agak merepotkan.
Keduanya kini pamit, tetap pergi bersama Bastian sebagai pengabdi paling setia. Mikhayla tetap semangat melambaikan tangan kala mereka pergi, sementara Zia hanya menatap mereka dengan kecemasan.
Berbeda dengan Zia, Ameera sejak bangun pagi tadi sudah sempat menangisi motornya, bukan Sean. Dia mencoba menghubungi sang kakak, tapi memang sama sekali tidak ada jawaban.
Habis sudah, motor yang katanya agar tidak dikira kaya mungkin terbuang begitu saja. Setelah kemarin membuatnya terpaksa menjadi ibu susu untu Hudzai, kini Sean benar-benar membuat masalah dengan menghilangkan motor Ameera yang dia cari dengan susah payah.
"Harusnya aku ikut."
"Sudah, Meera kan masih bisa dicari lagi."
__ADS_1
Mudah sekali Lengkara bicara, saat ini hanya itu satu-satunya harta yang baru berhasil dia dapatkan. Jelas saja Ameera terluka, senyum Hudzai yang sejak tadi berusaha menenangkannya sama sekali tidak membuat Ameera sedikit lebih baik.
"Kira-kira Kejadiannya gimana ya? Jadi tidak sabar ketemu mereka ... hahaha kak Sean ketahuan me-sum malu banget pasti."
Syila yang tadinya mengira mertuanya sudah sangat parah, ternyata masih ada yang lebih parah lagi. Sebagai orang yang berasal dari luar, Syila hanya memendam perasaan sekalipun tingkah keluarga suaminya ini agak sedikit membingungkan.
"Hahah benar juga!! Itu akibat maksa minjam motor sepertinya," sahut Ameera yang memang emosinya bisa berubah secepat membalikkan telapak tangan.
"Kebayang ekspresinya pas ketahuan ... Haha ritsletingnya belum sempat ditutup mungkin ya?"
"Bisa jadi, atau kalau tid_"
"Ya, Tuhan kalian berdua!! Bisa kalian bersimpati sedikit? Ini bencana Meera, Kara ... tidak main-main, kenapa kalian sebahagia ini?"
Baru setelah Zia bicara keduanya bungkam seketika. Mereka menahan tawa, Mikhayla yang paham jika Zia mungkin khawatir kini menghantarkan sang mama ke kamar utama. Akan tidak aman mentalnya jika terus bersama dua adiknya.
"Kalian berdua tuh ya, jaga sedikit perasaan Mama."
"Heleh, Padahal kakak juga sama iyanya ... bahkan Kakak juga mendukung papa sampai siapin bajunya segala."
"Shuut, jangan dipertegas!! Nanti mama dengar."
Syila menjadi bagian dari keluarga ini sudah cukup lama. Tapi, demi apapun dia masih tetap bingung dengan apa yang ada di otak mereka. Saudara iparnya memang tidak ada yang cerewet ataupun menyakitkan hati. Namun, satu hal yang Syila pahami tentang mereka adalah sama. Sama-sama senang melihat orang susah.
.
.
__ADS_1
- To Be Continue -
Beberapa eps lagi Final Episode ya, Bund.