Istri Rahasia Sang Presdir

Istri Rahasia Sang Presdir
BAB 105 - Pemaksa Dari Lahir


__ADS_3

Kehidupan rumah tangga mereka semakin terasa sempurna. Memasuki enam bulan kandungan Syila, wanita itu belum sama sekali menunjukkan tanda-tanda mengidam seperti yang Zean inginkan.


Awalnya Zean berpikir hal itu mungkin tidak begitu terasa, apalagi dengan kesibukan Syila yang menjaga ibunya. Menjaga kesehatan Zulia hingga membaik seperti saat ini, bisa saja menjadi alasan kenapa Syila tidak memiliki keinginan aneh semacam itu.


Namun, Zean yang merasa sensasi kehamilan sang istri kurang menantang, jelas saja maminta Syila merasakan hal aneh yang akan menyenangkan di mata Zean. Dia juga tidak mengerti kenapa sangat ingin sekali istrinya ngidam, tidak peduli sesulit apa menjalaninya.


"Sayang, serius kamu tidak punya rencana mau minta apa gitu? Perut kamu makin gendut begini, kapan ngidamnya," keluh Zean seakan ini adalah bencana, dia haus dan dahaganya seakan tidak pernah usai jika Syila belum merasakan ngidam.


"Belum, apa ya? Biasanya gimana memangnya?"


"Apapun, mau minta apa? Mobil? Rumah? Liburan? Atau apa terserah asal jangan minta cerai atau kawin lagi ... aku siap mengabulkan keinginan kamu."


Mau bagaimana, saat ini memang dia tidak merasakan hal itu. Semua yang dia inginkan selalu tersedia, itupun tetap normal seperti biasanya. Sejak lama Zean bertanya, pertanyaannya sejak dua bulan lalu selalu begini. Bahkan di saat Zulia sudah mulai bisa menggerakkan tangannya, Zean hanya menagih hal itu.


"Harus banget ya?" tanya Syila bingung sendiri lantaran Zean benar-benar merasa kurang hanya karena dirinya tidak seperti ibu hamil yang lain.


"Haruslah ... ayolah, aku ingin direpotkan sesekali."


Zean hanya pernah mendengar dari beberapa sahabatnya yang sudah memiliki keluarga. Mendengar bagaimana pasangan mereka ketika sedang hamil anak pertama membuat Zean sedikit iri.


"Sebentar deh aku pikir-pikir dulu," ucap syila menutup pembicaraan pagi sebelum sang suami berangkat ke kantor.


"Pikirkan baik-baik ya ... siang ini sudah harus ada, nanti kabari aku."


"Siang ini?" Syila lagi-lagi dibuat bingung dengan permintaan Zean yang harus dituruti semacam ini.


"Iya siang ini, harus ada," jawab Zean sebelum kemudian mengecup keningnya sebagai salam perpisahan.


Memang bawaan lahir, Zean adalah pemaksa yang tidak mungkin bisa ditawar. Syila hanya mengangguk sembari berpikir keinginan apa yang akan dia berikan nantinya.

__ADS_1


"Sayang harus ada ya!!" teriak Zean ketika dia sudah berada di dalam mobil. Kandungan istrinya semakin besar dan dia khawatir Syila benar-benar tidak meminta apapun hingga akhir.


"Apa yang harus ada, Pak?"


Sebagai asisten yang sangat peduli tentang kehidupan atasannya, Yudha jelas saja tidak ingin ketinggalan informasi.


"Ngidam, istriku tidak pernah ngidam ... kenapa ya?"


"Saya kurang tahu, Pak, kenapa tidak tanyakan saja pada dokter Mikhayla? Bukankah dia pasti tahu jawabannya?"


Sedikit menyesal Yudha bertanya, dia pikir Zean tengah membahas rencana resepsi mereka yang selalu ditunda lantaran kondisi Zulia. Dia hanya khawatir Zean memaksakan kehendak hingga membuat Syila tertekan nantinya.


"Kata dia wajar, tapi aku merasa kurang, Yudha," keluhnya seakan hal itu adalah masalah besar yang tidak memiliki jalan keluarnya sama sekali.


"Dengarkan saya, Pak ... anda tahu konsep kehamilan?"


"Bagaimana memangnya?" tanya Zean tanpa menaruh harapan tinggi karena biasanya jawaban Yudha kerap kali diluar ekspetasi.


Zean mengerutkan dahi, sepertinya dia pernah mendengar kalimat itu beberapa tahun lalu, ketika dia masih menjadi suami dari Nathalia Velova. Benar, sudah lama tidak Zean dengar, tapi dia yakin sekali kedua adiknya pernah mengatakan hal yang sama.


"Konsep dari mana itu?" selidik Zean menatap tajam manik Yudha yang sedikit mencurigakan.


"Seseorang," jawab Yudha mengu-lum senyumnya sembari kembali berusaha fokus melajukan kendaraan.


"Cih, kau kenapa? Apa kau sudah menemukan kebahagiaanmu, Yudha?"


Sejak kecelakaan yang mereka alami, Yudha memang agak sedikit aneh di mata Zean. Tidak hanya di kantor, tapi juga di luar. Meski dia berusaha menutupi, tetap saja terlalu kentara untuk seorang Zean yang jeli dengan perubahan seseorang.


"Ti-tidak."

__ADS_1


"Jangan malu, aku tidak melarangmu ... kau juga pria normal, jangan hanya karena pekerjaan justru membuatmu lupa bahwa kau juga harus bahagia."


Yudha sudah menemaninya cukup lama, pria itu bahkan sudah termasuk bagian keluarga Megantara secara tidak langsung. sejauh ini, Yudha adalah pengabdi paling baik dan jujur dibandingkan yang laih. Yah, meski dia sedikit bocor dan tidak bisa menjaga rahasia, Zean akui perihal kesetiaan Yudha patut diacungi jempol.


.


.


Setibanya di kantor, semua berjalan seperti biasa. Zean tetap melakukan kewajibannya tanpa hambatan. Sesekali dia masih menunggu pesan singkat dari Syila, keputusan sang istri dia tunggu hari ini juga.


Hingga, baru saja meninggalkan ruang rapat, mata Zean mendadak berbinar dan dia mengguncang tubuh Yudha hingga pandangan pria itu berkunang-kunang. Sungguh, ini bagian dari sebuah penyiksaan.


"Ada apa, Pak?"


"Istriku ngidam ... ah akhirnya, aku punya kesibukan."


Paula yang juga berada di sampingnya hanya mengerjap pelan. Pria sesibuk Zean masih merasa kurang. Sungguh, ini adalah hal yang cukup tidak manusiawi di matanya.


"Ngidam apa?" tanya Yudha was-was, karena kemungkinan besar dia yang akan kea getahnya.


"Sebentar aku baca lagi, nasi berkat ... yang pakai ayam bumbu bali, telur rebus yang matangnya sempurna dan juga orek tem_" Suaranya terdengar melemah ketika membaca lengkap keinginan Nasyila, wajahnya mendadak pias dan bingung secara bersamaan.


"Na-nasi berkat itu apa?" tanya Zean menatap kedua orang di sisinya secara bergantian.


"Sudah kuduga nona Syila tidak akan meminta hal yang biasa."


.


.

__ADS_1


- To Be Continue -


__ADS_2