Istri Rahasia Sang Presdir

Istri Rahasia Sang Presdir
BAB 37 - Sarapan (Bersama)


__ADS_3

Kepulangan Zean sementara membuat Nathalia kembali merasa merdeka. Pagi ini mereka tengah menikmati sarapan bersama, demi Zia dan kedua adiknya. Jika tidak ada mereka, baik Nathalia maupun Zean hampir tidak pernah melakukan hal semacam ini.


Zia menghela napas panjang, jika dilihat saat ini rumah tangga putranya terlihat baik-baik saja, sebagaimana yang lainnya. Akan tetapi kenapa secepat itu damainya? Zia hendak memikirkan hal itu. Namun, kembali dia mengingat fakta bahwa Zean adalah putra Mikhail, jelas saja semudah itu meluluhkan hati pasangan sekalipun kemarahan sebelumnya menggunung.


"Mama suka lihat kalian yang begini, Zean jangan pergi-pergi lagi ya ... kasihan menantu mama sampai mogok makan loh."


Nathalia tersenyum simpul, merasa benar-benar merdeka dengan kehadiran Zia pagi ini. Kekuatannya melumpuhkan Zean adalah sang mertua, selagi dia masih mampu meraih perhatian dan kasih sayang Zia maka semua akan baik-baik saja.


"Iya, Ma ... kalau kata Kak Evan persis pengantin baru," sahut Lengkara singkat tanpa menatap ekspresi menakutkan Zean yang ingin menelannya bulat-bulat.


"Pengantin baru apanya ... empat tahun, bukan empat bulan."


"Tapi vibes-nya masih pengantin baru, Ra."


"Karena tidak punya anak, coba kalau punya kayak kak Evan sama kak Mikha ... Beuh lain cerita, Kara."


Mulut Ameera berhasil merubah raut wajah Nathalia. Sejak dahulu, kedua adik Zean kerap kali berucap asal dan menyinggung hati Nathalia. Akan tetapi, hal itu tidak berlaku pada Zean. Ucapan adik-adiknya hanya dia lewatkan, sekalipun itu benar sama sekali Zean tidak peduli.


"Jadi apa tuh kalau punya anak?"


"Bapak-bapak dong, masih tanya," jawab Ameera santai dan sontak membuat Lengkara terbahak hingga Zean memasukkan roti tawar ke dalam mulut sang adik.


Uhuk-uhuk


"Diam, atau mau uang jajanmu kupotong mulai besok?" ancam Zean menatap kesal adiknya, hilang Sean terbitlah kedua wanita ini dan jangan tanya semenyebalkan apa.


"Kak kali ini serius, bikin anak dong. Zavia sama Azkara sudah tidak lucu lagi," pinta Ameera blak-blakan seraya melirik Nathalia lewat ekor matanya, terlihat jelas ekspresi wanita itu semakin kesal dan itu adalah tujuan utama Ameera.

__ADS_1


"Meera."


Hati lembut Zia masih memandang Nathalia, dia khawatir menantunya tersinggung. Apalagi, mereka sudah empat tahun menikah dan memang belum punya keturunan. Sekalipun Zia tahu alasan yang keluar dari mulut Nathalia adalah memang kemauan mereka, tetap saja Zia khawatir itu bukan alasannya.


"Kan permintaan, Ma ... Siapa tahu kak Zean kabulin."


"Boleh ya, Kak ... kan lucu kalau ada ponakan baru," pinta Lengkara memelas, tidak ada takutnya sama sekali padahal Zean sudah mengancamnya.


"Iya," jawab Zean tidak terduga, jelas saja kedua adiknya berseru Yes hingga membuat Nathalia mengepalkan tangannya.


"Kapan, Kak?"


"Secepatnya."


Nathalia menatap kesal kedua adik iparnya, menyesal sekali dia meminta Zia membawa serta Lengkara dan Ameera. Lebih menyebalkannya lagi, Zean mengiyakan permintaan mereka.


Belum apa-apa, Nathalia sudah berpikir bagaimana caranya agar Zean gagal. Demi apapun, dia tidak pernah merencanakan karirnya patah hanya karena anak. Membayangkan perutnya membesar saja dia malu, jelas pekerjaannya terhambat andai tubuhnya berubah nanti.


Akan tetapi, sekalipun hatinya sedongkol itu tetap Nathalia mempertahankan senyum penuh kepalsuan di wajahnya. Seolah menjelaskan jika dia juga menyetujui keinginan mereka, padahal kenyataannya berbeda.


.


.


"Kak, anterin kara ya ke kampus,' pinta Lengkara tiba-tiba dan hal itu membuat Zean berpikir sejenak.


Dia menatap pergelangan tangannya, masih ada 45 menit lagi. Pagi ini, Zean ingin cepat-cepat ke kantor, tentu saja alasannya bukan karena rapat mendesak ataupun hal lain terkait pekerjaan.

__ADS_1


"Sendiri saja ya, Kakak ada urusan penting."


"Jam segini? Urusan apa?"


"Ya ada, anak kecil dilarang ikut campur," ucap Zean mengelap mulutnya dengan tisu usai menegak air mineral hingga tandas.


"Ck, kenapa begitu ... biasanya juga kakak mau anterin aku."


Tidak hanya lengkara, melainkan Zia dan Ameera juga heran. Biasanya, Zean adalah sosok yang paling peduli dan dia rela mengorbankan kepentingannya hanya demi keluarga.


"Mandiri, sudah dewasa, 'kan? Mobil juga baru kakak kasih kemarin, biasakan jangan bergantung."


Lengkara terdiam sejenak, tapi dia juga tidak berani melawan Zean jika pria itu sudah bicara begitu serius. Sementara Ameera yang baru saja berencana meminta uang jajan lebih, sontak ciut ketika melihat Zean seserius itu menolak permintaan Lengkara.


"Aku pergi."


Zean berlalu usai mengusap puncak kepala adiknya, hal semacam itu kerap kali dia lakukan sejak adiknya masih kecil. Hingga detik ini, Zean masih sama ternyata.


Beberapa saat Zean berlalu, Zia menyadari ada hal yang berbeda. Ya, tidak ada kecupan di kening untuk Nathalia. Padahal, sebelumnya sudah terlihat manis sekali. "Mungkin masih marah."


Zia berpikir positif, mungkin saja ulah Nathalia yang merusak mainannya membuat Zean marah sampai sekarang. Hampir saja dia melupakan fakta lain tentang putranya, Zean adalah sosok yang sulit memaafkan jika seseorang membuatnya terluka.


.


.


- To Be Continue -

__ADS_1


__ADS_2