
Setelah penantian panjang, Zean kembali dihadapkan dengan perasaan yang sama. Sembilan bulan Syila melewati masa kehamilan, tanpa didampingi Sean seperti melahirkan Hudzaifah dahulu, kali ini Zean benar-benar gusar lantaran tidak ada yang berhasil menenangkannya.
Meski kemungkinan Syila akan menjerit seperti waktu itu tidak akan ada, tapi bukan berarti dengan operasi yang ditempuh kekhawatiran Zean seolah berkurang. Dia khawatir tentu saja, jangan ditanya bagaimana rasanya jelas bernapas saja tidak lega.
Sebagaimana kelahiran pertama, kedua orangtua mereka turut serta di rumah sakit. Meski bukan cucu pertama, antusias mereka tidak berbeda. Khawatir dan ketakutan menjadi satu, Zean sama sekali tidak bisa tenang sebelum dokter mengatakan jika operasi sang istri berjalan dengan baik.
Beberapa waktu berlalu pasca operasi, seperti biasa Zean akan selalu menemaninya setiap waktu. Tidak hanya Zean, tapi Mikhail dan Zia juga sama. Hal ini adalah bukti bahwa hadirnya buah hati Sean dua bulan lalu, tidak membuat kasih sayang Mikhail pada Syila berkurang.
"Ya Tuhan, mimpi apa papa dapat cucu kembar lagi ... kemarin Sean, sekarang Zean ... tidak sia-sia papa banting tulang dulu, Ze," tutur Mikhail sembari memandangi wajah mungil putra Zean yang dia beri nama Abimanyu Adhikari.
Nama yang Sudah Zean rencanakan berbulan-bulan, bersama Syila atas persetujuan Hudzaifah tentu saja. Sama halnya seperti Sean, kebahagiaan Zean juga lengkap sudah.
Tidak hanya dikaruniani jagoan, Zean juga mendapatkan seorang putri yang bisa dipastikan akan menjadi berlian di tangan kedua kakaknya, Haura Qotrunada. Zean tidak memiliki kemampuan menciptakan nama-nama indah seperti opanya, tapi yang jelas semua nama-nama itu sudah atas persetujuan Hudzaifah.
Setelah menjalani rangkaian perawatan di rumah sakit, kedua buah hati dan sang istri diperbolehkan untuk pulang. Sudah tentu kedatangan mereka disambut besar-besaran oleh keluarga yang sudah tidak sabar ingin menyapa anak kedua Zean.
Tidak hanya keluarga, nyatanya rekan media masih terus mengulik privasi Zean entah sampai kapan. Padahal, saat ini Zean sudah benar-benar lepas dari Nathalia, dan wanita itu mulai kembali menata diri dalam karirnya.
Meski sempat terlibat drama yang cukup membuat hatinya mual, pada akhirnya Zean mampu berdamai tanpa rasa dendam. Nathalia juga tampak sadar diri, terlebih lagi karirnya saat ini tidak lebih dari pemeran pembantu.
Kehidupan yang sempurna benar-benar Zean dapatkan setelah ujian yang dia lewati. Memiliki Nasyila yang menghormatinya sebagai suami, dan ketiga buah hati yang nantinya akan menjadi alasan Zean tetap hidup dan bekerja adalah hal yang benar-benar dia syukuri.
.
.
"Papa dedek Hawanya bobok?"
Setelah berbulan-bulan begitu betah di rumah opanya, pangeran Zean akhirnya betah juga tinggal di rumah setelah kelahiran sang adik. Ya, meski dia masih dapat dikatakan bayi juga sebenarnya, bagi Zean putra pertamanya akan tetap menjadi bayi.
"Iya, Hudzai mau gendong?"
__ADS_1
Zean hanya basa basi awalnya, tapi secepat mungkin Hudzai duduk ke sofa dan menepuk pahanya agar Haura segera Zean berikan. Padahal, empeng di mulutnya itu belum pernah lepas meski sudah lama lepas ASI.
"Jangan dilepas tapi ya dedek Hawanya."
"Iya Papa."
Hudzaifah mengangguk berkali dan Zean hanya menarik sudut bibir. Begitu cepat waktu berlalu, rasanya baru kemarin putranya merah dalam pelukan Syila, kini justru sudah bisa memeluk adiknya.
"Papa maacih ya."
"Hm? Terima kasih untuk apa?"
"Hudzai dikasih dedek Hawa ... jadi dedek Ima ada temennya, Papa buat bantuin Oma nanti," celotehnya membuat Zean berdebar, karena kehamilan Syila dan Hudzaifah yang lebih betah di rumah opanya, pria itu seakan kehilangan banyak momen.
"Oh begitu ... kalau Hudzai nanti bantuin siapa? Papa ya?"
"Syalah, Hudzai sama dedek Abiayu telus dedek Habil bantuin Opa tanam pisang nanti."
"Abimanyu tidur, Sayang?"
"Hm, aku cari kamu ... kupikir kemana," tutur Syila kini duduk di sisi Zean, dia bersandar di punggung sang suami karena sepertinya memang lelah.
"Kamu kenapa? Mau kupijat?"
"Tidak, penasaran saja kalian berdua sedang apa," jawab Syila menarik tersenyum teduh, melihat Hudzaifah yang menenangkan putrinya hati wanita itu benar-benar menghangat.
Hingga, mereka sama-sama panik kala Hudzaifah buru-buru turun. Beruntung saja Zean cepat mengambil alih Haura, sungguh pengasuh itu tidak dapat diandalkan, pikir Zean menatap putranya.
"Opa ...."
"Opa terus, sudah dibuatkan adiknya tetap saja Opa Opa," gerutu Sean melihat putranya dan sang papa tampak melepas rindu di sana.
__ADS_1
Jika sudah begitu, bisa dipastikan Hudzaifah akan lupa waktu. Terlebih lagi Zean melihat dengan jelas sang papa membawa pancing di sana, bisa dipastikan putranya akan pulang dalam keadaan basah lagi.
"Emosian terus, anak sudah tiga padahal," goda Syila seolah tengah menyinggung sifat Zean yang bertahan sejak masih menjadi bosnya.
"Apa iya? Perasaanmu saja, Syila."
"Barusan apa kalau bukan emosi hayo?" tanya Syila mencubit pelan wajah Zean, sebuah kegiatan yang dia sukai sejak hamil enam bulan.
"Ck, jangan mancing-mancing ... baru juga dua minggu, nanti kalau sudah dua bulan baru pancing aku sesukamu," ujar Zean yang memang selalu berakhir ke arah sana, hingga akhir sang suami tidak akan berubah sepertinya.
"Papa!! bakwan Hudzai dimamam Deden, usil Papa!!" Setelah tadi membuat Zean panik, kini dia kembali membawa berita duka bahwa bakwan kesukaannya dimakan kucing peliharaan yang Mikhail berikan beberapa bulan lalu.
"Ya suruh bawa pulang Opa sana, kenapa nyuruh Papa."
"Kan Papa yang bawa Dedennya!! Usil Papa, usil!!" pintanya sembari menyeka air mata yang benar-benar membasah akibat menangisi Bakwan jagung kesukaannya.
"Iya nanti ya, besok deh."
"Sekalang!! Hudzai maunya sekalang, Papaaa!!"
"Ya Tuhan, menurun dari siapa sifat pemaksamu ini, Hudzaifah."
.
.
- The Last Extra Part -
Sampai di sini ya, kenanglah Hudzaifah kecil yang sudah bisa gendong adeknya dan nangis perkara bakwan digondol kucing.
Sewaktu masih bayik, dia sujud minta adek :
__ADS_1