
Kabar retaknya rumah tangga Zean mencuat bahkan hampir di seluruh media. Seakan tidak ada berita lain selain membawa nama mereka. Empat tahun lalu pernikahan mereka disiarkan secara langsung di beberapa stasiun televisi, jelas saja kabar Nathalia yang menggugat cerai Zean mengejutkan publik bahkan tidak sedikit penggemar mereka uring-uringan.
Memang terdengar konyol, tapi itulah yang terjadi lantaran terlalu mengagumi. Tidak hanya satu atau dua orang ang menyayangkan hal itu, hampir seluruh penggemarnya tidak bisa tidur nyenyak dan berharap sekali Nathalia dan Zean kembali bersatu seperti dulu.
Tidak hanya penggemar yang tidak bisa tidur nyenyak, melainkan Sean dan Yudha juga. Saat ini, pria itu tengah menjadi buronan wartawan demi mendapatkan pengakuan dari pihak Zean. Alasan yang Nathalia ungkapkan tidak membuat publik puas, hingga tentu saja Zean yang jadi sasaran.
"Yudha ... mereka datang lagi pagi ini?"
"Benar, Pak."
Sudah dua hari Sean bersembunyi, hal semacam ini sudah dia duga sejak awal. Namun, jumlah mereka ternyata lebih banyak dari yang Sean perkirakan. Sejak subuh mereka sudah berkumpul demi meminta keterangan dari Zean, hingga kini mereka masih bertahan bahkan jumlahnya semakin banyak.
Sebagai seseorang yang tidak begitu suka dengan keramaian jelas saja Sean risih luar biasa. Security sudah berhasil mengamankan mereka, akan tetapi mereka memilih bertahan di depan gedung perusahaan.
"Apa? Astaga, mereka tidak punya pekerjaan lain? Apa berita tentang perceraian lebih penting di negara ini?"
Sean menggeleng pelan, sebegitu besar pengaruh Zean dan Nathalia hingga urusan pribadi mereka seakan harus diketahui jutaan orang di luar sana. Sejak dahulu, Sean paling tidak suka ketika privasinya diusik. Hal itulah yang menjadi alasan utama Sean menolak mentah-mentah perjodohan dengan Nathalia.
"Apa tidak sebaiknya Anda hadapi saja, pak?"
"Hadapi bagaimana? Mereka menyeramkan, Yudha."
Sedikit aneh, Yudha mengerutkan dahi dan ini bukan mental Zean yang biasanya. Zean yang terbiasa dengan kamera dan pertanyaan orang-orang padanya, mendadak dia menatap Sean lekat-lekat.
"Heh? Kenapa kau melihatku begitu?"
Sadar jika Yudha seakan tengah mencari sesatu tentang dirinya, sontak Sean melemparkan pulpen tepat mengenai kening Yudha. Yah, sejak dahulu tidak ada tujuan Sean yang gagal sekalipun itu membidik dari jauh.
"Bukankah Anda sudah terbiasa? Lagipula pertanyaan mereka sudah tertebak, Anda jelaskan saja seperti yang Nona Nathalia katakan ... atau jika anda mau, jawab saja berdasarkan faktanya."
__ADS_1
Saran yang Yudha berikan sebenarnya lebih mendorong pria itu mengungkapkan faktanya. Jujur saja, sejak awal dia sudah gemas sendiri bahkan hampir menyebarkan bukti perselingkuhan Nathalia tanpa seizin Zean.
"Setelah itu, apa kau yakin mereka akan pergi dan berhenti mengusikku?"
Sean bukan pria penakut, tapi melihat jumlah mereka sebanyak itu dia khawatir tidak mampu bersikap seperti Zean biasanya. Apalagi, jika sampai dirinya muncul di televisi maka kemungkinan besar Zia yang selalu dia hindari selama ini akan menyadari permainannya.
"Iya, mereka hanya butuh pengakuan Anda, Pak ... setelah itu desas-desus yang tersebar akan terhenti, jadi ayo sama-sama kita hadapi," ajak Yudha bahkan mengulurkan tangannya,
Sejak dahulu, cara itu sangat ampuh untuk meluluhkan hati Zean. Namun, kali ini Yudha kembali menangkap hal yang berbeda. Sean tidak menepuk tangan Yudha sebagaimana yang Zean lakukan, dia yang tidak mengerti hanya mengerutkan dahi seakan hal ini asing sekali baginya.
"Cih, sudah kukatakan aku normal, Yudha."
Jawaban Sean hanya membuat Yudha mengangguk pelan kemudian tersenyum tipis. Hingga, Sean benar-benar mengajaknya turun untuk memberikan peryantaan kepada para wartawan menyebalkan itu.
"Ah iya, tolong siapkan masker ... aku tidak nyaman," ucapnya kemudian dan Yudha segera menuruti kemauannya.
.
.
Jika saat ini Sean tengah dibuat sakit kepala menjalani peran sebagai dirinya, Zean justru merasakan hal yang berbeda. Menjadi seorang montir tidak begitu buruk ternyata, Zean belajar menyukai meski memang belum bisa sebaik Sean.
Satu minggu ini, Zean merasakan sebuah ketenangan yang berbeda. Tubuhnya seakan benar-benar menerima meski sakit semua, Zean tidak pernah setenang ini menjalani pekerjaan sebelumnya.
Tanpa pencitraan, privasinya terjaga dan dia bisa merasakan bagaimana seseorang memperlakukannya tulus tanpa melihat pakaian. Saat ini, pria itu mengerti apa yang Sean cari hingga mantap keluar dari keluaraga Megantara kala itu.
Namun, ketenangan Zean kembali terusik pagi ini kala mendengar para penggemar Nathalia yang justru menyudutkan Zean. Berbagai fitnah terdengar, sekalipun benar dia memang memiliki simpanan saat masih menikah dengan Nathalia, tetap saja Zean murka ketika mereka menerka-nerka siapa wanita simpanan Zean.
"Sekarang mah biasa, Jeng ... apalagi suaminya pengusaha, pasti punya ani-ani," ucap wanita berdaster yang kini tengah sibuk memilah kangkung di gerobak sayur.
__ADS_1
"Iya, jadi inget sama kasus-kasus sebelumnya ... pengusaha memang biasa, kurang bersyukur padahal kalau dipikirin istrinya kurang apa coba?"
"Duh jadi penasaran deh kalau memang bener suaminya yang selingkuh, secantik apa ya dia?"
Zean tidak bermaksud mendengar, tapi sialnya tukang sayur itu sengaja berhenti di depan bengkel pagi ini. Jelas saja semua yang mereka bicarakan masuk ke telinga Zean, hingga kesabarannya benar-benar habis dan Zean dengan sengaja menyiram air arah mereka dengan dalih menghilangkan debu.
"Heh!! Gila ya? Kamu buta atau bagaimana?"
"Kena ya, Bu?"
Sudah jelas bagian punggung ketiga wanita itu basah kuyup, bisa-bisanya Zean bertanya. Masih baik Zean hanya menyiramnya dengan air hujan semalam, bukan oli bekas,
"Tidak sengaja, tadi mau siram jalanan supaya tidak banyak debu," ucapnya santai dan kembali beranjak ke panampungan air hingga mereka bersiap untuk menjauh.
"Dasar sinting, sengaja ngusir saya atau gimana? Sudah tahu semalam habis hujan, debu mana yang perlu disiram."
Penjual sayur itu angkat bicara, sungguh mustahil sekali jika alasan Zean hanya ingin menghilangkan debu. Namun, bukannya berhenti Zean terus melakukan hal itu berulang-ulang hingga mereka bubar dengan sendirinya
Dada Zean panas, ingin sekali dia robek mulut wanita-wanita yang menggunjingkannya. Baru saja dia sedikit lebih tenang, pagi ini justru dibuat murka. "Badjingan kalian."
Beberapa saat setelah dia mengamuk, ponsel Zean berdering dan secepat mungkin dia menerimanya. Panggilan dari sang istri membuat Zean tersenyum simpul, seakan jiwanya mendadak teduh.
"Hallo, Sayang."
"Bekal kamu ketinggalan, aku anterin ya ... Ini aku sudah di jalan. Nanti kita ketemunya di kafe dekat sana."
- To Be Continue -
__ADS_1