Istri Rahasia Sang Presdir

Istri Rahasia Sang Presdir
BAB 61 - Tidak Terduga


__ADS_3

Istrimu bukan wanita bodoh, mengaku saja, Zean ... dari caranya menatapku kemungkinan besar Syila mengetahui rahasia kita.


Begitulah sebuah kalimat yang Sean utarakan padanya setelah Syila pergi. Sean adalah pria yang paling pandai bersilat lidah, tapi di hadapan Syila dia bahkan salah menjawab persis pasien kurang darah.


Pertanyaan yang Nasyila berikan sangat sederhana jika itu diutarakan pada Zean. Akan tetapi, jika pada Sean jelas saja pria itu dibuat bungkam. Beruntung saja istri Zean tidak termasuk dalam rombongan wartawan tadi pagi.


"Dia tidak akan marah, bukankah minta maaf lebih mudah dibandingkan minta izin?"


Prinsip itu melekat dalam diri Zean sejak remaja, bergaul dengan orang yang jauh lebih dewasa darinya membuat cara berpikir Zean tidak jauh dari mereka. Sayangnya, yang justru lebih dominan adalah prinsip hidup Keny, sahabat kakak iparnya.


Selama empat tahun pernikahannya bersama Nathalia, tidak ada kata maaf yang pernah Zean ungkapkan, begitupun sebaliknya. Prinsip mereka yang hidup sendiri-sendiri jika sedang berdua adalah alasannya.


Kini, dia menjalani pernikahan dengan wanita pilihannya. Zean paham betul kemungkinan Syila marah tentu saja ada, terlebih lagi sejak awal dia sudah mengatakan jangan menjadi lebih jahat lagi untuk Nathalia.


"Syila ... kamu dimana?"


Sepi, Zean sudah berpikir terlampau jauh bahkan mengira Syila benar-benar pergi. Karena biasanya, jalan keluar beberapa wanita di dunia ini adalah meninggalkan suaminya jika sudah terjadi masalah.


"Astaga, kemana dia? Syila ...."


Beberapa menit mencari bahkan dia sudah berlari ke dapur tetap saja tidak menemukan sang istri. Zean semakin kacau kala Syila dengan sengaja menolak panggilannya, terbukti jelas jika istrinya sangat marah.


"Ayana Nasyila!!"


Suara Zean meninggi, panggilannya sudah berubah dan itu menunjukkan kesabarannya mulai diambang batas. Wajah cemasnya mendadak lega kala mendengar langkah sang istri menuruni anak tangga.


"Sudah pulang? Kemejanya ganti lagi?"


Tidak salah lagi, Syila memang sadar jika yang dia temui di kafe bukanlah suaminya. Zean ingat betul, Syila mempermasalahkan pakaian Sean ketika bertemu.

__ADS_1


"Maaf."


Seakan sudah tahu apa yang istrinya pikirkan, Zean menuturkan kata maaf selembut itu seraya menghampiri sang istri.


"Aku akan jelaskan, berjanjilah tidak akan marah setelah ini."


Tidak ada gurat kemarahan di wajah Syila, istrinya tak terbaca dan hanya menatap Zean begitu lekatnya. Dia melangkah santai, diikuti Zean yang kini duduk di sofa bersamanya.


"Maaf, Syila ... aku tidak pernah berpikir akan sejauh ini, tapi ketika bertemu Sean kemarahan yang sudah berusaha aku redam muncul kembali."


Meski sebenarnya semua bermula dari Sean, pria itu tidak melimpahkan kesalahan pada Zean sepenuhnya. Sangat dia sadari jika semua ini adalah keputusan bersama, maka akibatnya juga harus ditanggung sama-sama.


"Jadi benar selama ini kamu bukan ke kantor? Pulang malam, luka dan memar kecil di tubuhmu ... katakan dari mana?"


Anehnya, Syila justru tidak marah dan membahas hal lain. Lebih kepada perhatian dan menuntaskan rasa penasaran tentang kehidupan sang suami akhir-akhir ini.


"Syila?"


"Be-bengkel."


Zean menunduk, sudah pasti istrinya tengah terbahak dalam hati. Di mata Syila memang Zean tidak lebih dari anak mama, jelas dia tidak akan percaya Zean yang bahkan takut memasang tabung gas akan melakukan pekerjaan semacam itu.


"Serius?" tanya Syila dengan senyum tertahan, sungguh ini terlalu lucu untuk dia terima lantaran sejak menikah sosok Zean benar-benar berubah di mata Syila.


"I-iya serius, itu tidak penting, Syila ... aku hanya ingin kamu memaafkanku dan Sean, itu saja."


Tidak ada jawaban iya ataupun tidak secara langsung. Wanita itu menggenggam jemari Zean untuk beberapa saat. Dia menatap lekat netra sang suami, mencari celah kebohongan di sana.


"Aku paham rasa sakit hatimu, tapi kenapa harus Sean yang ambil alih ... perselingkuhan Nathalia sudah cukup menjadi alasan kalian bercerai dan suamiku ini tidak jadi pelaku sepenuhnya."

__ADS_1


Ucapan Syila benar-benar membuat Zean terdiam seketika. Wajar saja ketika Nathalia menggugat cerai, dia tidak protes dan menyalahkan dirinya. Insting seorang istri tidak pernah salah, sejak awal Zean pulang malam Syila sudah curiga.


"Kamu tahu dari mana?"


"Pak Yudha, sepertinya dia tidak sengaja ... karena bukti-bukti perselingkuhan Nathalia ditarik satu menit setelah dia kirim," jelas Nasyila tanpa sedikitpun dia tutup-tutupi.


"Oh iya? Tapi sempat lihat?" tanya Zean penasaran, kesedihannya tadi telah hilang entah kemana.


"Cuma fotonya, videonya belum."


Zean tertawa sumbang, baru saja dia hendak membersihkan mata istrinya andai benar-benar sudah terlihat. "Baguslah, matamu terlalu suci untuk melihat hal sehina itu."


Beberapa hari yang lalu, tepatnya sebelum Nathalia menggugat cerai Zean, wanita itu mengetahui kebusukan istri pertama Zean. Secara tidak sengaja, setelah beberapa kali ragu, pada akhirnya dia meminta penjelasan Yudha karena Zean selalu pulang terlambat padahal tidak pulang ke rumah Nathalia.


Siapa sangka, pertanyaan Syila justru Yudha jawab tegas bahwa Zean tidak akan pernah pulang ke rumah Nathalia lantaran wanita itu adalah pengkhianat sesungguhnya. Tidak tanggung-tanggung, Yudha bahkan mengirimkan serta buktinya pada Nasyila malam itu.


"Ck, aku tertipu ... istriku tahu segalanya ternyata," ucap Zean bersandar di sofa seraya menutup matanya.


"Tidak semua, kalian yang bertukar peran aku baru tahu tadi pagi."


"Soal itu, Yudha tidak tahu. Lalu kamu tahu dari mana?"


"Menurutmu? Apa mungkin aku tidak mengenali suamiku sendiri?" tanya Syila kesal sendiri dan mencubit perut Zean demi membuatnya sadar bahwa tidak semua mata bisa dibohongi hanya karena wajah mereka.


.


.


- To Be Continue -

__ADS_1


Gimana eps ini? Yang kemarin pada khawatir Syila bakal nganu karena mereka ga jujur, udah tenang? Oh iya, aku cuma mau kasih tips hidup ... jangan curhat sama Yudha kalau gamau bocor.



__ADS_2