Istri Rahasia Sang Presdir

Istri Rahasia Sang Presdir
BAB 57 - Pulanglah


__ADS_3

Hampir jam sembilan malam, Syila sampai jengah menanti kepulangannya. Janji Zean yang mengatakan bahwa dia akan pulang malam ini adalah alasan Syila menunggu. Sebagai istri kedua, tidak dapat dipungkiri Syila berpikir jika Zean tengah berusaha membagi waktunya.


"Apa aku telpon pak Yudha saja ya?"


Beberapa kali opsi itu terpikir olehnya, akan tetapi dia mengurungkan niat dan memutuskan lebih baik menunggu. Bosan di kamar, Nasyila menghabiskan waktu dengan menonton televisi sejenak. Meski belum bisa dipastikan dia akan merasa lebih baik, setidaknya waktu menunggu Zean tidak akan begitu terasa.


Sementara di sisi lain, jauh dari dugaannya, Zean saat ini tengah berada di tempat tinggal Sean. Keduanya perlu bertemu, dan Zean tentu harus membersihkan diri dan pulang sebagaimana Zean yang seharusnya.


"Ribet, kenapa tidak sekalian saja aku menggantikanmu di sisi Syila."


Sean bicara tanpa menatap Zean yang kini tengah mengeringkan rambutnya. Mulut Sean yang asal bicara sontak membuat tubuh Zean mendadak panas, dia mendekat dan melemparkan handuk kecil itu tepat di wajah Sean.


"Kau mau mati?"


"Ini saran, Zean ... ada baiknya kau pertimbangkan, lagipula apa kau tidak ingin merasakan jadi Sean sepenuhnya. Tinggal di tempat sempit begini, cari makan sendiri dan tidur tanpa belaian istri," jelasnya sama sekali tidak membuat Zean tenang.


"Kau jangan gila, Sean."


Pria itu menghempaskan tubuhnya di sofa kini, terlalu lelah dengan pekerjaan di bengkel membuatnya lupa bahwa sofa itu tidak seempuk miliknya. Zean meringis, sama sekali tidak bercanda dan pinggang pria itu benar-benar tersiksa.


"Baru satu hari sudah mengeluh, aku empat tahun, Zean."


"Jangan samakan aku denganmu, dan bosmu itu tidak waras!! Karyawan lembur dengan pekerjaan berat, tapi gaji tidak seberapa."


Zean mengomel, dia meratapi betapa menyebalkannya bos Sean yang memintanya mengerjakan banyak hal bahkan tidak sempat istirahat. Jemarinya terkelupas, dalam satu hari ini dia usdah mengecewakan delapan pelanggan yang datang.


Tentu saja dengan permasalahan yang berbeda. Beruntung saja di siang hari rekan kerja Sean akhirnya datang dan Zean tidak sesulit itu. Meski pekerjaan Zean makin berat lantaran diminta angkat ini dan itu, tapi setidaknya dia tidak bekerja sendirian.


"Nikmati, Zean."


"Terserah kau, Sean ... tidak semua hal di dunia bisa dinikmati."


Tanpa terduga, Sean justru tertawa sumbang usai mendengar Zean bicara. Jawaban saudaranya ini terdengar lucu, bahkan sedikit berbalik dengan fakta dan kehidupan yang terjadi.


"Jangan terlalu banyak mengeluh, sudah pulang sana."


"Sebentar, rambutku masih basah," jawab Zean seraya memejamkan mata, dia tidak berbohong dan sungguhbenar-benar lelah.

__ADS_1


"Kenapa? Kau takut dikira Syila habis keramas?"


Terserah, malas sekali jika semua ucapan Sean harus dijawab. Pria itu memilih diam untuk sementara, dia hanya butuh waktu sebentar agar tidak membuat istrinya khawatir.


"Tadi siang, Nathalia datang ke kantor."


Mata Zean sontak terbuka, dia menatap Sean serius dan semua rasa lelahnya seakan hilang begitu saja. Sudah dua hari Sean tidak menceritakan perkembangannya, akan tetapi Zean yakin betul jika Sean benar-benar membuat wanita itu hampir gila.


"Untuk konten atau?"


"Dia datang sendiri, mungkin marah besar karena akunnya hilang kemarin."


"Lalu?"


"Dia mengancamku akan mengadu pada Mama, tapi aku juga melakukan hal yang sama ... kami bertengkar, istrimu itu terlalu brutal sampai akhirnya aku kasar dan menyakitinya."


Tidak satupun Sean tutup-tutupi, sama sekali Zean tidak marah meski Sean berbuat kasar pada istrinya. Sesaat dia tersenyum tipis dengan penderitaan Nathalia, tapi sayang kebahagiaan Zean hilang seketika begitu mendengar laptop kesayangannya hancur jadi dua di tangan Nathalia.


"Apa?! Kau serius, Zean?"


"Dasar settan!! Ays kenapa tidak kau larang, Sean? Laptop itu dari Papa," lirih Zean terlihat jelas lebih peduli dengan benda mati itu dibandingkan Nathalia yang Sean sakiti.


"Salahkan istrimu, kenapa jadi aku?"


Hendak marah juga tidak bisa, bukan salah Sean dan ini murni Nathalia yang kurang waras. Mau tidak mau, Zean harus pasrah dan menerima bagaimana watak istri pilihan papanya.


"Tepatnya calon mantan, kecil kemungkinan dia akan bertahan setelah ini ... sudah berhari-hari dia cuma diam dan menangis di kamar," tambah Sean demi menenangkan Zean yang kini sudah merah padam menatapnya.


"Kau tidak memaksanya melayanimu, 'kan?" Curiga sekali, Zean bukan khawatir terhadap Nathalia, tapi justru sebaliknya.


"Tidak, entah kenapa milikku tidak berdiri di dekatnya padahal seksi," ucap Sean santai sekali, begitu sopan di telinga Zean hingga bantalan sofa mendarat tepat di wajahnya.


"Bullshit ... orang sepertimu mana mungkin tidak berdiri melihatnya, Sean."


"Aku bersumpah, Zean. Sudah kukatakan tipeku_"


"Aku tidak mau tahu, simpan sendiri jangan sampai kupukul wajahmu," tutur Zean sangat paham kemana arah pembicaraan Sean, entah sekadar bercanda atau memang itu kata hatinya.

__ADS_1


"Hahaha sudah pulang sana, jangan sampai aku yang mendatangi Syila, Zean."


.


.


Hanya dengan satu ancaman, rasa lelah Zean hilang begitu saja. Kewaspadaan Zean tampaknya harus dia tingkatkan. Sean mulai asal bicara, jangan sampai kejadian di masa SMA terulang.


"Sayang."


Pria itu masuk dengan langkah panjangnya, tatapan Zean tertuju pada seluruh sisi ruangan demi mencari istrinya. Dapat dipastikan Syila menunggu kehadirannya, hingga kegundahan Zean luruh seketika kala melihat sang istri tengah terlelap di sofa.


Televisi masih menyala, bahkan coklat panas di mejanya sudah dingin. Terlalu lama menunggu suaminya kerja, Syila sampai begini. Secepat mungkin Zean mematikan televisi lebih dulu, pria itu mengecup kening sang istri beberapa saat.


"Maaf, aku membuatmu menunggu," bisiknya kemudian, wajah teduh sang istri benar-benar membuat lelahnya terbayarkan. Kalaupun benar Zean harus bekerja keras seperti hari ini demi Syila, mungkin dia akan sangat rela.


"Hai, aku ganggu ya?"


Zean berucap lembut kala Syila mengerjap pelan, mungkin kecupannya terlalu banyak hingga tidur Syila terganggu. Pria itu mengulas senyum manisnya, wajah kantuk Syila hanya bisa membalasnya tipis.


"Aku tadi mimpi buruk," ucap Syila tanpa menjawab sapaan sang suami lebih dulu.


"Mimpi apa? Hm?"


"Kamu kotor semua sampai yang kelihatan cuma mata, entah dari mana tapi kutanya cuma diam."


"Bukan mimpi namanya, itu karena kamu ketiduran di sini." Zean bingung sendiri kenapa bisa Syila menemukan wujudnya tadi siang dalam mimpi.


"Tapi beneran cuma ke kantor, 'kan?"


"Iya istriku," jawab Zean tersenyum simpul dan kembali merengkuh tubuh Syila yang menjadi candunya sejak menikah. "*Kantor Sean maksudn*ya."


.


.


- To Be Continue -

__ADS_1


__ADS_2