
Salah satu hal terlarang di dunia adalah berbohong. Terlebih lagi berbohong pada istri, itu lebih terlarang lagi. Pamit ke Boyolali, sekaligus ikut kajian katanya, tapi yang terjadi justru berbeda. Zean sama sekali tidak ke luar kota, melainkan menetap di penjara selama dua hari.
Setelah cukup lama Syila menekan Zean dengan begitu banyak pertanyaan, Zean mengaku juga akhirnya. Bagaimana tidak mengaku, Syila enggan mengoleskan salep di punggungnya malam itu jika Zean masih saja berbohong.
Bukan main kesalnya Zean, dia mengumpat banyak sekali kala menyadari tubuhnya gatal-gatal akibat nekat mandi dan berbagi sabun di dalam penjara. Entah kudis atau kutu air, dia juga tidak paham. Namun, saat ini Zean tengah merasakan hal itu sampai Hudzai saja geli melihat punggung papanya.
"Tidurlah."
Syila terkesan dingin setelah Zean pulang. Wanita itu tidak banyak bicara, bahkan menatap saja tidak usai mengoleskan salep yang Syila dapatkan dari Mikhayla itu ke punggungnya. Syila tidak marah, sama sekali tidak.
Hanya saja, Zean yang melakukan hal gila semacam itu membuat Syila seakan tidak rela. Bukan berarti dia tidak memikirkan Zalina, tapi membayangkan bagaimana sang suami ada di sana Syila bahkan tidak naffsu makan.
"Sayang? Masih marah ya?"
"Sudah sana tidur, besok sahur."
Sahur, satu hal yang Zean lupa saat ini dia kembali bermalam di rumah orang tuanya. Tentu saja dia harus rela jam tidurnya diganggu lebih oleh sang papa.
"Aku sakit, Syila ... besok aku tidak puasa ya?"
"Ih apaan begitu, malu sama Zavia," ketus Syila mengusap kasar wajah Zean yang kini tampak putus asa karena gagal merayu sang istri.
"Tapi aku kan lelah, Syila ... kemarin aku olahraga loh di lapas, mana panas belum lag_"
"Udah sana tidur, atau kalau tidak aku tidur sama Zalina ya?" ancam Syila yang membuat Zean menurut seketika.
Suka sekali dia mengancam, setelah menjadi istri Zean mantan sekretarisnya ini kerap kali bertindak semaunya. Jika saja bukan karena sedang hamil, mungkin Zean tidak akan menuruti seluruh keinginannya.
"Syila ... kamu tahu tidak, Sean di sana tidurnya hanya beralas tikar dan bantal yang cukup keras."
__ADS_1
Zean kembali membuka goresan luka, padahal beberapa saat lalu Syila bahkan menangis akibat mendengar penjelasan Zean bagaimana dia yang menghabiskan waktu selama dua hari di sana.
"Lalu?"
"Di sana aku berpikir, membayangkan sesedih apa dirinya meninggalkan istri sejak awal kehamilan ... detik itu juga, aku mengingatmu dan benar-benar takut kehilangan kamu, Syila," tutur Zean panjang lebar.
Namun, bukannya mendapat jawaban yang lebih manis, Zean justru mendapatkan dengkuran halus dari sang istri. Secepat itu dia terlelap, mungkin karena memang sedang hamil hingga kerap tidak kuasa menahan kantuknya.
"Good night, my beloved wife ... love you."
Meski ditinggal tidur, Zean tetap bersikap manis dan kini merengkuh sang istri begitu erat. Dia benar-benar mencintai wanita ini, wanita yang merelakan seluruh hidupnya untuk Zean.
.
.
Rasanya baru juga tidur, mata Zean dipaksa terbuka kala mendengar suara menggema yang dia rasa semakin lama semakin keras. Ingin sekali dia memberontak, tapi sayup-sayup suara sang papa membuatnya sama sekali tidak bisa berkutik.
Ditambah lagi Hudzai yang ikut-ikutan meramaikan kegiatan rutin Mikhail dalam membangunkan anak cucunya. Zean meraba sisi kirinya, tampak kosong dan tidak lagi ada Nasyila di sana.
"Sahul, Papa sahul!!"
"Astaga ...."
"Bangun Papa!! Sahul cepet!!"
Suara Hudzai semakin menggema memenuhi kamarnya. Mata ngantuk Zean dapat melihat bagaimana Mikhail yang kini membawa pengeras suara bersama Hudzaifah dalam pelukannya.
"Sahur-sahur!! Istrimu sudah dibawah ... cepat turun keburu imsyak," ucap Mikhail masih dengan menggunakan pengeras suara layaknya calon kades yang tengah menyampaikan rencana kerjanya.
__ADS_1
"Ya Tuhan, Papa ... ini masih jam berapa? Toa itu? Ays!!" kesal Zean malas sekali, andai bukan papanya mungkin sudah Zean usir sejak tadi.
"Jam 04:15 masih ada waktu beberapa menit lagi, ayo cepat makan."
"Hah? Segitu mana cukup, Papa ... aku bisa mati besoknya," keluh Zean yang kini hidup segan mati tak mau.
"Papa tidak mau tahu, sudah cepat turun!!"
Terpaksa, jika Mikhail yang sudah bertindak bisa dipastikan ia tidak akan bisa tidur lagi. Suara sang papa tampak berpindah ke kamar kedua adiknya, bersama Hudzaifah yang terus berteriak dengan suara cadelnya.
Cepat-cepat Zean turun ke bawah, sampai lupa sikat gigi dan cuci muka dan kini duduk manis di meja makan. Syila yang tengah menyiapkan makan sahur di sana hanya tersenyum tipis melihat wajah ngantuk Zean, kasihan sekali sebenarnya.
"Kenapa masih belum mulai, Syila? Apa hanya aku dan mereka berdua yang belum?" tanya Zean menatap Syila dengan wajah bingungnya.
"Belum, Mama masih di kamar sepertinya."
"Hah? Ini memangnya sudah jam berapa?"
"Jam setengah tiga, memangnya kamu pikir jam berapa?"
"Euugh papa!!" kesal sekali rasanya Zean mendengar jawaban sang istri. Jika tahu masih jam segini, lebih baik tidur saja, pikirnya mengutuk Mikhail. Jangan lupa soal pengeras suara, toa keabadian itu masih ada di tangannya meski menuruni anak tangga.
"Kenapa bisa Mama menerima Papa yang semenyebalkan itu."
.
.
- Ekstra Part -
__ADS_1