Istri Rahasia Sang Presdir

Istri Rahasia Sang Presdir
Extra Part 02 - Firasat


__ADS_3

"Papa mau?"


Siang ini teriknya luar biasa, bukan puasa pertama, tapi cukup melelahkan. Ditemani putra tercintanya, Zean kini tengah duduk di tepian kolam dengan kaki yang menjulur ke dalam air. Tingkahnya diikuti Hudzaifah yang tiba-tiba duduk dengan membawa sepotong ice cream rasa vanila yang tentu akan sangat diterima tenggorokannya yang terasa mengering itu.


"Aaaa Papa."


"Puasa, Nak ... Hudzai saja," tutur Zean menatap lekat putranya yang semakin berisi itu.


Hudzai yang memang terbiasa memaksakan kehendak jelas tidak mau mengalah hingga memaksa Zean membuka mulutnya. Pria itu berteriak memanggil sang istri karena kini posisi Hudzaifah sudah duduk di atas perutnya dan terus memaksa agar Zean menerima pemberiannya.


Mikhail yang siang itu sedang berada di kediaman Zean bergegas mendekati putra dan cucunya. Baju Zean benar-benar tidak bisa diselamatkan lagi akibat lelehan ice cream putranya.


Hudzaifah yang awalnya meminta baik-baik berakhir dengan menangis karena kesal sediri. Akibat hal itu, Zean justru disemprot Mikhail dan dianggap tidak becus menjaga anak.


"Sama anak itu mengalah, Zean ... ngasuh anak saja tidak becus, jangan cuma bisa buatnya saja, paham?"


Hudzaifah seakan sengaja cari perhatian dan tangisannya dibuat-buat hingga Zean tidak habis pikir. Seolah mengerti jika kelemahannya adalah Mikhail, putranya menggunakan kesempatan itu untuk membuat Zean terkena getahnya.


"Astaghfirullah, Pa? Tidak becus apanya ... memang cucunya yang ber_"


"Halah sudah diam!! Papa tidak butuh penjelasanmu, intinya dia menangis titik."


Zean hanya bisa menghela napas panjang, saat ini memang dia seakan tidak berarti di mata Mikhail. Semua perhatian hanya tertuju pada Hudzai dan Hudzai, sejak anak itu dalam kandungan Zean memang sudah kalah.


"Sudah tua, nikah sampai dua kali jaga anak saja tidak bisa ... baru punya anak satu diajak bertengkar, Papa macam apa itu," omel Mikhail seraya meningglkan Zean perlahan.


"Dasar anak muda zaman sekarang, bujuk mamanya bisa, bujuk anaknya tidak," tambah Mikhail yang masih bisa terdengar oleh Zean.

__ADS_1


"Enyenyenyenyenyenyenye."


Tanpa sadar, bibirnya justru kurang ajar mengikuti gaya bicara Mikhail sembari melangkah meningalkan kolam itu. Jika saja Hudzai bukan putranya, mungkin sudah Zean gigit hingga menangis.


"Apa katamu, Zean?! Ulangi!!"


Zean terperanjat kaget kala Mikhail justru berbalik dan mengangkat telapak tangannya. Zean yang merasa terancam telapak tangan gempal itu akan mendarat di kepalanya segera mundur beberapa langkah.


"Puasa, Pa ... nanti bat_ iy-iya iya!! Maaf, Pa."


Zean yang khawatir benar-benar dihadiahi cap lima jari segera berlari ke kamarnya. Akibat terlalu tergesa-gesa, Zean hampir saja menabrak mertua. Secepat mungkin dia kembali ke kamar dan tempat berlindung terbaik adalah sang istri.


.


.


"Syila ...."


"Tidak apa-apa, bajuku kotor ... tolong siapkan, Sayang."


"Kamu berendam ya? Kan sudah dibilang sama Ustadz Hanan jangan nanti pahalanya berkurang," omel Syila yang ternyata juga menyerangnya kali ini.


"Bu-bukan, mana mungkin aku begitu."


Niatnya begitu mudah ditebak, pria itu memang sengaja duduk di tepian kolam lantaran tidak kuasa menahan panas yang diterima tubuhnya. Meski suhu udara di dalam rumah tidak begitu tinggi, tapi memang kesejukan air yang Zean cari.


"Bohong lebih dosa loh," tutur Syila tersenyum simpul dan memang merasa tingkah sang suami terlalu lucu untuk seorang pria dewasa seumurannya.

__ADS_1


"Hm ... besok tidak lagi, aku tidak tahan, Syila. Panas."


Siapapun tahu jika udara siang ini memang panas, tanpa perlu dijelaskan Syila sangat paham sekali. Hanya saja, sang suami yang merengek begitu sudah tidak seharusnya, karena kedua ponakannya saja tidak mengeluh menjalankan ibadah puasa.


"Itu kotor karena apa? Es krim? Kamu makan ya jangan-jangan?"


Hingga kini Syila masih sulit untuk percaya Zean. Hal ini adalah imbas dari perbuatan Zean yang makan tengah hari secara sembunyi-sembunyi pada saat puasa tahun lalu. Akhirnya, hingga kini Syila selalu menatapnya penuh keraguan.


"Tidak, ini akibat ulah Hudzaifah ... mana mungkin aku memakannya, kamu kira aku bayi atau apa?"


Memang bukan bayi sebenarnya, tapi dia seakan kehilangan kedewasaan. Kini saja dia meminta dipakaian baju dengan alasan hampir kehabisan tenaga usai melarikan diri dari sang papa. Sudah mau punya anak kedua, tapi sikap Zean masih sama.


"Terima kasih, Sayang ... aku benar-benar beruntung memilikimu, Syila."


Pria itu memeluk Syila cukup lama, melihat bagaimana Zalina kini, Zean benar-benar terbawa suasana dan setakut itu berjauhan dari Nasyila. Pria itu mengecup pelan perut Syila yang mulai terlihat, belum terlalu besar, tapi sudah bisa Zean rasakan.


Tatapan keduanya terkunci, hingga kala Zean mengikis jarak Syila menghalangi bibirnya dengan telapak tangan. Kebiasaan sekali, Zean begitu mudah terbawa suasana hingga dia lupa jika sedang berpuasa.


"Cuma cium, apa benar-benar tidak boleh?"


"Khawatir nanti justru lebih, sudah sana lepas ... handphone kamu berdering, sana angkat," tutur Syila mendorong pelan tubuh Zean yang kini masih memeluknya.


Malas sekali sebenarnya, tapi Zean mengingat perusahaan tidak dalam keadaan baik-baik saja, tentu dia tidak boleh pilih-pilih andai rekan bisnis menghubunginya. Namun, di luar dugaan yang menghubunginya bukan rekan bisnis atau lainnya, melainkan Kiyai Husain, mertua Sean.


"Mau apa abi menelponku?"


.

__ADS_1


.


- To Be Continue -


__ADS_2