Istri Rahasia Sang Presdir

Istri Rahasia Sang Presdir
BAB 43 - Hanya Bayangan


__ADS_3

Jadwal kepulangan mereka sebenarnya malam ini. Namun, Zean ssengaja mengulur waktu untuk menikmati suasana kota malam ini bersama sang istri. Anggap saja permintaan maaf lantaran sang istri menangisinya.


Begitu cepat mereka mengenal sedalam itu, Zean mengecup punggung tangan Syila berkali-kali selama perjalanan.


Syila terenyuh dengan perlakuan Zean, semakin hari dia semakin membuat Syila egois dan ingin memiliki pria ini seutuhnya. Mereka melangkah begitu pelan, menyusuri jalanan layaknya pasangan sederhana di sekelilingnya. Seumur hidup, sama sekali Zean tidak pernah merasakan hal ini.


"Wangi, kamu pakai parfum apa?" tanya Zean sejenak menghentikan aksinya, kemudian dia ulangi dan seakan tidak ada puasnya.


"Parfum murah," jawab Syila asal sebut demi menyindir Zean yang kerap kali membanggakan parfum mahalnya di hadapan Syila.


"Cih jawabanmu, kita mau makan dimana?"


Sulit sekali sebenarnya untuk Zean bisa bebas memadu asmara bersama istrinya. Status Zean yang merupakan suami Nathalia membuat ruang geraknya sangat terbatas, malam-malam begini dia harus keluar dengan topi dan juga hodie demi menghindari penglihatan fans Nathalia.


"Terserah," ucap Nasyila sebagaimana wanita pada umumnya, beruntung saja hal itu tidak membuat Zean naik darah.


"Tidak ada restaurant namanya terserah," jawab Zean santai masih terus menggenggam erat jemari mungil sang istri.


Tak berselang lama, keduanya memilih sebuah restaurant yang sekiranya aman untuk Zean membuka topi yang mengganggu sejak tadi. Ingin sebenarnya menikmati makan di luar sebagaimana pasangan lain, hanya saja Zean paham resikonya saat ini.


Zean menyisir rambutnya dengan jemari, sedikit acak-acakan dan hal itu kembali membuat Syila berdesir tak karuan. Jika Zean bicara cinta setiap detik, sepertinya dia yang terjerat pesona sang suami tanpa sadar.


"Kamu kenapa? Makanannya tidak enak?" tanya Zean mengerutkan dahi, sejak tadi Syila terus memandanginya dan hal itu sedikit membuat Zean merasa tampan berkali lipat.


"Ti-tidak," elak Syila secepat mungkin seraya memegang tengkuk lehernya, sebuah cara jitu untuk menghilangkan kegugupan ala Syila.


"Masih kangen ibu?"


Zean bermaksud lain, sama sekali bukan ke arah sana. Melainkan dia tengah mengejek sang istri yang tadi menangis sesenggukan akibat melihat unggahan Nathalia. Benar dugaan Syila, hal itu menjadi senjata andalan Zean hingga dia tidak berkutik setelahnya.


"Apasih."


"Hahaha, kenapa sesulit itu mengakui kalau memang cemburu? Hm?"

__ADS_1


"Aku bukan cemburu," sentak Syila semakin sebal saja, memang benar seharusnya kalau makan jangan melihat kemana-mana selain makanan di hadapan kita.


"Terus apa?"


"Entah, yang jelas bukan cemburu."


Zean tidak perlu berdebat untuk menunjukkan kemenangannya, bukti jika sang istri memang cemburu sudah sangat jelas tadi sore. "Kenapa dia semakin menggemaskan cemberut begitu?"


Sedetikpun Zean tidak melepaskan sang istri dari pandangannya. Demi apapun dia benar-benar betah, sejenak pria itu mengingat ucapan sang kakek setiap bersama Syila. Sebaik-baiknya wanita adalah dia yang ketika dipandang, kita merasa betah dan ingin terus bersamanya.


Sejak dahulu dia ragu jika wanita mampu membuat enggan beranjak sebentar saja. Namun, hal itu terpatahkan kala Syila hadir dalam hidupnya. Entah sejak kapan mata Zean betah memandangi wanita itu, akan tetapi seingat dia sejak Syila masuk dan memperkenalkan diri didampingi Yudha, hati Zean sudah merasakan hal berbeda.


Berulang kali dia tepis, bahkan berusaha lebih kasar dibandingkan sekretaris sebelumnya perasaan Zean tetap sama. Hingga, ketika malam itu dia melihat dengan nyata Syila mengenakan pakaian minim dan hendak menyerahkan diri pada Rio, perasan Zean semakin menggebu dan dia tidak terima.


"Zean."


Lamunannya buyar, sedetik dia sadari jika cinta itu sebenarnya sudah ada sejak lama. Namun, hati dan jiwanya masih menolak jika perasaan itu adalah cinta. Bahkan, ketika malam pertama dia masih berpikir jika memang sama sekali tidak ada cinta, dia yakin menyentuh Syila memang hanya dengan naffsu, tapi fakta sebenarnya tidak begitu.


.


.


Sudah dia siapkan sejak kemarin, sengaja membelinya untuk dia berikan sebagai hadiah setelah menikah. Tanpa basa basi, Zean memang bukan pria yang pandai merayu sebenarnya.


"Semoga pas di jemarimu, aku cuma kira-kira sewaktu membelinya," ungkap Zean usai memasang cincin bermatakan berlian itu di jemari Syila. Tampak sederhana, tapi Syila yakin betul gajinya setahun tidak akan mampu membeli benda ini.


"Zean ini ... berleb_"


"Shuut, aku tidak terima protes ... itu untukmu, dan satunya untukku. Ayo pakaikan," titah Zean pada Syila hingga wanita itu membeliak, dia gemetar begitu mendengar perintah suaminya.


"Kamu bunuh diri? Bagaimana sampai orang-orang sadar?"


"Cincin pernikahanku bersama Nathalia sudah kubuang, bentuknya sama jadi tidak akan ada yang curiga," ujar Zean tegas, tapi tetap saja perasaan Syila campur aduk dan tidak bisa mendefinisikan keadaan saat ini.

__ADS_1


Syila tidak segera mengikuti sang suami, dia menunduk dan menggeleng pelan. Untuk pertama kali, dia menolak permintaan sang suami secara terang-terangan. "Aku tidak bisa, Zean ... kita keterlaluan kalau sudah begini."


"Kenapa?" tanya Zean serius dan hatinya merasakan sakit akan penolakan Syila.


"Jangan buat dirimu jadi penjahat, berbohong pada Nathalia bahwa cincin ini adalah cincin pernikahan kalian sementara pasangannya ada di jemariku ... kelewatan, Zean."


"T-tapi kamu memang istriku."


"Istri rahasia, jangan memaksa diperlihatkan karena kenyataannya aku memang bayangan."


Bak terhunus ribuan anak panah, Zean kehilangan kata-kata. Dia menatap tajam sang istri tanpa berkedip dan merasakan sakitnya luar biasa. "Maksudmu apa?"


"Aku akan terima cincinnya, jika yang pakai hanya aku ... aku tidak ingin kebohongan suamiku terlalu besar, nantinya kamu yang dianggap hina dan berdosa. Saat ini, pasangan kamu berdasarkan cincin adalah Nathalia, bukan aku."


Percayalah, Zean ingin meraung saat ini. Dia memejamkan mata kemudian menggenggam erat jemari Syila. "Secepatnya, kita akan menjadi pasangan berdasarkan segalanya, Sayaang. Agama, Negara, Cincin atau apapun itu, hanya kamu, Nasyila."


Syila bungkam, dia masih terkejut dengan jawaban Zean. Pria itu menangis di hadapannya, Zean terlihat lemah. Hingga, air matanya perlahan terhenti kala panggilan dari sang papa masuk tanpa dia duga. Mata Zean membola, dia terlihat panik dan memastikan keadaan di sekelilingnya.


"Apa? Hotel?!"


Syila tampak bingung, dia mengikuti langkah sang suami yang tiba-tiba hendak beranjak tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya. "Zean tunggu!! Ada apa sebenarnya?"


"Papa ... Papa di Bandung dan sekarang ada di Hotel tempat kita menginap," ucap Zean dan hal itu sontak membuat mata Syila ikut membola. Pikirannya mendadak kacau, sama seperti Zean yang kini tampak kebingungan dengan keadaannya.


"Te-terus gimana?"


"Mau gimana lagi, temui saja," jawab Zean berusaha tenang walau sebenarnya napas pria itu sama sekali tidak teratur saat ini.


"Ya Tuhan, ada apa papanya kemari? Apa mungkin kehadiranku sebagai orang ketiga sudah sampai ke telinga mereka?"


.


.

__ADS_1


- To Be Continue -


__ADS_2