
Seperti yang Zean rencanakan tadi pagi, saat ini dia bersama sang istri tengah dalam perjalanan menuju rumah sakit. Masih bersama Bastian yang dengan setianya mengemudi amat pelan atas perintah Mikhail.
"Om Babas, kapan sampainya kalau jalannya begini?"
"Saya hanya mengikuti perintah tuan besar," jawab Bastian kembali fokus melaju dengan kecepatan luar biasa rendah, dia juga menjaga jarak aman dari beberapa pengendara lainnya.
"Huft, aku tidak separah itu, Om. Cepat sedikit tidak masalah, lagipula papa tidak akan tahu," protes zean merasa dirinya tidak perlu diperlakukan layaknya pasien stroke.
"Maaf, Den ... Nona muda sedang hamil, jadi saya harus hati-hati."
Zean meneguk salivanya, sejak tadi dia salah sangka. Bastian yang begitu pelan ternyata mengutamakan keselamatan istrinya yang tengah hamil, bukan dirinya yang juga terluka.
Ingin cemburu, tapi saingannya istri sendiri. Zean hanya bisa menghela napas pelan, tampaknya Mikhail akan mengutamakan Syila lebih darinya setelah ini.
"Oh begitu."
Jika ditanya bagaimana perasaan Zean saat ini, jujur saja dia sedikit malu lantaran sudah terlalu percaya diri sementara yang tengah diprioritaskan Mikhail adalah istrinya. Pria itu menatap Syila yang juga tengah menatapnya.
"Om Babas kenapa sejujur itu, kulit pangsit ini pasti sedang mengejekku."
Pikiran Zean semakin buruk kala Syila tertawa sumbang sembari memukul pundaknya berkali-kali. Persis siswa baru yang tengah dibully, Zean hanya bisa diam dan membiarkan istrinya tertawa pagi ini.
Beberapa saat dia biarkan, sampai Syila puas tertawa hingga keluar air mata. Zean yang menatapnya datar sontak membuat Syila berhenti, seketika suasana di mobil mendadak suram dan dingin menusuk persendian Syila.
"Sudah? Puas?"
"Ehem, sudah," jawab Syila polos kemudian sedikit bergeser demi menghindari tatapan maut Zean.
Namun, tangan Zean terlalu cepat menarik pinggang Syila hingga jarak keduanya kembali terkikis. Zean meraih dagunya, hingga semakin lekat dia memandangi manik indah Nasyila.
"Kamu tidak lupa apa yang paling aku tidak suka, 'kan?"
"Maaf, aku tidak bermaksud ... t-tapi memang lucu."
Sadar betul ke arah mana pembicaraan Zean, wanita itu mendadak was-was. Dia mencari perkara bersama pria ini, padahal sejak awal sudah dia sadari jika Zean tidak suka menjadi bahan candaan.
__ADS_1
Terlambat, kata maaf Syila sama sekali tidak berguna untuk saat ini. Syila yang paham betul suaminya tidak semudah itu luluh, tanpa pikir panjang mengecup singkat bibir Zean.
Hanya menggoda, bahkan tidak ada suaranya. Syila khawatir lantaran saat ini mereka tidak sedang berdua saja. Akan tetapi, Zean tidak berpikir kesana dan dia menahan tengkuk sang istri hingga Syila sama sekali tidak bisa menghindar kala Zean justru membalas dengan ciuman yang lebih serius.
Tanpa memedulikan Bastian yang batuk di depan sana, Zean tetap melanjutkan aksinya. Tanpa melepas pagutan keduanya, pria itu menelusuri punggung sang istri begitu pelan.
Tidak hanya berhenti di sana, Zean kembali melanjutkan dan tanpa Syila sadari tangan suaminya sedang berusaha menelusup masuk ke bajunya. Syila yang mulai terengah-engah, mendorong dada Zean agar segera menjauh.
"Hahaha sudah biasa, kenapa masih sesak begitu."
Sama sekali Syila tidak berbohong, sekalipun sudah biasa tetap saja sulit mengimbangi Zean yang selalu menggebu. Wajahnya merah padam menahan malu dan amarah, mungkin setelah ini Syila tidak akan memiliki keberanian untuk berbicara bersama bastian secara tatap muka.
Lebih memalukan lagi, Zean terang-terangan meminta tisue pada Bastian. Lipstik Syila berantakan akibat ulah Zean, memang tidak separah itu, tapi tetap saja butuh benda itu untuk membersihkannya.
"Tisue basah saja, Om ... ini tidak mempan," ucapnya kembali meminta dan memang benar-benar tidak malu sedikitpun.
Herannya, Bastian juga terlihat biasa saja dan tidak terkejut dengan tingkah majikannya. Apa mungkin pemandangan semacam ini sudah biasa dia saksikan, pikir Syila.
"Ada, Den ... nih, tinggal satu tapi."
Zean kembali membersihkan noda lipstik yang keluar dari garis bibir Syila di sana. Meski istrinya kini cemberut, sama sekali Zean tidak berpikir untuk meminta maaf.
"Lipstikmu berapa harganya? Setiap ciuman luntur," omel Zean sesantai itu, Syila mencubitnya demi membuat Zean sadar. Akan tetapi tampaknya rasa malu pria itu sudah terkikis sejak lama.
"Lupa ... tapi aku belinya tidak murah, dulu aku pakai itu awet seharian," balas syila tidak ingin kalah dari Zean yang selalu mengomel perkara benda mungil dari brand favoritnya itu.
"Kapan tahan seharian?"
"Ya dulu, waktu masih kuliah, kerja juga aku masih pakai brand yang sama ... awet kok."
"Wajar, saat itu bibirmu masih mubazir, sekarang sudah berbeda jadi ganti dong, Sayang."
Ya Tuhan Zean, demi apapun ingin sekali Syila meraung saat ini. Percayalah Syila seakan tidak punya harga diri lagi, usai membersihkan bibir Syila, pria itu merapikan rambut sang istri yang memang sedikit berantakan.
Selang beberapa lama, mereka kini tiba dan Bastian ikut turun mendampingi pengantin baru itu. Sebagaimana yang Mikhail katakan, Bastian harus menjaga pasangan itu dengan baik.
__ADS_1
.
.
"Yudha, are you ok_ Heh? Kenapa anak itu ada di sana?"
Betapa terkejutnya Zean kala melihat Lengkara sudah duduk manis di sisi ranjang Yudha. Dia pergi sendiri, tanpa Sean ataupun Ameera. "Kak Zean?"
"Kamu, kenapa bisa ada di sini?"
"Apa salahnya jenguk orang sakit."
Lengkara kemudian beranjak dan pamit meninggalkan Yudha. Mulut menyebalkan Lengkara masih bertahan dan itu membuat Zean ingin sekali menarik rambutnya.
"Yudha, bagaimana keadaanmu? Kau ingat aku, 'kan?"
"Baik ... iya, ingat, Pak."
"Syukurlah, apa yang kau rasakan saat ini?"
"Saya seperti sedang bermimpi, tubuh saya melayang dan dia tersenyum ... ini menyenangkan, aku suka sekali."
Raut wajah Zean sontak berubah, dia menatap Syila dan Bastian bergatian. Setelah itu dia menatap ibunda Yudha yang terlihat lebih segar di sana, wanita itu tersenyum mendengar putranya bicara meski masih begitu pelan.
"Bu, dokter bilang apa? Otaknya baik-baik saja, 'kan?"
"Ibu juga tidak begitu paham, tapi kata Dokter Yudha baik-baik saja."
"Aneh, apa mungkin ada benda asing masuk ke otaknya?" gumam Zean pelan sekali bahkan setengah berbisik sembari memerhatikan Yudha yang masih berbaring di sana.
"Maksud Bapak saya gila?"
.
- To Be Continue -
__ADS_1