Istri Rahasia Sang Presdir

Istri Rahasia Sang Presdir
BAB 48 - Tidak Semudah Itu


__ADS_3

Zean melaju dengan kecepatan tinggi, dia sebahagia ini dengan harapan sebentar lagi akan terlepas dari pernikahan semacam itu. Rasanya, lebih bahagia dari sekadar membawa kabar baik untuk sang papa.


Hingga, ketika mobilnya mendadak berhenti tiba-tiba dan hal itu membuat Zean kesal seketika. Entah kenapa harus rusak di saat ini, keadaan mendesak dan dia yakin sang papa tengah menunggu kabar darinya.


"Ck, rusak apanya?"


Zean sama sekali tidak bisa menyelesaikan masalah semacam ini. Dia memang pintar, tapi tidak semua hal Zean mampu hingga dia mencoba memastikan walau sebenarnya tidak mengerti sama sekali.


"Ehem, rusak apanya?"


Di tengah dirinya yang tengah sibuk, suara berat seorang pria menghampiri dan kini berdiri di sampingnya. Zean menyadari bau tak sedap dari pria di sampingnya, hingga pelan-pelan dia melangkah menghindari pria itu tanpa bermaksud menyakiti hatinya.


"Entahlah, aku tidak menger_ Sean?"


Baru saja hatinya merutuki bau tak sedap dari pria itu, kini mata Zean dibuat mengembun ketika melihat saudara kembarnya. Keadaannya benar-benar berbeda, penampilan Zean 180 derajat dan tidak dapat Zean bayangkan berapa lama pakaian pria itu tidak dicuci.


"Kau masih manja ternyata? Soal begini saja tidak bisa, Zean."


Tidak peduli dengan keterkejutan saudaranya, Sean segera memeriksa mobil Zean yang berhenti mendadak tidak jauh dari bengkel tempatnya bekerja. Yah, kematian Ibra membuatnya kembali dan mencari pekerjaan sesuai dengan bidangnya.


Paham betul mengapa ekspresi wajah saudaranya begitu, mungkin saja terkejut lantaran perubahan diri Sean. Apalagi, dirinya yang bermandikan keringat dan oli jelas saja menimbulkan tanya di benak Zean.


"Berapa lama kau tidak mandi, Sean?"


Bukan itu sebenarnya yang ingin dia tanyakan, akan tetapi hidung Zean yang terlanjur sensitif tiba-tiba bertanya hal semacam itu, beruntung saja Sean tidak terlalu peduli dan memilih fokus untuk memperbaiki kerusakan di mobil Zean.


Beberapa pertanyaan dari Zean sama sekali tidak dia jawab, hingga ketika selesai barulah dia menyeka keringat. Melihat ekspresi Zean, dia berinisiatif mengusap wajah Zean dengan telapak tangan kotornya. Sontak hal itu membuat Zean yang tidak terbiasa dengan hal kotor sedikit saja menjauh seketika.


"Cih, aku sekotor itu kah, tuan muda?"


"Apa maksudmu, aku tidak bermaksud begitu."


Setiap bertemu Sean, pria itu paham sekali kemarahan dan dendam begitu menyala di mata saudaranya. Entah sehancur apa mentalnya hidup di luaran tanpa selembar uang sang papa. Membanyangkannya saja, hati Zean terasa sakit.


"Kau ada di sini, kenapa tidak pulang saja, Sean?"


"Tidak ada tempat untukku pulang, Zean. Papa lebih mencintai kekayaan dan menantu bak bidadarinya itu," ucap Sean menghembuskan asap rokok yang sejenak menjadi penenangnya.


"Bidadari ... di matamu dia bidadari?"

__ADS_1


"Bukankah gelarnya begitu? Istri Zean Adreatama bukanlah manusia, melainkan bidadari," ejek Sean mengingat bagaimana cara media memuja seorang Nathalia sebagai wanita dibalik suksesnya Zean di usia muda.


"Terserah kau lah, Sean."


Dia yang tadi mempermasalahkan bau badan Sean, tampaknya mulai terbiasa dan kini memilih duduk di sebelah saudaranya. Perbedaan mereka sungguh nyata, bak langit dan bumi. Sean lagi-lagi tertawa sumbang dengan keadaan ini.


"Kehidupanmu bagaimana? Apa baik-baik saja?"


"Off course, seperti yang kau lihat ... aku masih bisa makan tanpa uang Papa," jawabnya tanpa sedetikpun melihat ke arah Zean.


"Beberapa waktu lalu Nathalia mengira aku ke club malam ... itu pasti dirimu, 'kan?"


"Iya, mungkin."


Sean terlihat dingin, memang begitu caranya bicara. Selain dingin, pria ini juga lebih tidak berotak dibandingkan Zean. Entah siapa yang menjadi penyebab Zean marah, Mikhail atau dirinya.


.


.


"Pernikahanmu bagaimana? Papa belum tahu ulahmu?"


Sean terdiam sesaat, rokok yang tadinya masih menyala tiba-tiba dia genggam dan hal itu sontak membuat Zean meneguk salivanya pahit. Apa tidak panas, pikir Zean bingung sendiri.


"Lalu istri pertamamu bagaimana?"


"Aku akan menceraikannya, wanita murrahan itu lebih bejjat dari yang kukira ... tidak hanya aku yang dia bohongi, tapi Papa dan juga penggemarnya."


Ini menarik, Sean mengerutkan dahi dan meminta Zean menjelaskan duduk perkaranya. Sejak awal pertikaiannya dengan Mikhail, Sean sudah melimpahkan kesalahan pada Nathalia. Mendengar semua penuturan Zean, rasa sakit dan dendam yang sejak kemarin menjalar kini kian subur saja.


"Keparat!! Kenapa tidak kau katakan padaku?"


"Aku baru tahu, Sean."


"Nathalia adalah penyebab dunia kita jungkir balik begini, Zean ... andai saja wanita itu tidak lahir ke dunia, Papa tidak akan mengacaukan kita saat itu."


Sean sudah mengalah, dia memilih pergi dari keluarga Megantara dan tidak pernah berpikir kembali lantaran mengira pernikahan saudaranya memang baik-baik saja. Nyatanya, lebih buruk dari yang dia kira dan hal ini jelas membuat Sean marah besar.


"Isi perjanjian konyol itu masih berlaku?"

__ADS_1


"Iya, untuk itu aku berusaha mencari alasan untuk bisa berpisah tanpa menyebabkan kehancuran perusahaan, Sean."


"Jika kau yang menceraikannya, maka akan percuma ... kau tidak tahu selicik apa dia dan Halim keparat itu. Apalagi pernikahan mereka tidak dapat kau buktikan hanya dengan foto-foto dan pengakuan sahabatnya, Zean."


Mungkin jalan Zean sudah terdengar paling logis, akan tetapi setelah mendengar ucapan Sean dia sejenak berubah pikiran. Masih teringat jelas bagaimana Halim turut serta menjadi penghalang ketika dia ingin berpisah kala itu dari Nathalia.


"Lalu bagaimana, Sean? Jika menunggu dia yang menggugatku, maka tidak akan pernah terjadi."


Sean tersenyum miring, otak cerdiknya mulai menjalar kemana-mana hingga menciptakan jalan sendiri tanpa membuat Zean menjadi penjahat di sini.


"Tidak sulit membuat wanita lelah dan menyerah terlepas dari apapun alasan dia memilikimu, apalagi dengan aib dia yang ada di tanganmu ... jangan terlalu mudah melepaskannya, jadilah pendendam dan balaskan semua kebohongan Nathalia selama ini. Kau lihat, aku bahkan harus kerja dengan cara ini karena dia masuk ke keluarga kita."


"Apa yang kau rencanakan sebenarnya, Sean?" tanya Zean datar dan dia dapat memahami ada sesuatu yang pria ini tata dalam pikirannya.


"Kau sepertinya payah dalam hal ini, serahkan saja padaku ... berikan aku waktu untuk membuat Nathalia menyerah dengan sendirinya. dengan cara yang begini tidak ada drama Halim sakit jantung, Zean."


"Maksudmu? Tukar posisi?"


"Iya ... anggap saja balas budi, kau sering membantuku mengerjakan ujian waktu itu."


"Awas saja sampai kau sentuh," ucap Zean dan hal itu sontak membuat Sean berdecak sebal.


"Senakal-nakalnya aku, seleraku tetap tinggi, Zean ... seperti Syila contohnya."


"Keparat kau."


"Hahaha memang aku keparat, Zean."


"Papa bagaimana? Apa dia perlu tahu rencana kita?" tanya Zean kemudian, secara alami hatinya mendadak berpihak dan percaya pada Sean.


"Jangan sepenuhnya, katakan saja niat awal bahwa kau ingin membuat Nathalia yang menggugat ... Papa terlalu percaya diri perceraian itu akan diterima Halim, otak bisnis pria itu tidak mungkin mau rugi," ujar Sean menghela napas panjang, dia tengah meratapi kebodohan sang papa yang diperdaya harta hingga membuat Zean terjebak saat ini.


.


.


- To Be Continue -


*Ini adalah salah satu saran dari pembaca yang aku pertimbangkan sejak kemari*n dan aku sesuaikan tempat yang pasnya. Pada gamau kan Zean jadi pelaku di sini?

__ADS_1


Semoga masih bisa dinikmati, dan kehadiran Sean diterima dengan baik di sini.


__ADS_2