
Uang bisa dicari, ilmu bisa dikejar. Akan tetapi, kesempatan untuk berbakti pada orangtua tidak akan datang kedua kali. Syila tidak ingin hidupnya sia-sia, bagaimanapun keadaan ibunya saat ini sangat dia syukuri karena masih diberikan Tuhan kesempatan untuk menatap matanya.
Setelah beberapa hari di rumah sakit dan kondisi Zulia mulai stabil, Zean mengabulkan keinginan istrinya untuk merawat Zulia sendiri. Bukan sekadar takut sulit melahirkan sebagaimana yang Nyayu katakan. Namun, Semua yang Syila lakukan semata-mata tulus demi membuat ibunya tersenyum. Seburuk apapun Tuhan memberikan takdirnya, saat ini Syila masih diizinkan melihat senyum Zulia.
Wanita itu memang tidak bisa mengungkapkan kata sayang ataupun kerinduan selama dia membuka mata. Hanya saja, tatapan teduh sang ibu sudah menjelaskan apa yang dia rasa.
"Ibu, Syila hamil tahu ... baru masuk empat bulan, sebentar lagi keluarga kita lengkap, ibu bakal punya cucu jadi tidak perlu datangin rumah bu Leti buat lihat bayi."
Syila tengah berusaha memberikan semangat untuk ibunya bisa bertahan hidup lebih lama pagi ini. Apa yang Zulia alami memang cukup sulit dan seperti yang dokter katakan bahwa harapan Zulia sembuh total sangat kecil sekali.
Sejak dahulu memang sudah lemah, jantungnya bermasalah dan penyakit itu sangatlah serius. Penderitaan Zulia bertambah dua kali lipat setelah Nyayu membuat Syila seakan wanita paling hina.
Tidak bisa dipungkiri, sejak lama Zulia sudah pesimis dengan kehidupan. Sebelum Syila membawa Zean ke hadapannya, Zulia hanya meminta putrinya segera menikah karena tidak ingin meninggalkan Syila dalam kesendirian.
Syila sudah mengabulkan harapan itu, keinginan sang ibu yang dulunya terdengar teramat mustahil untuknya. Saat ini, dia hanya ingin egois sedikit saja, berharap Tuhan akan baik padanya sekali lagi.
Tidak ingin Nyayu kembali menjadi duri di antara mereka. Zean membayar dua orang perawat khusus untuk membantu Syila di rumah. Selain karena tidak ingin Nyayu ikut campur dengan alasan ingin melakukan hal yang sama seperti Syila, Zean juga tidak ingin menyiksa diri. Bukan egois atau bagaimana, tapi jika tidak begitu, kemungkinan waktu untuknya jelas akan berkurang.
.
.
Pagi ini sudah cukup untuk menjelaskan waktu Syila sedikit terbagi. Pria itu melangkah masuk dan melihat Syila tengah mengajak Zulia bicara. Tanpa menunggu dipanggil lebih dahulu, Syila beranjak kala menyadari Zean mencarinya.
"Sus, titip Ibu ya."
Syila menghela napas panjang seraya menarik pergelangan tangan Zean ke luar. Tampaknya dia mengabaikan Zean tanpa sengaja, sejak menikah kewajiban Syila memang dimulai sejak Zean membuka mata.
Terdengar sedikit menyebalkan memang, tapi menyiapkan air hangat untuk pria itu mandi dan memilihkan baju untuk bekerja setiap harinya adalah hal yang Syila sukai. Sementara di sisi lain, Zean menjadi ketergantungan dengan kebiasaan istrinya.
__ADS_1
"Kamu belum mandi?"
"Airnya belum siap bagaimana?"
"Astaga, aku lupa ... tapi, 'kan bisa siapin sendiri, Sayang."
Zean tidak menjawab, dia juga bingung sebenarnya kenapa sesulit itu. Padahal, hanya sekadar mandi apa susahnya. Namun, bagi Syila hal semacam ini bukan masalah. Dia memahami posisi Zean sebagai suami yang diabaikan selama empat tahun lamanya.
Sikap Zean yang begini justru membuat Syila berbanggga diri, setidaknya kemungkinan Zean berpaling akan sedikit. Dia yang mengekor di belakang punggung Syila tetap bungkam tanpa mengucapkan apa-apa.
Jika saja bukan Zulia alasannya, mungkin Zean akan marah. Hanya saja, dia benar-benar sadar diri dan tidak seharusnya marah di posisi ini. Terlalu kekanak-kanakan memang, padahal dulu sewaktu remaja dia bahkan risih jika Zia masuk ke kamarnya untuk membangunkan Zean di pagi hari.
Tiba di kamar, mata Syila kembali dibuat sakit dengan selimut dan bantal yang bertebaran di segala sisi. Syila berusaha meminta penjelasan Zean, apa maksudnya sampai berantakan persis kapal pecah begitu.
"Ta-tadi cari celana, hilang."
Cari celana, tapi sprei juga sampai berantakan. Bahkan jika tempat tidur itu tidak berat, mungkin sudah pindah posisinya, pikir Syila.
"Ya namanya manusia, lagipula kalau malam mana ingat kulempar kemana." Tidak mau kalah tentu saja, dia bukan pria yang rela mengalah jika soal adu mulut.
"Ya tapi kenapa sampai begitu? Aku rasa cukup cari di bawah selimut ... Kenapa harus lempar guling sampai ke pintu kamar mandi."
Kebiasaan suaminya yang asal lempar jika sedang kesal sangat terbaca sekali. Syila bisa saja mempermasalahkan hal ini, hanya saja mengingat jika pagi ini adalah salah dia, terpaksa Syila mengalah dan merapikan tempat tidur lebih dulu.
Zean yang merasa bersalah, memunguti bantal-bantal yang dia lempar sebagai pelampiasan akibat terlalu lama menunggu Syila. Istrinya masih diam, tapi dia tidak protes ketika Zean membantunya.
"Sayang, ini gulingnya satu lagi."
"Benerin talinya, kenapa bisa jadi terbuka begitu."
__ADS_1
Zean gigit beberapa waktu lalu, dia yang memang sedikit tidak bisa mengontrol diri kerap kali melakukan hal gila tanpa sadar.
"Sudah."
"Ini juga, aku nemu di bawah kolong tempat tidur."
Kegiatan Syila terhenti, wajahnya memerah kala melihat apa yang Zean serahkan tepat di hadapannya. Di antara banyak benda di kamar ini, kenapa bisa sesuatu yang paling privasi ada di bawah sana.
"Ambil, kotor sepertinya ... mungkin sudah berbulan-bulan dia di sana."
"Memalukan, kenapa aku tidak periksa lebih teliti, wajar saja yang warna merah berkurang satu."
"Hm, iya."
Susah payah Syila bersikap biasa saja, padahal dia tengah malu luar biasa lantaran underwear miliknya Zean temukan di bawah sana. Dia yang tadi sempat mengomel dan mengatakan Zean pikun adalah alasan utama wajahnya memerah saat ini.
"Mulai pikun ya, barang pribadi saja sampai lupa dimana tempatnya."
"Itu karena kamu yang lempar," jawab Syila sebelum kemudian berlalu ke kamar mandi.
Yah meskipun sedikit kesal, tetap saja kewajibannya harus dilakukan. Dia hendak menyiapkan air untuk paduka Zean, tapi belum apa-apa pria itu sudah mengekor dan melingkarkan tangan di perutnya.
"Hangat seperti biasa ya, Sayang ... suamimu ini kedinginan."
"Besok-besok mandi pakai air keras saja, Zean."
.
.
__ADS_1
- To Be Continue -