Istri Rahasia Sang Presdir

Istri Rahasia Sang Presdir
BAB 99 - Mendekatlah


__ADS_3

Malam menjelang, Syila yang sejak tadi terdiam menatap teliti Nathan yang duduk santai membelakanginya. Sejak tadi pria itu tidak menjauh sedikitpun, bahkan Syila yang berubah posisi saja bisa dia sadari.


Niat Syila untuk mendaratkan gelas di kepala Nathan jelas saja hanya sebatas khayalan semata. Mana mungkin dia berani melakukan hal semacam itu, selain karena khawatir terluka, dia juga sangat risih dengan tatapan tak terbaca yang Nathan tujukan padanya.


"Nasyila boleh aku bertanya," ucap pria itu tiba-tiba di saat Syila sedang susah payah bersikap senang.


"Apa?"


Sejak tadi Syila dibuat ngilu dengan pisau yang Nathan pegang seakan tengah memastikan bagaimana ketajamannya. Meski tidak dia arahkan kepada Syila, tetap saja wanita itu berdebar hingga keringat dingin mengucur di tubuhnya.


"Kau takut padaku?"


Pria itu masih juga bertanya, orang gila mana yang tidak ketakutan jika berada di posisi ini. Demi apapun ingin sekali Syila mencaci Nathan dengan kalimat kasarnya, hanya saja dia paham jika sampai nekat bisa jadi pria itu melakukan hal yang tidak-tidak dan dia hanya berusaha menjaga diri.


"Kau tahu, Zean adalah pria paling lemah yang pernah aku temui ... tapi anehnya, dia bahkan menghancurkan keluargaku tanpa sisa. Bukankah hal seperti itu termasuk licik?"


Nathan berpindah duduk di tepian tempat tidur dan itu membuat Syila bergidik ngeri. Meski tidak ada tatapan tajam ataupun ancaman yang dia lontarkan, tapi demi Tuhan Syila sangat amat tidak nyaman.


"Licik katamu? Kau yang licik, dimana letak nuranimu menculik wanita lemah sepertiku?"


"Nuraniku? Entahlah, tapi kurasa masih ada ... aku bisa saja melakukan hal yang membuatmu lebih baik mati setelahnya, tapi aku memilih untuk tidak melakukan itu. Walau, jujur saja kau menarik memang," ucap Nathan seraya mengedipkan matanya.


Mendapatkan perlakuan semacam ini dari pria yang bukan suaminya membuat Syila merasa terhina. Dalam hatinya menjerit memanggil sang suami yang hingga saat ini belum datang juga.


"Jangan macam-macam, suamiku tidak akan mengampunimu!!" hardik Syila beranjak dan mundur beberapa langkah, sejak tadi dia diam tapi pria ini semakin menjadi.

__ADS_1


"Benarkah? Suamimu tidak sekuat itu, bahkan Sean saja tidak mampu, apalagi anak mama seperti Zean ... aku sedang berpikir, mungkin saat ini dia sedang menangis menjadi jalan keluar untuk menemukan kita berdua."


Nathan benar-benar tidak melepaskannya walau sejenak. Sebagai wanita, Syila sangat paham tatapan itu mendambakannya. Tapi, sebisa mungkin Syila bersikap tenang walau sebenarnya sudah kacau sejak tadi.


Melihat Nathan yang terus mendekat, Syila mempercepat langkahnya. Hingga, pria itu tiba-tiba menarik pergelangan tangannya, Syila yang tidak punya persiapan membentur dada bidangnya.


"Di belakang banyak pisau, tanganmu bisa luka."


Wajah Nathan masih santai bahkan tersenyum seperti sebelumnya, hanya saja Syila merasakan jika memang maksud Nathan menariknya adalah karena di dia hampir membentur meja tempat dimana Nathan menata senjata tajamnya.


.


.


Selang beberapa lama, teriakan seseorang yang familiar dan seketika mengubah raut wajah Syila terdengar. Sontak Syila menghempas tangan Nathan dan menuju jendela yang ada di sisi kamar.


"Bodoh!! Sudah kukatakan jangan sendirian!! Dia akan membunuhmu, Zean!! Pergi, pulang sekarang!!"


Belum selesai dia bicara, Nathan melingkarkan tangan di perutnya dan hal itu terjadi tepat di depan mata Zean. Jelas saja pria itu naik darah, napas Nathan seakan menusuk kulit Syila hingga wanita itu memilih bungkam seketika.


"Kenapa memintanya pergi? Kau ingin hidup bersamaku di sini?"


Tidak seperti tadi yang tanpa mengancam, Syila tidak dapat berkutik kala dia merasakan pisau yang kini Nathan pegang tepat di tangan kanannya. Sekali saja dia berkehendak, maka perut Syila yang akan menjadi sasarannya.


Mata Syila tetap terpejam kala mendengar pintu kamar dibuka paksa dari luar. Zean benar-benar keras kepala, dia nekat masuk sendirian tanpa siapapun di sisinya.

__ADS_1


"Nathan!! Lepaskan istriku!!"


"Tepat waktu juga kau ternyata, kau ingin istrimu?" tanya Nathan tersenyum tipis dan masih dengan memeluk Syila, terlihat menakutkan tapi sama sekali dia tidak menyakiti Syila sebenarnya.


"Iya, sesuai perjanjian ... kau ingin harta keluargamu kembali, 'kan?"


Pria itu mengangkat kedua tangannya, seperti yang Nathan mau, dia harus datang dengan tangan kosong dan tidak membawa siapapun. "Mendekatlah, rebut dia dariku."


"Lepaskan dia, Nathan!!"


Bukannya melepaskan Syila, Nathan seolah sengaja merengkuh tubuh wanita itu dengan wajah menyebalkan hingga pada akhirnya dia kehilangan kendali pada akhirnya.


"Cari mati, kau memang sakit sepertinya!!"


Ini yang Nathan inginkan, dia berhasil memancing emosi lawannya hingga pria itu marah besar. Seorang Zean yang dia katakan lemah dan bahkan anak mama nyatanya mampu mengimbangi kekuataannya.


Melihat kekacauan dua pria yang sebegitu menakutkan di depan matanya, Syila mencari sesuatu yang sekiranya bisa membuat Nathan tidak sadarkan diri. Hingga, di saat pikirannya buntu dan dicekam ketakutan melihat Zean yang susah payah di sana, Syila meraih senjata tajam yang Nathan siapkan sejak tadi sore.


"Syila jangan!!" teriak seseorang yang kemudian datang dari belakangnya.


Syila masih terjebak kebingungan saat ini, dia tidak mungkin salah. Tapi hendak berpikir lebih panjang, pria itu justru membawanya lebih cepat keluar dari rumah kosong itu.


"Zean?"


.

__ADS_1


.


- To Be Continue -


__ADS_2