
Berdasarkan kesepakatan awal Sean hanya meminta bantuan tidak lebih dari 24 jam, nyatanya pria itu berbohong. Hari kedua, Zean masih terjebak di tempat itu hingga ketika paginya dia memutuskan untuk ikut olahraga rutin bersama para tahanan lain.
Sebenarnya Hito sudah meminta Zean agar tetap di dalam sel, dan kini firasat mereka semakin buruk kala Zean sudah beberapa menit turut bergabung di lapangan. Gelagat Zean mencurigakan, belum lagi mulut tanpa saringannya itu Hito khawatirkan akan membuat tahanan lain tersinggung.
"Bang, panas," bisiknya dengan wajah melas seakan tidak sanggup lagi berada di lapangan dengan pancaran matahari di pagi ini.
"Nikmati saja, sebentar lagi selesai."
Sudah Hito duga jika pria manja itu akan mengeluhkan teriknya matahari. Padahal cahaya matahari di pagi begitu baik untuk tubuh, anehnya Zean seakan mau mati menghadapinya.
"Kau tidak pernah olahraga?"
"Aku nge-gym, tapi tidak panas begini ... kalau tahu begini, seharusnya aku bawa sunscreen saja, wajahku bisa terbakar nanti," ungkap Zean panjang lebar dan membuat ketiga orang di sekelilingnya bahkan berhenti bergerak kini.
"Terbakar? Ini matahari pagi, tentu sangat baik untuk tubuhmu ... kenapa malah takut begitu," sahut Ricko kesal sendiri mendengar keluhan Zean yang terlalu berlebihan, hiperbola hingga rasanya dia ingin muntah.
"Hei sekalipun matahari pagi, kalau seterik ini ya percuma, tetap sama pengaruhnya."
Satu jam dia ikut berdiri di sini, berkumpul dengan orang-orang bau yang begitu semangat menggerakkan tubuhnya membuat Zean meringis. Menyesal juga dia tidak mengikuti saran Hito pagi tadi.
"Terserah kau saja."
Memang salah bersikap baik pada pria itu. Ricko yang khawatir kesabarannya habis berusaha menjauh dan enggan berada di dekat Zean. Namun, baru saja hendak melangkah Hito justru menarik bajunya hingga leher Ricko sampai tercekik.
Janji tetaplah janji, tatapan mata Hito menegaskan jika Ricko tidak boleh pergi. Sekesal apapun mereka, tetap wajib melindungi Zean dari jangkauan Nathan dan juga yang lainnya. Sudah salah-satu spesies langka sehingga harus dilindungi.
"Hadeuh ... repot!!" gerutu Ricko yang juga tengah meratap kapan Sean akan kembali dan pria ini segera dipulangkan.
__ADS_1
Jujur, Zean lebih menyebalkan dari penjaga dan juga para pengusik lainnya. Bukan karena dia memiliki keahlian atau apa, tapi mulut dan sikap menyebalkannya membuat Ricko menyerah. Ditambah lagi, Sean menegaskan adik kesayangannya ini tidak boleh merasakan sakit sedikitpun.
Hingga ketika usai, Zean berlagak manusia paling lelah. Padahal, dia hanya bergerak sedikit dan itupun hanya ikut meramaikan. Sisanya dia merenung, menatap tahanan lain dan tertawa akibat gerakan mereka yang dianggap persis pasukan perang.
"Bang, haus ...."
John yang masih kesal akibat dimaki semalam hanya diam saja. Pria ini berani sekali mengutuknya hanya karena bodoh dalam pelajaran fisika, jelas saja dia enggan mendengarkan Zean yang kini tengah mengeluh kehausan dengan wajah penuh keringat.
"Bang aku panas, pinjam kipasnya dong?"
"Sama, aku juga panas," jawab John seraya mengibaskan kipas plastik yang dia temukan di meja Axel.
"Apa tidak kasihan padaku, Bang?"
Bodo amat, terserah dan aku tidak peduli. Ya, kata-kata itulah yang cukup mewakili batin John saat ini. Dia masih marah sebenarnya, dimaki seseorang yang jauh lebih muda darinya membuat hati kecil John tergores. Namun, kekuasaannya terbatas bahkan untuk menoyor kepala Zean saja dia tidak punya.
"Ini-ini, kau jangan berteriak terus kepalaku sakit."
Axel mendekat dan menyerahkan kipas portable yang sempat dia dapatkan dari mamanya. Melihat secercah harapan ini, Zean tanpa pikir panjnag menerimanya dengan cepat, tapi tetap saja terima kasih yang dia ucapkan bahkan tanpa minat.
Habis manis sepah dibuah, Zean berlalu begitu saja dan kembali naik ke atas kasur usang Hito dengan santainya. Hal itu jelas membuat Axel menyesali keputusannya untuk berbuat baik pada pria itu.
"Hahahha sudah kukatakan jangan dikasih hati, dia mintanya jantung."
Axel menghela napas panjang, ucapan John ada benarnya. Ricko yang juga melihat bagaimana Zean memperlakukan Axel hanya terbahak tanpa henti, sungguh rasanya dia puas sekali.
"Aku harap Sean tidak akan pernah menitipkan anak itu ke sini lagi, kita bisa pakai cara lain andai Sean ingin pulang dadakan nanti," ujar Axel yang memang merasakan bagaimana kesal dirinya dengan kehadiran Zean di tempat ini.
__ADS_1
"Sama, andai hal ini terjadi lagi aku mau pindah sel saja."
Ricko turut menimpali, sejak awal memang kedatangannya sudah mengundang kontroversial. Sungguh, sama sekali Ricko tidak pernah berpikir akan tidur di atap yang sama bersama pria itu lagi.
"Hm benar, kalau sekadar minta dilindungi dan penurut aku terima-terima saja ... masalahnya, dia berbeda, menyebalkan, asal bicara dan paling parah lagi anak mam_"
Belum selesai John menjelaskan panjang lebar, bantal sang pemimpin di sel ini mendarat sempurna di kepalanya. Sontak ketiganya terdiam seraya membalas tatapan tajam Zean.
"Kalian menggunjingkanku?" tanya Zean dingin dan sama sekali tidak membuat mereka gentar, niat untuk menenggelamkannya ke penampungan air semakin membuncah.
"Percaya diri sekali, kau tidak semenarik itu untuk dibahas."
"Cih, puasa!! Berkurang pahala kalian nanti ... guru ngaji kalian pasti suah mengajarkan hal itu bukan?"
Tahun pertama ikut puasa, dan iman mereka benar-benar diuji setelah Sean menghadirkan makhluk astral ini. Mereka saling menatap, Hito hanya diam saja di pojok ruangan seraya membaca buku milik Sean.
"Benar, kalian harus sabar dan ikhlas ... puasa bukan hanya menahan hawa naffsu, tapi juga amarah," ucap Hito yang kemudian dibenarkan Zean dengan mengangkat kedua jempolnya.
"Betul, Bang Hito ... don't be angry, Bro, percuma kalian menahan lap_"
"Don't be angry kepalamu, kau yang membuat kami marah setan!!" kesal Ricko yang mengembalikan bantal itu ke arah Zean hingga meleset ke tahanan lain yang sejak tadi tidak bersalah.
.
.
- To Be Continue -
__ADS_1