
Jika Mikhail merasa lega dengan isu terkait putranya, di sisi lain Halim merasakan hal yang berbeda. Pria itu benar-benar murka hingga dia menjemput paksa Nathalia di kediaman Jack, pria yang dia ketahui sebagai suami Nathalia.
Telapak tangan Halim mendarat begitu kerasnya di wajah Nathalia, putrinya sudah membuat kesalahan besar dan tentu akan berpengaruh kepada citranya di masa depan. Jack yang berada di antara mereka hanya bisa terdiam tanpa berani melakukan apa-apa.
"Kembali pada Zean!! Cepat minta maaf pada keluarga suamimu sebelum terlambat, Nathalia," titah Halim tak terbantah dengan sorot tajam memandang putrinya yang kini memilih diam.
"Tidak mungkin, Pa ... aku tidak akan bisa kembali pada mereka."
"Papa tidak peduli, Nathalia!!"
"Pa!! Zean tahu hubunganku dengan Jack, apa Papa ingin karirku hancur? Jika aku tidak menggugat Zean, maka dia yang akan bertindak dan kemungkinan besar karirku dan perusahaan Papa hancur," jelas Nathalia pasrah dan dia siap jika harus menerima tamparan untuk kesekian kalinya.
"Memang dasar wanita bodoh!!"
Benar saja, tamparan itu kembali Nathalia dapatkan. Sejak awal Halim datang, sudah dia duga tujuan pria itu hanya untuk melampiaskan amarah.
"Sejak awal Papa katakan, tidak ada yang lain kecuali Zean!! Papa tidak peduli dengan pilihanmu, tapi jaga statusmu sebagai menantu keluarga Megantara."
Sejak awal, sbenarnya Halim mengetahui apa yang Nathalia lakukan. Hanya saja, di mata Halim tetap Zean yang pantas menjadi menantunya. Sikap Zean yang mengalah dan membebaskan Nathalia menjalani karir adalah salah satu alasan selain pencapaian Zean yang luar biasa.
Meski demikian, pria paruh baya itu tetap berusaha membuat sang putri terikat selama-lamnaya dengan keluarga Megantara. Tidak heran jika dia berkali-kali meminta Nathalia memberikan keturunan untuk Zean. Sayangnya, belum berhasil keinginan Halim, Nathalia justru membuat masalah sefatal ini.
"Aku sudah berusaha, Pa ... tapi sepertinya ada pengkhianat yang sengaja menghancurkan aku."
Sama sekali tidak ada rasa bersalah dalam diri Nathalia. Yang ada hanya kemarahan kepada kedua sahabatnya, Alisha ataupun Janny. Tidak jauh berbeda dari Nathalia, Jack juga sama dan hingga saat ini dia masih berusaha mencari kedua sahabat Nathalia lewat teman-temannya.
"Lalu sekarang bagaimana? keluarganya sudah tahu hal ini?"
"Belum, Pa ... Zean bilang jika aku yang menggugat, maka dia tidak akan macam-macam."
__ADS_1
"Baguslah, setidaknya kita tidak akan hancur setelah ini," ungkap Halim sedikit lebih tenang.
.
.
Percaya sekali Nathalia dengan ucapan Sean, tanpa dia ketahui jika saat ini namanya kembali mencuat di akun gosip dengan berita yang berbeda. Rasa penasaran awak media seakan terjawab dengan mudah, simpang siur informasi kini terhenti dan fokus dengan scandal Nathalia yang terkuak tidak lama usai perceraiannya diberitakan.
Tidak butuh waktu lama, dia yang memang tengah menjadi topik pembicaraan kini semakin memanas dengan unggahan salah satu akun gosip tersebut. Sudah menjadi resiko seorang publik figure, jika kehidupannya akan selalu menjadi hal yang menarik untuk diperbincangan.
Dalam hitungan menit, video syur serta foto-fotonya bersama Jack tersebar begitu saja. Semua berlomba-lomba menjadikan kesalahan Nathalia sebagai bahan bully-an, bahkan tidak sedikit hujatan dari para penggemar tertuju padanya.
Mereka yang baru saja merasa kasihan, sontak meledak-ledak dan menyampaikan sumpah serapah yang tertuju pada Nathalia. Tidak hanya usai di sana, hastag boikot Nathalia mnejadi trending nomor 1 dalam waktu kurang dari 24 jam.
Sejak awal sudah Sean katakan, jika ini bukan hanya soal mengakhiri pernikahan, tapi kehidupan. Pria itu kini tengah tersenyum tipis seraya memantau hujatan yang terus menerus dilayangkan untuk Nathalia.
Dering ponselnya sedikit mengganggu, mengusik ketenangan Sean yang kini tengah menikmati awal kehancuran Nathalia.
"Kenapa?"
"Kau pelakunya?"
Sean terkekeh, sudah dia duga Zean akan menunjukkan reaksi semacam ini.
"Bukan," jawab Sean enteng dan memang benar bukan dia pelakunya, menyebarkan hal itu adalah tugas Yudha dan Sean hanya bertanggung jawab dalam untuk memberikan jawaban semata.
"Lalu siapa lagi?"
"Yudha, lagipula sejak kapan aku pandai bersosial media ... hanya asistenmu itu yang patut kau curigai, Zean."
__ADS_1
Bersamaan dengan Zean yang kini menghubunginya, Yudha tiba-tiba masuk hingga membuat Sean berhenti bicara. Pria itu tidak jauh berbeda dari Syila, bahkan kini dia menghampiri meja Sean dengan tatapan tak terbaca seperti biasa.
"Kau mau apa, Yudha?"
"Saya hanya ingin menyampaikan hal penting, Pak Anggara mengurungkan niatnya jika sekretaris Anda bukan Syila," ujar Yudha kembali memperkeruh keadaan, Zean yang sejak tadi emosi tiba-tiba berteriak hingga telinga Sean sedikit sakit.
"Yudha kau dengar, katakan padanya ... sampai kapanpun tidak akan ada kerjasama walau hanya sekecil biji sawi, camkan itu."
"Jelas? Sampaikan padanya."
Yudha memutar bola matanya malas, entah kenapa dia benar-benar merasa ditipu oleh bosnya kali ini. Memang benar, tidak seharusnya dia selalu berpikir positif tanpa menyelidiki dengan benar.
Andai saja sejak awal dia menganggap hal ini serius, mungkin keberadaan Sean di sini akan dia sadari lebih awal. Sayangnya, Yudha selalu berusaha menepis pikiran buruknya, sekalipun tiada hari tanpa kecurigaan lantaran bosnya memang benar-benar berbeda.
"Oey Yudha!! Etikamu mana?" tanya Sean sedikit meninggi lantaran Yudha meninggalkan ruangan itu tanpa mengucapkan apa-apa.
"Saya permisi, Presdir gadungan," ungkap Yudha seraya membungkuk 90 derajat demi membuat citranya tetap sopan.
"Heh!! Siallan! Kau mau mati ternyata."
Menyadari Sean seperti akan menelannya bulat-bulat, Yudha berlalu segera tanpa menutup pintu lebih dulu. Hingga baru keluar beberapa langkah, sepatu Sean mendarat tepat di punggungnya.
"Salahku apa? Padahal memang benar," gumam Yudha kini berlari cepat tanpa peduli pandangan orang-orang terhadapnya, yang jelas dia sangat puas usai melontarkan kalimat itu untuk Sean yang telah memanfaatkan keadaan dan membuatnya kian tertekan akhir-akhir ini.
.
.
- To Be Continue -
__ADS_1