Istri Rahasia Sang Presdir

Istri Rahasia Sang Presdir
BAB 45 - Mimpi?


__ADS_3

"Setelah ini bagaimana? Kau tahu konsekuensinya jika pengkhianatanmu sampai ke telinga Halim?"


Sangat, Zean paham betul resikonya. Sebagaimana perjanjian pernikahan yang mereka sepakati, jika salah satu pihak terbukti berkhianat maka pernikahan berakhir dengan kepemilikan harta akan jatuh ke pihak yang dikhianati.


"Jangan khawatir, Pa ... aku bisa menjaga Syila dan menyembunyikan pernikahan kami sampai punya alasan untuk menceraikan Nathalia," jelas Zean tanpa sedikitpun keraguan.


Sebagaimana yang dia katakan pada Yudha, istrinya pasti bermain gila yang menyebabkan dia enggan melayani Zean dengan seribu alasannya. Zean hanya butuh bukti yang kuat agar Nathalia tidak mampu berkutik dan membuktikan pengkhianat sesungguhnya adalah wanita itu.


"Menjaga kau bilang? Foto-foto itu sudah menegaskan kau sebebas itu bersamanya, jika saja yang mengetahui hal ini adalah pihak Halim bagaimana? Jadi gelandangan, Zean ... bahkan mungkin masa depan adik-adikmu harus terputus," tegas Mikhail menggeleng pelan.


Beruntung saja dia berinisiatif mencari tahu keberadaan Zean setelah kematian Ibra. Dia yang baru saja mendapat laporan dari orang suruhannya, tanpa pikir panjang terbang ke Bandung untuk menemui putranya.


Jujur saja Mikhail memang marah, tapi berulang kali dia berpikir dan hatinya mengatakan hal berbeda sekalipun yang terbukti berkhianat adalah putranya. "Kita selesaikan masalah ini, jaga sikap dan tetap jalani peranmu sebagai suami Nathalia sebelum kalian resmi bercerai ... pernikahan kalian bukan pernikahan biasa, Zean. Nasib ribuan karyawan dan keluarga kita ada padamu."


"Paham, Pa ... Yudha tidak perlu diragukan jika sudah kupinta," ucap Zean mengangguk pelan, sejenak dia merasa lebih tenang karena Mikhail tidak menyatakan penolakan pada Nasyila.


Fakta jika putranya sudah menikah lagi memang terdengar konyol. Akan tetapi, Mikhail tidak bisa berbuat banyak jika memang ini pilihan putranya. Jika sudah perihal hati, jujur saja Mikhail tidak sekuat itu.


Terlambat memang, Zean terlalu rapi menyembunyikan lukanya hingga sang papa mengira keputusannya empat tahun lalu sudah sangat benar. Faktanya, dia sudah menjerumuskan putranya dalam jurang penyiksaan.


"Sudah lama?" tanya Mikhail setelah beberapa saat terdiam, dia menatap Zean yang kini kembali tertunduk menunggunya bicara.


"Hah?"


"Kau, menikahinya ... sudah lama?" Mikhail mempertegas pertanyaannya, barangkali Zean tuli akibat terlalu tegang sejak tadi.


"Belum, Pa ... tiga minggu lalu, tidak lama sebelum Opa pergi," jawab Zean jujur tanpa ditutup-tutupi, ketakutan jika Mikhail akan mempermasalakan pernikahannya masih terus menghantui hingga detik ini.


"Keluarganya bagaimana? Apa kau diterima dengan baik?"

__ADS_1


"Sangat, ibu mertuaku baik sekali."


Zean tersenyum simpul, dia menatap netra tajam sang papa yang masih begitu serius berbicara padanya. Mungkinkah ini pertanda baik? Seharusnya iya. "Bisa berikan alasan yang logis kenapa kau memilihnya?"


"Maksud papa?"


"Tadi kau katakan, Empat tahun bersama istrimu hanya membuat tersiksa ... benar, 'kan? Papa tidak akan bertanya hal apa yang tidak kau dapatkan, Zean ... Papa juga lelaki, dan kebutuhan kita sama jika tentang wanita."


Mikhail masih menggantung ucapannya, dia menatap lekat Zean yang tampaknya tengah mempersiapkan jawaban untuknya. "Cinta, atau hanya pelampiasan?" tanya Mikhail santai, tapi terkesan dingin.


"Cinta ... aku mencintainya, Pa."


Sedikitpun Zean tidak mengingkari jawabannya, dia menjawab tegas seraya menatap mata Mikhail demi membuat sang papa percaya ucapannya.


"Yakin? Sudah berapa lama kau mengenalnya?" tanya Mikhail justru serius membahas Syila.


"Hampir tiga bulan, Pa ... Syila adalah_"


Sudah tentu dia mengetahui siapa Syila dari Yudha yang dia paksa mengaku bahkan hampir menangis darah. Mikhail bisa saja sabar menunggu pengakuan Zean sebenarnya, akan tetapi kesabarannya tidak seluas itu hingga memutuskan untuk melakukan hal semacam ini.


"Papa tahu dari mana?"


"Huft, seharusnya sejak dulu Papa tidak melepaskanmu ... Papa pikir, kau benar-benar bahagia, Zean. Papa terlena, sampai untuk memastikan bagaimana perasaanmu saja tidak pernah."


Mikhail menunduk, dadanya bak dihimpit bongkahan batu besar saat ini. Apa yang terjadi pada zean murni kesalahannya, tanpa terduga pria itu memeluk sang putra setelah sekian lama.


"Maafkan Papa, Zean ... kau sudah terlalu banyak menderita selama ini. Papa percaya kita bisa menyelesaikan masalah ini, sekali lagi Papa tetap memintamu untuk bertahan dengan sandiwara yang kalian buat sampai nanti resmi bercerai."


Zean mengangguk pelan, dia paham maksud Mikhail. Posisi mereka terlanjur terikat, perjanjian tetaplah perjanjian yang artinya kesalahan Zean harus tertutup rapat demi menyelamatkan banyak hal.

__ADS_1


"Papa pergi, jaga sikapmu di luar ... jangan sampai publik mengetahui hubungan kalian."


Sepertinya ini adalah karma Mikhail sebagai pembohong. Sejak muda, mulutnya selalu dipakai untuk mengucapkan kata-kata bohong dan mengelabui kanaya. Kini, dia dibohongi darah dagingnya secara besar-besaran tanpa sadar.


Namun, hal itu tidak akan membuatnya jera sebagai pembohong. Karena setelah ini, dia tetap akan berpura-pura tidak mengetahui rahasia besar tentang putranya, terutama di hadapan Halim.


.


.


Mikhail berlalu keluar, matanya menatap lekat wanita cantik yang menundukkan kepala usai mengulas senyum padanya. Mungkin Syila sama sekali tidak tahu jika pria itu sudah mengetahui siapa dirinya.


"Selamat malam, Pak." Sebagaimana seorang karyawan yang bertemu pemilik perusahaan, jelas saja harus bersikap sopan.


"Cantik, sudah menikah?" tanya Mikhail hingga membuat syila memerah, dadanya sudah berdebar tak karuan dan pikiran kotor tentang Mikhail tiba-tiba berdatangan.


"Belum_ Eh sudah, Pak." Dia terlalu gugup, hingga salah menjawab ketika MIkhail menanyakan hal itu.


"Hm, masuklah, saya sudah selesai ... suamimu menunggu di dalam," titah Mikhail yang kemudian berhasil membuat jantung Syila seakan berhenti berdetak.


Dia meremmas jemarinya kuat-kuat, ketakutannya sejak tadi benar-benar terjadi. Akan tetapi, Mikhail menyapanya sangat baik bahkan tidak ada nada bentakan sama sekali.


"Titip Zean, Papa pergi," pamitnya kemudian dan Syila jawab dengan anggukan lantaran lidahnya mendadak tidak mampu berucap tiba-tiba.


"Pa-papa? Tunggu sebentar, kenapa aku tidak dimaki seperti yang ada di sinetron itu? Apa aku bermimpi? Rasanya benar ini pak Mikhail ... Ya Tuhan, sadarkan aku, kenapa melamun sampai senyata ini."


.


.

__ADS_1


- To Be Continue -


__ADS_2