
Semenjak hamil, Syila merasa lebih sering buang air kecil. Belum sepuluh menit, tapi dia kembali meminta izin untuk ke toilet lebih dulu. Padahal, sudah Zean katakan jika sebaiknya di rumah saja.
"Tunggu di sini saja, aku bisa sendiri."
Satu hal yang tidak Zean suka adalah ini, dia terpaksa menunggu di luar padahal khawatirnya bukan main. Meski belum ada tanda-tanda Jack mengusik kehidupannya, entah kenapa masih ada kekhawatiran dalam diri Zean yang sama sekali tidak dapat dia jelaskan.
Sepuluh menit Nasyila berlalu, tapi belum juga keluar dari sana. Zean menunggu tidak begitu jauh, seharusnya jika Syila keluar dapat dia lihat. Memang sebelumnya Zean sudah sempat masuk, sayangnya tidak sedikit yang menganggapnya ca-bul hingga terpaksa Zean menunggu agak sedikit jauh.
"Astaga, dia kemana?"
Hendak Zean hubungi, tapi tas dan semua perlengkapan Syila ada di tangannya. Hingga, pria itu kembali menerobos masuk, tidak peduli berapa banyak yang merasa terganggu dengan kehadirannya.
"Gila!! Saya telepon polisi sekarang juga!!"
Teriakan semacam itu Zean dapati ketika nekat masuk demi mencari keberadaan istrinya. Kekhawatiran membuatnya buta, Zean setakut itu jika pikiran buruknya benar-benar terjadi.
"Kenapa? Kamu ngapain ikutan masuk?" tanya Syila menarik Zean keluar segera.
Kemarahan wanita yang berada di toilet itu bukan main-main, pasalnya wajah tampan Zean tidak dapat dimaklumi lagi hingga kepalanya menjadi sasaran sepatu dan tas beberapa wanita itu.
__ADS_1
Syila yang merasa malu menuntunnya untuk berlari, Zean merasa ini hal yang lucu. Sama sekali tidak sadar jika tindakannya tadi bisa menjadi alasan seseorang memasukkan Zean ke penjara.
Hingga tiba di mobil, Zean memejamkan mata seraya bersandar di bahu Syila. Keduanya terengah-engah hingga membuat kedua pria gempal yang ada di depan mereka saling menatap.
Hendak bertanya, tapi khawatir nanti justru menjadi masalah. Zean memintanya kembali melaju dengan kecepatan rendah. Istrinya yang juga merasakan lelah, hanya pasrah begitu saja.
Akhir-akhir ini Zean memang sedikit berlebihan, kehadiran dua orang yang ditugaskan menjaganya sudah membuat Syila merasa janggal. Ditambah lagi, dengan dia yang merenovasi pagar menjadi lebih tinggi, penambahan CCTV di sekeliling rumahnya dan juga membekali Syila dengan stun gun yang ada di tasnya.
"Ada apa sebenarnya?" tanya Syila setelah keduanya sedikit lebih tenang.
Merasakan sensasi layaknya pencuri bukanlah hal yang menyenangkan, terlebih lagi dengan keadaannya yang kini tengah berbadan dua. Perut Syila bahkan sakit akibat berlari dan khawatir kepala suaminya bocor akibat kemarahan beberapa wanita itu.
"Tapi tidak perlu masuk seperti tadi, yang ada di sana jadi takut."
"Maaf, Syila ... aku tidak bermaksud membuatmu malu."
Zean mengeratkan pelukannya, sesekali dia mengelus pelan perut sang istri. Meski singkat dia harus meminta maaf lantaran telah membuat calon buah hatinya terkejut, sungguh tidak ada niat Zean menyakiti keduanya. Akan tetapi, otaknya terlalu buruk dalam menerka apa yang akan terjadi.
"Bukannya malu, tapi lihat sendiri mereka marah besar ... kepala kamu habis luka, kalau sampai berdarah lagi gimana?"
__ADS_1
Sikap Zean yang selalu berani menjawab membuat Syila terkadang ingin menyerah. Hanya saja, Mikhayla mengatakan terima apapun keadaannya.
"Nanti di rumah saja kalau mau lihat, yang terpenting saat ini kita masih pulang berdua, Syila."
"Ck, di sini saja ... aku yakin pasti berdarah," omel Syila hendak memeriksa kepala pria pembangkang itu.
"Jangan membantah, di kamar saja ya. Kamu mau periksa kepala mana saja juga boleh, sekarang duduk diam dan jangan banyak gerak, paham?"
Lihat, ucapannya semakin asal bunyi. Padahal sudah Syila katakan agar menggunakan bibir untuk yang baik-baik saja. Namun, tampaknya Zean tidak mengerti bahasa manusia lembut dari Syila.
.
.
- To Be Continue -
Hai, sementara up mampir ke novel Kak Sensen ya guys❣️ Si pemilik suara merdu yang bacain Zean-Syila setiap harinya.
__ADS_1