
Cukup mudah untuk Sean melakukan tugasnya, meski tentu saja harus diawasi lantaran Zean tidak punya cita-cita perusahaan hancur jika terlalu melepaskan Sean. Usai dengan pekerjaan yang ternyata lebih melelahkan dibandingkan ganti ban dan semacamnya, Sean pulang meski sedikit terlambat.
Tiba di ruang tamu, dia mendapati Nathalia tengah bersama Jack. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi terlihat jelas Nathalia sedikit terkejut dengan kehadiran Sean yang tiba-tiba. Sorot tajam Sean membuatnya ciut seketika, tidak hanya pada Nathalia, melainkan Jack juga.
"Oey banci, kau tidak pulang?"
Jack mendongak, ini kali pertama dia diperlakukan semacam ini. Empat tahun mengenal sosok Zean yang biasanya diam dan tidak banyak bicara padanya, jelas saja membuat pria jadi-jadian itu sedikit tersentak.
"Zean apasih? Jack punya nama," kesal Nathalia terlihat jelas membela Jack dan tidak suka dengan panggilan yang pria itu berikan.
"Apa pentingnya, jika sudah selesai pergilah ... mataku sakit melihatmu."
Sean berlalu meniti anak tangga dengan langkah panjangnya. Untuk kali ini bukan sandiwara, tapi memang perutnya mual melihat pria dengan wig merah menyala itu. Jika memang jantan, kenapa harus bertopeng sedemikian rupa, pikir Sean.
Sementara Sean berlalu, Natahalia kini tengah memandang Jack dan meminta maaf selembut itu. Entah apa yang terjadi hingga sang suami memperlihatkan kekesalannya, Nathalia tidak habis pikir hingga saat ini.
"Kalian ada masalah?"
"Tidak, dia baru pulang tadi malam ... jangan pikirkan, mungkin kepalanya terbentur karang makanya sinting begitu," ungkap Nathalia menenangkan Jack yang saat ini tengah mengepalkan tangan lantaran tersinggung dengan sikap Sean.
"Tapi tidak seharusnya dia begitu padaku ... banci? Cih, dia yang banci."
"Jack, kumohon ... bukan saatnya marah sekarang, pulanglah," tutur Nathalia meminta Jack untuk berlalu segera.
Ingin sebenarnya dia ikut Jack saja malam ini, tapi dia tidak memiliki keberanian karena sang suami baru saja pulang. Tidak lucu jika Zia tiba-tiba datang dan menyadari dia tidak ada di rumah malam ini.
"Bye, Honey."
Nathalia mengangguk pelan, tidak ada adegan manis yang mengakhiri perpisahan mereka. Yah, sebagaimana dunia yang mengetahui bahwa Nathalia seorang pemain handal, jelas saja dia tidak akan berani bunuh diri.
Setelah memastikan Jack pergi, wanita itu kembali ke kamar untuk menghampiri Sean. Layaknya seorang istri yang tersinggung suaminya dihina, dia mendorong pintu kamar kuat-kuat hingga menimbulkan suara yang cukup memekakan telinga.
__ADS_1
"Zean!!"
Nathalia meninggi dan kini berkacak pinggang, dia menatap Sean yang tengah berdiri menatap di dekat jendela. Seolah sengaja menunggu Nathalia yang kini marah besar padanya.
"Zean dengarkan aku ... jangan pernah bersikap seperti tadi pada jack, kamu tahu seberapa besar jasanya selama aku meniti karir bukan?"
Nathalia mulai mengomel panjang lebar, sementara dia terlihat santai memandang senja yang kian memerah di saja. Biasanya, seorang wanita akan kesal luar biasa jika sengaja diabaikan.
"Zean, jawab aku!!'
Sengaja mendekat dan jarak mereka hanya beberapa langkah saja. Empat tahun menjalani pernikahan, tidak pernah Nathalia menemukan Zean yang semenyebalkan ini.
"Mulutmu bau sampah ... Jangan dekat-dekat," ucap Sean terlihat tenang, datar dan sama sekali tidak merasa berdosa.
"Kau semarah ini karena dia kusebut banci?" tanya Sean terkekeh pelan.
"Jaga mulutmu, Jack bukan banci!!" sentak Nathalia benar-benar terpancing emosi hingga tanpa pikir panjang hendak mendaratkan telapak tangan tepat di wajah Sean.
"Oh iya? lalu apa kalau bukan banci? Hm?"
"Zean lepas_ aaarrhhh sakit."
Sejak dulu, Zean tidak pernah begini padanya. Semarah apapun Zean, hanya sebatas ucapan dan tidak berani menyentuh Nathalia. "Aku dengar-dengar kau tidak menyukai pria cupu seperti suamimu ini, kau ingin pria yang bagaimana sebenarnya?"
Mata Nathalia membola, kenapa bisa pernyataan semacam itu sampai ke telinga Zean. Dia berpikir keras, hingga rasa sakit di tangannya seakan hilang. Tergantikan dengan ketakutan yang membuat jiwanya bergetar seketika.
"Ze-zean ... Apa maksudmu? Aku tidak mengerti."
"Kau tahu, di dunia ini tidak ada yang bisa kau percayai, Nathalia."
Sean berbisik pelan sebelum kemudian menghempas tubuh Nathalia sebegitu kasarnya. Wanita itu tidak berani mengucapkan sepatah katapun, dia masih berpikir dari mana Zean mengetahui hal itu.
__ADS_1
Pikirannya sontak tertuju pada kedua sahabatnya, tentu salah satu diantara mereka yang telah berhasil membuat Zean bersikap seperti ini padanya. Hal ini adalah bencana bagi Nathalia, jika Zean benar-benar tahu kebusukannya, maka kemungkinan besar karirnya akan terancam serta perusahaan sang papa hancur di tangan Zean.
"Tidak ... Zean hanya mengancam, mungkin cemburu karena aku membela Jack. Aku harus tenang, mana mungkin Alisha akan macam-macam."
Dia membatin dan sama sekali tidak bergerak, meski sudah berusaha tenang dia tetap setakut itu perubahan sikap Zean terjadi akibat perselingkuhannya..
.
.
Selang beberapa lama, Sean keluar dari kamar dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Nathalia masih diam dan menerka-nerka sebab perubahan suaminya. Pria itu tampak mengeringkan rambutnya di depan meja rias, baru beberapa menit di sana Nathalia dikejutkan dengan suara benda pecah akibat Sean mengibaskan handuk kecilnya.
"ZEAN!!"
Suaranya melengking bahkan tenggorokannya terasa sakit, parfum kesayangan yang merupakan pemberian dari Jack hancur berkeping-keping hingga mata Nathalia seperti hendak keluar saat ini juga.
"Sengaja?"
"Tidak, salah sendiri letaknya di sana."
"Memang tempatnya!! Aku tidak mengerti apa yang membuatmu berubah begini. Jika hanya karena aku membela Jack, kamu keterlaluan, Zean!!"
"Berhenti berteriak di depanku, Jallang!! Kau dengar, Nathalia ... Selama ini aku diam, bukan berarti bodoh." Sean berdecih dan menatap Nathalia seakan wanita paling hina di dunia.
"Jaga sikap jika ingin hidupmu baik-baik saja ... aku bisa menghancurkan karirmu kapan saja, ingat itu."
Sean tersenyum tipis. Seperti yang Sean katakan, dia kan menggunakan kebusukan Nathalia sebagai senjatanya. Kali pertama mencoba dan berhasil membuat Nathalia pucat pasi. Nathalia yang tadinya menatap Sean penuh amarah, mendadak bisu dan tidak mampu berucap apapun.
.
.
__ADS_1
- To Be Continue -