
Perjalanan hari ini terpantau ramai lancar, Syila menguap seraya memandangi hiruk pikuk ibu kota yang tiada habisnya. Terlihat manis jika dipandang, tapi Syila sangat tahu berapa banyak air mata dari orang-orang yang tampak sabar menunggu di halte itu. Cukup lama dia pandangi hingga tanpa sadar, matanya benar-benar terpejam.
Selang beberapa lama, Syila yang baru terjaga dibuat bingung lantaran kecepatan mobil yang dia tumpangi semakin cepat. Padahal, sejak awal mereka ditugaskan menjaga Syila kecepatan dalam berkendara ada aturannya sekalipun Syila sedang tidur.
Namun, kali ini sedikit berbeda dan jalanan yang dilewati juga bukan menuju kediamannya. Tempat ini kian sepi dan semakin menjauh dari pusat kota. Syila yang mulai panik tidak menunjukkan reaksi berlebihan lebih dulu. Dia tahu ada yang aneh, terlebih lagi Beny yang duduk di samping pengemudi sejak tadi diam saja. Kecurigaan Syila semakin menjadi kala kepala Beny terkulas lemas seakan menuruti guncangan mobil yang kini melaju begitu cepat.
"Ya Tuhan, apa yang akan terjadi padaku?"
Bisa dipastikan yang kini duduk di kursi kemudi bukanlah bodyguard yang seharusnya menjaga Syila. Diam-diam, Syila merogoh alat kejut listrik yang sejak kemarin-kemarin ada di tasnya. Setelah cukup lama mempertanyakan fungsinya, hari ini mata Syila benar-benar terbuka lebar.
Sekuat apapun Syila berusaha untuk tidak merasakan takut, tetap saja percuma. Tangannya bergetar, belum lagi barang di tasnya cukup banyak dan butuh waktu untuk mendapatkan benda itu dengan benar.
Laju kendaraan semakin cepat, Syila juga tidak mengerti dia hendak dibawa kemana. Yang jelas, jantungnya semakin terpacu kala benda itu sudah berada di tangannya.
Bagaimana dia menyerang pria yang kini ada di hadapannya, Syila sendiri tidak yakin. Haruskah leher atau kepalanya? Sungguh, untuk seseorang yang tidak pernah menyakiti siapapun seperti Syila, jelas saja dia bingung harus melakukan apa.
__ADS_1
Syila mengambil ancang-ancang sebisanya, dia beranjak dan siap menyerang pria itu dari belakang. Sayangnya, gerak-gerik Syila tertangkap jelas hingga pria itu sengaja berhenti mendadak dan membuat tubuh Syila terperosok ke depan hingga matanya bisa melihat wajah tampan yang tengah tersenyum tipis ke arahnya.
Mata Syila membulat sempurna, tangannya mendadak lemas hingga tanpa dia sadari stun gun yang sejak tadi dia genggam terlepas begitu saja. Wajah pria itu tampak familiar di mata Syila, mata Syila tidak mungkin salah.
"Kau pikir aku selemah itu? Benda semacam ini bahkan tidak bisa membuatku pingsan, ingin kutunjukkan cara yang benar bagaimana?"
Pria itu mencengkram pergelangan tangan Syila, sontak wanita itu berontak dan mencoba berteriak memanggil pria bertubuh besar di sampingnya. Sayang, kesadarannya perlahan menurun setelah beberapa saat sesuatu masuk ke dalam kulitnya melewati jarum kecil itu.
"Lanjutkan tidurmu."
Beberapa saat dia pastikan, tempat ini cukup sepi. Yang dia inginkan hanya istri Zean, tidak dengan dua pria bertubuh gempal tapi bodoh itu. Senyumnya kembali terukir ketika memastikan arus sungai di bawah jembatan yang dia pijaki saat ini cukup deras, sekalipun dua orang ini sadar sudah tentu jauh dihilir sana, itupun jika selamat.
Korban pertama yang dia pastikan terjun adalah seseorang yang ada di bagasi, dia menyeret pria itu seakan tidak ada beban sama sekali. Padahal, jika dibandingkan, tubuhnya tidak lebih besar dari bodyguard Syila, hanya lebih tinggi saja.
"Nikmati, Zean ... ada banyak nyawa yang hilang karenamu."
__ADS_1
Kemarahannya sudah terlampau berat, hingga melakukan hal semacam ini saja dia merasa tidak bersalah. Sama sekali hatinya tidak berdesir ketika tubuh besar itu jatuh ke dalam air secara bergantian. Napasnya begitu lega saat menyaksikan kedua orang itu terombang ambing dibawa arus hingga kemudian menghilang dari pandangan.
Tidak hanya itu, dia memeriksa tas dan juga ponsel Syila. Pria itu tersenyum getir seraya memeriksa isi tas Nasyila, cukup lama dia pandangi. Kenyataan jika Syila sedang hamil membuat pria itu mengurungkan niat untuk melempar vitamin dan juga obat-obatan yang ada di tasnya.
"Lihat si lemah ini, jika tidak mampu menjaganya, untuk apa kau nikahi."
Panggilan masuk dari Zean terlihat jelas di ponsel Syila, tanpa pikir panjang ponsel itu turut melayang sebelum kemudian dia kembali naik ke mobil.
Syila terlalu penurut, dia sama sekali tidak lupa tidur siang sebagaimana yang Zean katakan. Sayangnya, mimpi kali ini sedikit berbeda dan yang ada dalam di hadapannya hanya gelap semata.
"Kau mencuri harta keluargaku, maka aku akan melakukan hal yang sama ... mari kita adil, Zean."
.
.
__ADS_1
- To Be Continue -