
Jika biasanya Nathalia akan datang dengan sejuta senyuman dan menyapa para penggemarnya, siang ini dia datang sebagai Nathalia yang tengah marah besar pada suaminya. Suara melengkingnya terdengar menusuk telinga hingga Yudha menyerah kalah.
BRAK
"Zean!!"
Teriakan Nathalia sekeras itu, tapi Sean sama sekali tidak menganggapnya hidup. Pria itu masih saja sibuk menyelesaikan rubik yang sejak tadi gagal dia taklukan, bingung sendiri kenapa Zean betah dengan permainan semacam itu.
"Heh! apa maumu sebenarnya?" sentak Nathalia masih berani membentaknya.
Sean menatap wanita itu sekilas, ini adalah penampilan Nathalia yang paling buruk sepertinya. Dia menggebrak meja dan berpikir cara itu akan berhasil membuat Zean takut padanya.
"Pak maaf_"
"Tidak masalah, Yudha ... keluarlah."
Nathalia sudah berusaha mengeluarkan semua suaranya hingga tenggorokannya terasa sakit dan tidak Sean pedulikan juga. Namun, hal itu berbeda dengan Yudha yang hanya bersuara sekecil itu di ambang pintu.
"Bicaralah, waktuku tidak banyak."
Beralaskan waktu yang tidak banyak, padahal sejak tadi dia hanya duduk manis usai memantau pekerjaan Zean. Mata Nathalia yang memerah membuktikan jika dia berhasil tadi malam, Sean tersenyum tipis menatapnya.
"Natural sekali, tidak salah jika penghargaanmu banyak."
Air mata Nathalia hanya Sean anggap sebagai hiburan. Sekalipun tangisannya memang sungguhan, Sean sama sekali dia tidak merasa bersalah.
"Apa maumu sebenarnya, Zean? Aku akan mengadukan semua perlakuanmu pada orangtua kita ... kita lihat apa Mama akan diam saja mengetahui anaknya sekasar ini."
__ADS_1
Dia mengancam, sejak dahulu memang inilah senjata andalan Nathalia. Zia masih menjadi senjata utama, akan tetapi dia tidak mengetahui jika yang dia hadapi saat ini adalah Sean, bukan Zean yang bisa dia kendalikan.
"Silahkan, kita lihat apa Mama masih peduli jika dia tahu menantunya poliandri?"
Sean mendadak serius, dapat dia lihat jika Nathalia bergetar di sana. Bahkan kini dia hanya diam dan tidak memiliki kemampuan untuk menyangkal ucapan Sean. Apalagi, ketika Sean sengaja memutar video pendek yang bisa saja menjadi akhir kehidupan Nathalia.
"Bagaimana? Masih punya rencana untuk mengadu ... daripada kau mengadu, lebih baik datangi Pengadilan Agama."
"Ma-maksudmu apa?"
"Dengarkan baik-baik, aku sudah tahu semua kelakuanmu. Tapi, aku tidak ingin ada drama papamu sakit jantung seperti dulu ... aku memberimu kesempatan jika ingin menggugatku. Karena jika aku yang ambil alih, beda cerita, Nathalia.
Sean bicara tanpa menatap ke arah Nathalia, detik ini juga dia pahami jika sikap Zean berubah karena ingin mengakhiri pernikahan. Akan tetapi, jika sampai dia bercerai, maka Halim akan marah besar bahkan mungkin saja membunuhnya.
Namun, jika sampai dia tidak menggugat cerai Zean maka imbasnya lebih buruk lagi. Nathalia sejenak berpikir, dia menimbang keputusan dan memang bagaimanapun akhirnya mereka tetap akan bercerai juga.
Tanpa sedikitpun keraguan, Sean mencengkram dagu Nathalia hingga wanita itu meringis kesakitan. Semakin hari, Sean semakin serius menyakitinya. Bukan hanya dengan kalimat, tapi juga sentuhan fisiknya.
"Keluarlah, aku muak!!" bentaknya hingga telinga Nathalia terasa sakit.
Lutut Nathalia lemas seketika, pria itu menghempas tubuhnya kasar hingga terduduk di sana. Dia masih terdiam, antara hati dan logika kini berperang hingga membuat Nathalia gamang.
Bagaimanapun keadaannya, pernikahanmu dan Zean tidak boleh berakhir, Nathalia.
Papa tidak peduli dengan pilihanmu ... tapi bagi Papa Zean satu-satunya.
Di titik bingungnya, Nathalia terpikir akan pesan sang papa satu tahun lalu. Doa sudah berjanji, apapun yang terjadi statusnya sebagai menantu keluaraga besar Megantara tidak akan pernah tergantikan.
__ADS_1
"Aku akan bertahan, Zean ... kau tidak akan mampu menyingkirkan aku hanya dengan video itu," ucapnya kemudian berlari segera ke meja kerja Zean.
Nathalia yang mulai kehabisan cara menghempaskan laptop kesayangan Zean ke lantai hingga terbelah menjadi dua. Dia ulangi berkali-kali sampai benda itu tidak mungkin diselamatkan lagi.
Tindakan Nathalia hanya mendapat tatapan luar biasa datar dari Sean, sama sekali dia tidak peduli sebenarnya. Hingga, ketika Nathalia hendak meraih ponselnya sontak pria itu menarik rambutnya kuat-kuat dan membuat kepalanya mendongak dengan sakit yang menjalar di setiap akar rambutnya.
"Aaargghh lepaskan aku, Zean ... sakit!!"
"Sakit? Lebih sakit mana denganku ... empat tahun kau paksa mengikuti sandiwara sialan itu!! Kau tidak hanya membohongiku, tapi juga keluargaku!!
Kemarahan Sean kian menggebu, dia paling benci dengan wanita pembangkang seperti Nathalia. Sama sekali Sean tidak peduli sekalipun Nathalia adalah wanita, kebenciannya benar-benar menyatu kala mengingat penyebab utama hidupnya dan Zean terpisah adalah wanita ini.
"Aku bisa saja mematahkan kepalamu, Nathalia ... pikirkan baik-baik jika ingin bertahan. Satu hal yang perlu kau ketahui, Yudha punya banyak salinan video itu."
Sean kembali meghempasnya tanpa belas kasihan. Jelas saja wanita itu merasa usahanya sia-sia hingga tidak punya pilihan selain kembali dengan membawa jiwa yang kian hancur akibat perlakuan Sean.
"Kau tidak punya hati, Zean!!" Air mata kini bercucuran membasahi wajahnya, terbiasa dengan Zean yang pendiam demi Tuhan dia seakan gila kali ini.
"Menangislah, Nathalia ... ini baru permulaan. Setelah ini aku pastikan tidak ada tempat yang akan menerimamu."
Setelah ini, akan ada banyak hal yang tidak sesuai dengan perjanjian awalnya bersama Zean. Jika hanya sekadar mengakhiri pernikahan, Zean sendiri bisa sebenarnya. Akan tetapi, tujuan utama yang Sean cari tidak sesederhana itu.
.
.
- To Be Continue -
__ADS_1