
Tanpa zean ketahui, saat ini istrinya tengah meringis seraya menggigit bibir menahan perih. Sejak tadi dia rasakan, tapi terlalu malu jika harus mengaku di saat Zean tengah memberikan kenikmatan yang sama-sama dia inginkan juga.
"Lambungku, kenapa juga harus lapar tengah malam, Syila."
Malam ini Zean membuat Syila menyiksa diri sendiri. Selain menahan perih di lambungnya, Syila juga susah payah menahan diri agar tidak ikut mende-sah selama Zean berkuasa di atas tubuhnya.
"Ze-zean," panggil Syila begitu pelan, persetan dengan rasa malu. Toh yang seharusnya malu adalah Zean, bukan dirinya.
Sama sekali tidak ada pergerakan, sementara perut Syila semakin menyiksa. Jika di rumahnya mungkin Syila baik-baik saja makan sendirian, akan tetapi saat ini dia berada di rumah mertuanya, mana mungkin Syila berani.
Dia tidak mungkin menahan laparnya hingga esok hari. Apalagi semenjak hamil naf-su makan Syila memang kian meninggi. Bahkan biasanya, dia bisa makan lima kali sehari.
"Zean, lapar."
"Sayang bangun!!"
Gantian, setelah sebelumnya Zean mengusik tidur Syila. Kini, dia yang melakukan hal itu, susah payah Syila mengguncang tubuh sang suami hingga membuat Zean terperanjat kaget.
"Sa-sayang? Ini jam berapa?" tanya Zean gelagapan dan dia sudah siap mental jika Syila marah besar.
"Jam satu," jawabnya singkat, mau bagaimana dia setelah ini. Apa mampu pura-pura? Atau lebih baik katakan saja jika dia sebenaenya belum tidur? Entahlah, Syila bingung kenapa justru dia yang malu.
"Jam satu?"
Syila mengangguk pelan, hal itu sontak membuat Zean menelan salivanya susah payah. Jika baru jam satu, artinya belum lama. Tapi kenapa Syila justru biasa saja, pikiran Zean melayang tak tentu arah saat ini.
"Ke-kenapa bangun? Apa ada yang sakit?"
Sebagai pelaku utama, jelas saja dia khawatir tentang istrinya. Apalagi, saat dia menatap Syila menekan perutnya. Darah Zean sontak berdesir dan merasa bersalah seketika, bagaimana jika terjadi sesuatu dengan bayi dalam kandungannya.
"Aku lapar," ucapnya datar, Zean sontak menghela napas lega.
Pria itu menggigit bibir, matanya terpejam sesaat kemudian beranjak untuk turun dari tempat tidur. Istrinya lapar, hal itu adalah berita baik karena dengan alasan itu Syila tidak sediam tadi.
"Mau aku ambilkan atau makan di bawah?" tanya Zean lembut seraya mengusap pelan rambutnya, sedang mencari celah apa sang istri masih menolak dia sentuh dalam keadaan sadar.
__ADS_1
"Di bawah saja."
Zean tersenyum simpul mendapati respon Syila yang sedikit lebih bersahabat. Dia tidak lagi menepis tangan Zean, dia mengekor di belakang sang suami dengan langkah pelannya.
Ruang makannya jauh sekali, kaki Syila yang terbiasa dengan rumah mereka sedikit mengeluh ketika di sini. Ruang makan tampak remang, Zean menghidupkan lampu dan meminta istrinya duduk sembari menunggu Zean memanaskan makanan.
Sebenarnya bisa saja Syila makan tanpa dipanaskan lebih dulu, akan tetapi Zean yang tidak mengizinkan. Hubungan mereka kembali baik-baik saja, perkara nama Leona yang membuat Syila malas bicara tampaknya redup sesaat.
.
.
Saat ini, dia tengah memerhatikan sang suami yang sibuk sendiri melayaninya. Entah karena apa, apa mungkin tengah berusaha mengambil hati Syila agar tidak marah. Jika diingat lagi, ingin rasanya Syila memukul kepalanya yang masih terbalut perban itu.
"Pelan-pelan, panas soalnya."
Zean duduk di sebelahnya usai menghidangkan sop daging sapi yang masih mengepul itu. Istrinya hanya mengangguk pelan, nasi putih yang ada di piring begitu menggugah selera Syila. Perutnya sudah meronta sejak tadi, hingga sama sekali tidak sadar jika Zean tidak berhenti menatapnya.
"Syila."
Lihatlah, dia sama sekali tidak marah. Hal itulah yang membuat Zean bingung apa sebabnya, padahal waktu itu Syila benar-benar marah kala dia mencuri kesempataan di saat sang istri tertidur.
"Bukan, aku mau tanya ... kalau lelah kamu memang tidurnya begitu ya?"
"Begitu gimana?"
"Lupakan, lanjutkan makannya."
Dia pastikan istrinya sama sekali tidak menyadari apa yang terjadi. Beruntung saja dia bertindak cepat dan mengeringkannya dengan tisue sebelum tidur, Zean seyakin itu jika Syila sama sekali tidak sadar.
Begitu setia dia menunggu Syila selesai, hingga beberapa menit kemudian sang istri kembali bersendawa tanpa sengaja. Syila sontak menutup mulutnya, beruntung saja saat ini dia hanya bersama Zean seorang.
"Kenyang?"
Syila menoleh ke arah sang suami yang sejak tadi masih memandangnya. Melihat Zean yang menopang dagu di sebelahnya, Syila menunduk segera. "Masih marah?" tanya Zean seraya menutup kancing piyama Syila yang ternyata lupa dia tutup sebelum tidur.
__ADS_1
"Tidak, marah soal apa."
"Apapun, aku tahu kamu marah ... katakan, apa sebabnya?" Zean masih penasaran apa penyebabnya, apa mungkin pembicaraan mereka tentang masa lalu yang membuat Syila sekesal itu.
"Tidak ada, aku bilang tidak marah ... jangan cari masalah, aku lelah," ucapnya seakan putus asa, sebal kepada diri sendiri lantaran mempermasalahkan nama wanita yang tidak lebih dari masa lalu Zean.
"Abis makan lelah apanya?"
"Sebelum makan aku sangat-sangat lelah, kamu pikir tidak pegal bertahan dengan posisi seperti itu sampai kamu selesai? Pegal, Zean."
Syila tidak sadar dengan apa yang dia ucapkan, wanita itu mengatupkan bibirnya seketika. Sementara Zean kini menganga dan mengerjap pelan, seakan tak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Ulangi coba," titah Zean bingung sendiri, dia tertawa sumbang melihat sang istri yang kini menegak segelas air di depannya hingga tandas.
"Hahaha bisa-bisanya, wajar saja licin ... memang menikmati ternyata," ucapnya asal ceplos hingga Syila khilaf dan memukul kepalanya dengan centong sayur.
"Diam!"
"Kenapa? Kamu malu? Keren bisa diam. Padahal biasanya kamu persis harimau, cakar sana cakar sini."
Dia yang seharusnya diejek, tapi keadaan justru berbalik hanya karena Syila tidak berpikir dulu sebelum bicara. "Benar kata Ibu, terkadang diam adalah pilihan paling tepat," batin Syila yang pasrah begitu saja kala Zean mengejeknya habis-habisan.
Hingga, tak lama berselang lampu tiba-tiba mati dan keadaan menjadi gelap gulita. Zean panik, dia segera berdiri dan memeluk sang istri agar tetap di sampingnya. Untuk beberapa alasan wajar saja Zean takut ada hal-hal yang tidak dia inginkan terjadi pada mereka.
"Peluk aku, apapun yang terjadi jangan lepaskan, mengerti?"
Keduanya berjalan begitu pelan meninggalkan ruang makan, hingga meniti anak tangga dengan perasaan was-was. Liciknya keluarga Halim membuat pikiran Zean benar-benar tidak tenang, bahkan di rumah sendiri juga dia merasakan ketakutan.
"Cih penakut, bisa-bisanya dia punya istri dua."
Sean menghela napas lega setelah berhasil membuat saudara kembarnya itu pergi tanpa perlu berdebat lebih dulu. Dia yang juga lapar tidak bisa menunggu terlalu lama pria berisik itu.
.
.
__ADS_1
- To Be Continue -