
Tidak ada pembicaraan selama perjalanan, Sean melaju dengan kecepatan sedang meski dia tahu Zean membutuhkan Syila segera. Sesekali pria itu melirik wanita di sampingnya melalui ekor mata, terlihat jelas dia cemas meski tidak bertanya.
Beberapa menit berlalu, wajah Syila semakin pias kala Sean memasuki area rumah sakit. Mulutnya seolah hendak bertanya, tapi Syila membatasi dan berpikir nanti akan tahu sendiri seperti yang Sean katakan ketika mnejemputnya.
"Tunggu sebentar," titah Sean yang kemudian turun lebih dulu.
Hujan sore itu belum reda, masih sama kacaunya bahkan semakin deras saja. Sean baru membukakan pintu untuk Syila kala dia sudah menyiapkan payung. Sedikit canggung dan Syila jelas saja ragu lantaran Sean hanya menyediakan satu payung untuk berdua.
"Ini terdesak, Zean akan lebih marah kalau kamu basah."
Seolah tahu apa isi hati Syila, pria itu menolak protes sebelum Syila layangkan. Untuk sementara dia tepis lebih dulu pikiran negatif tentang Sean, jujur saja ucapan Sean beberapa bulan lalu di pemakaman Ibra masih Syila ingat dengan begitu jelasnya.
Keduanya berlalu dengan langkah cepat, pikiran Syila semakin kacau kini. Menelusuri koridor rumah sakit dengan langkah kian tergesa, bahkan sedikit berlari demi menyesuaikan langkah panjang Sean.
"Sean sebenarnya suamiku kenapa?"
Merasa tidak mampu lagi berperang dengan pikirannya, pertanyaan itu lolos juga pada akhirnya. Sean masih memilih diam, hingga keduanya memasuki sebuah ruangan dan langkah Syila terhenti begitu melihat sang suami tengah terbaring lemah di sana.
Lutut Syila mendadak lemas, tubuhnya seakan amat berat hingga tidak mampu menahan tubuh mungilnya. Pandangannya mengembun kala menyadari firasat buruknya sejak tadi bukanlah mimpi.
"Shiitt!! Kenapa jadi begini?" batin Sean kala menyadari keadaan tidak sesuai dengan rencana.
Syila mendongak, dia meminta penjeasan pada Sean lantaran hendak mendekati sang suami dia tidak memiliki keberanian. Mertuanya sudah tiba lebih dulu, Sean tampak menggigit bibir dan merasa sama-sama terjebak dalam satu waktu.
"Hampiri suamimu, aku harus per_"
"Sean!!"
Belum sempat dia berlalu keluar, Zia menyadari kehadiran putranya lebih dulu. Di saat bersamaan, Mikhayla masuk dan membuat Sean tidak memiliki kesempatan untuk pergi.
"Sean? Papa!!" teriak Mikhayla seakan lupa jika Zean adalah pasien yang baru saja terpejam beberapa saat lalu.
__ADS_1
"Cepat tangkap Sean, Pa!!"
Kedatangan Sean yang mendadak jelas saja membuat mereka panik seketika. Mikhail yang sejak tadi bersedih menguatkan Zia, segera meringkus putranya dengan segala cara, termasuk mengikat tangan Sean dengan ikat pinggang.
Syila yang bingung harus bagaimana di saat keluarga ini justru terkejut dengan kehadiran Sean hanya bisa terdiam melihat mereka bergemul di tubuh Sean. Setelah dipastikan Sean tidak akan bisa lepas, Zia baru menyadari kehadiran Syila yang tampak bingung di sana.
.
.
"Wanita itu siapa? Kamu bawa istri, Sean?"
"Bu-bukan, Ma."
Sama sekali tidak pernah dia duga, jika kedatangannya membawa Syila untuk Zean justru berakhir seperti ini. Susah payah Sean megatur napasnya lantaran sang papa meringkus tubuhnya seperti seorang pencuri.
"Terus siapa?"
Bukan Sean ataupun Mikhayla yang menjawab, melainkan suara lemah itu milik Zean yang kini tetap bertahan dengan posisinya.
"Apa!!"
Tidak jauh berbeda seperti Mikhayla dan Mikhail, pengakuan Zean jelas saja membuat sang mama terkejut bukan main. Zia menghampiri Zean segera, khawatir putranya mengigau lantaran hingga detik ini dia masih terpejam.
"Zean katakan sekali lagi, Mama ingin dengar."
"Syila istriku, Ma," jawabnya kemudian membuka mata perlahan, hal itu meyakinkan Zia jika putranya dalam keadaan sadar.
Pertemuan macam apa ini, Syila yang masih bingung dan sama sekali tidak memiliki persiapan untuk bertemu keluarga suaminya jelas saja masih memilih diam di tempat. Hingga, Mikhayla yang paham posisi Syila meraih pergelangan tangannya agar mendekat ke sisi Zean.
"Khay, adikmu kenapa? Apa mungkin luka di kepalanya buat jadi halusinasi?"
__ADS_1
"Tidak, Ma ... Syila memang istrinya, Papa juga sudah tahu masalah ini."
Mikhail yang tengah mengamankan Sean terlihat pura-pura tidak menyadari tatapan tajam Zia. Pria itu tetap fokus duduk di pangkuan Sean agar putranya tidak bisa berdiri, sedikit kejam tpi hanya itu cara Mikhail bisa mmebuat Sean diam.
"Ya Tuhan, Zean ... kenapa bisa kamu melakukan semua ini diam-diam? Astaga."
"Maaf, Ma. Bukan maksud membohongi Mama, tapi memang belum waktunya. Mama boleh marah padaku, tapi jangan istriku."
Zia masih tidak habis pikir dengan putranya, wajah Zia masih belum bisa terbaca. Dia menatap teliti Syila dari ujung rambut hingga ujung kakinya, memang cantik dan dia sederhana. Mata Zia kemudian tertuju ke area perut yang tampak Syila tutupi ketika Zia memandanginya.
"Tidak, bukan marah ... Mama terkejut saja, apalagi kala Mama perhatikan dia sedang hamil, benar begitu, Syila?" tanya Zia pelan sekali, khawatir jika menyinggung Syila lantaran memang banyak wanita buncit di luar sana yang tersinggung lantaran diduga hamil.
"Iy-iya ... Ma," jawab Syila kaku sekali, takut disebut lancang tapi tidak mungkin jika dia menyebut Zia tante.
"Tapi kalian benar-benar sudah menikah, 'kan?"
Sebagai korban dari pria egois dan pemaksa seperti Mikhail, dia khawatir saja jika putranya mengikuti jejak sang papa. Terlebih lagi, jika dia lihat, Syila adalah wanita baik-baik dan tidak banyak tingkah.
"Mama pertanyaannya kenapa begitu? Syila hamil, sudah pasti aku nikahi lebih dulu ... aku tidak sebe-jat itu, Ma tolonglah."
Mikhail sontak mendongak dan berdehem seakan seekor tarantula tengah bersarang di tenggorokannya. Zean mungkin lupa jika Mikhail bisa saja mendengar percakapan mereka. Sementara Zia kini memerah lantaran menyesali ucapannya.
"Syukurlah, Mama hanya takut kamu merusak anak gadis orang, Zean."
"Tidak, Ma ... percaya padaku, putra mama yang satu ini sangat suci sekali," ujar Zean tertawa sumbang, tapi terhenti lantaran rahangnya terasa sakit.
"Kualat, mulutmu dijaga, Zean."
.
.
__ADS_1
- To Be Continue -