Istri Rahasia Sang Presdir

Istri Rahasia Sang Presdir
BAB 122 - S2 - Kacang Lupa Kulit


__ADS_3

"Ra?"


"Jangan masuk, Kak."


"Ya Tuhan gelinya."


Menyesal sekali Ameera mengikuti saran konyol sang kakak. Berhasil memang, bahkan Hudzai yang lemas akibat menangis, kini terpejam dengan mudahnya. Mungkin karena sejak bayi Ameera dan Lengkara kerap menjaganya, tidak jarang Hudzai tidur di kamar mereka bergantian dan dijaga sepenuh hati layaknya anak sendiri.


Namun, untuk yang kali ini perjuangan Ameera agak sedikit menggelikan. Wajahnya memerah seraya menggigit bibir demi menahan geli dan perasaan yang sama sekali tidak bisa dia ungkapkan. Hudzaifah betah berlama-lama seolah Ameera benar-benar ibunya.


"Sudah, Hudzai ... geli aaaaww."


Dia ingin berteriak, tapi di luar Sean tentu menunggu dan jelas akan semakin bahaya jika sang kakak melihat bagaimana dirinya saat ini. Ameera meringis, mungkin miliknya lecet akibat gigi Hudzai yang seakan sengaja menyakiti dirinya.


"Baaa, sudah sembuh, Sayang?'


Hudzai yang tampak bingung, melepaskan pagutannya. Mungkin baru sadar jika Ameera bukan Syila. Bak kacang lupa kulit, dia berlalu begitu saja meninggalkan Ameera yang sudah berjuang layaknya ibu kandung. Ya, meski tidak ada isinya, tetap saja nyusu.


"Dih, bilang makasih kek, cium kek atau apa begitu."


Tidak jauh berbeda dari Zean, Hudzai memang kerap mengabaikan lawan bicara tapi enggan diabaikan. Ingin Ameera biarkan baju basahnya itu, tapi nalurinya mengucapkan berbeda hingga segera mendekati Hudzaifah demi melepas bajunya.


"Hudzai, makasih dulu apa salahnya sih, cowok sombong satu ini."


Tidak peduli meski pu-tingnya mungkin lecet, Ameera masih terus menciumnya. Terlebih lagi saat ini dia yang hanya menggunakan pampers membuat anak itu semakin menggemaskan.


"Acih, Onty."


Terlihat sangat tidak ikhlas, dia juga sibuk sendiri dan enggan menatap wajah Meera. Entah malu karena sudah menyusu, atau karena kesal lantaran merasa ditipu. Yang jelas, saat ini dia tampak mengabaikan Ameera.


Kegiatan Ameera terhenti kala mendengar ketukan pintu berkali-kali, sudah tentu itu dari Sean. Dia sampai lupa jika Sean masih menunggu di luar. Bukti jika Sean memang sangat menyayangi Hudzaifah meski tidak segila Mikhail.


"Boleh masuk belum?"


"Boleh."


Memasuki kamar adik perempuannya bukan hal asing, Sean memang kerap masuk jika ada yang perlu dia ambil, sisir misalnya. Kini dia mendorong perlahan pintu itu, sadar jika mereka sudah sama-sama dewasa dan tetap harus berbatas.

__ADS_1


"Berhasil?"


"Hm."


"Lah, mukanya kenapa begitu? Harusnya bahagia dong," ucap Sean sedikit bingung lantaran wajah adiknya kini berubah masam ketika menatapnya.


"Saran Kakak memang sinting."


"Hahahahahahaha latihan jadi ibu, tidak ada salahnya."


"Eeuugh!! Tidak ada yang lucu," kesal Ameera mendelik tak suka pada Sean yang kini naik ke ranjangnya.


"Iyuuh!! Kakimu ... Ck, turun, Kak!! Turun!!" pinta Ameera paling sebal jika seseorang sudah naik ke tempat tidurnya dengan kaki seperti itu.


"Sabar sedikit apa salahnya? Marah-marah terus aneh."


Sean bergumam pelan dan kembali berbaring di tempat tidur Ameera. Memang tidak ada hal yang menyenangkan selain mengganggu adiknya dan bermain bersama Hudzai untuk saat ini.


"Kak."


"Hm."


"Ck, kenapa? Dalam minggu ini kamu sudah memintaku menikah lebih dari 20 kali ... kenapa memangnya?"


"Kata peramal yang waktu itu, jodohku terhambat karena Kakak belum menikah. Antara kita berdua terpaut sukma yang saling menghalangi, jadi jodohku tidak akan hadir kalau Kakak belum menikah."


Ameera mulai menyampaikan keluh kesahnya. Dia juga ingin merasakan cinta yang sebenarnya seperti Lengkara. Selama ini, belum ada yang bisa dia katakan benar-benar menginginkan dia.


"Jiahahaha sekolah dimana? Bawah batang ubi atau akar pohon pisang sampai bodohnya mengalir begini? Percaya pada peramal, itu mungkin karena kamu kurang seksi ... belajar sama Lengkara sana, bukan malah memaksaku menikah."


"Dih, dibilangin ngeyel. Kakak jangan lupa Papa kemarin bilang apa? Menikahlah, Sean ... Papa sudah uhuk-uhuk. Begitu, Kak."


Sean hanya terbahak mendengar adiknya yang dengan lancang mencontoh bagaimana Mikhail memintanya menikah bahkan sampai terbatuk kemarin. Entahlah, apa yang membuat orang-orang ini sibuk sendiri sebenarnya.


"Nanti saja."


"Nanti, nanti kapan?"

__ADS_1


"Kapan-kapan sebelum dikafani," ucap Sean asal sebagai penutup pembicaraan menyebalkan yang sama sekali tidak Sean sukai.


Beberapa saat keduanya terdiam, Sean tampak fokus dengan ponselnya kini. Sementara Ameera hanya memantau Hudzai yang sibuk sendiri dengan lemari pakaiannya. Terserah, selagi dia diam tidak masalah, pikir Ameera.


"Ra."


"Apaan?"


"Pinjam motor dong, aku mau ke Bandung," ucapnya kini beranjak dari tempat tidur dan mendekati Ameera.


Jika ada maunya, memang dia begini. Mendekat, merayu dan tentu dia menginginkan motor itu. "Motor Kakak ada, kenapa harus motorku?"


"Ck, jangan ... nanti dikira kaya, pakai motormu saja."


"Maksud kakak motorku murahan?Gitu-gitu namanya tetap motor ya, bukan onta." Motor yang dia beli dari hasil endorse sebagai seorang infulencer itu sangat berharga, bisa-bisanya dianggap remeh oleh Sean.


"Iya itu pokoknya, ya, Sayang? Adikku yang paling cantik ayo dong ... hm? Ayolah, nanti pulang Kakak beliin batagor Bandung."


Lihatlah, dia berubah sebaik itu, rayuan mautnya benar-benar maut dan kalimatnya sangat berbeda dari hari biasanya. Ingin sekali Ameera mencolok mata Sean dengan jemarinya.


"Batagor di depan banyak."


"Ini beda, ayolah, Meera ... ya? Boleh ya? Please, katanya sayang Kakak, Ra."


"Ck, ke Bandung Kakak mau apa memangnya?"


"Reuni, nanti Kakak sampaikan salammu pada Rangga," ucap Sean kemudian seraya mengedipkan matanya.


"Yaudah iya, awas rusak ya motornya."


"Aman, motormu akan kembali dengan aman."


.


.


- To Be Continue -

__ADS_1


Hudzai : "Jangan onty ... Motor onty gabakal om tean balikin."



__ADS_2