Istri Rahasia Sang Presdir

Istri Rahasia Sang Presdir
BAB 109 - Melelahkan


__ADS_3

Susah payah berjuang, dan hanya dimakan beberapa suap. Zean melongo, sama sekali tidak percaya kala melihat Syila hanya makan sedikit sementara dia sudah mengambil jatah cukup banyak. Benar dugaan Yudha, istrinya hanya ingin sedikit bahkan syukur-syukur jika dimakan.


"Kenapa? Bukan ini yang kamu mau?"


"Benar ini ... aku cuma penasaran rasanya, enak ternyata."


Sabar, Zean berusaha menenangkan diri dan tidak meluapkan emosi lantaran yang di depannya ini adalah seorang istri, bukan sekretaris ataupun kasir minimarket. Mau dia apakan yang lainnya jika satu saja tidak Syila habiskan, sungguh Zean ingin menangis rasanya.


"Kenapa begitu? Habiskan, Syila ... aku sudah jauh-jauh ke sana, Sayang."


Sebenarnya Syila sedikit mual, jujur saja dia memang benar-benar menginginkan nasi berkat seperti yang dahulu kerap dibawakan mendiang ayahnya. Sama sekali Syila tidak berbohong, tapi entah kenapa ketika nasi itu sudah ada di hadapannya, perutnya mendadak kenyang begitu saja.


"Sama-sama ya? Mana habis kalau sendirian," ucap syila mencebikkan bibirnya, dia masih berusaha menghargai usaha Zean, tapi jujur saja tidak mungkin habis jika dia sendirian.


Zean mendengkus kesal, terlihat jelas dia tidak puas jika Syila tidak memakan habis nasi itu. Kalau tahu begini, menyesal dia sok akrab demi dapat jatah tambahan seperti tadi, memalukan sekali memang.


"Marah ya? Ya sudah kalau tidak mau, aku makan sama mba Riris saja."


"Tidak, mana mungkin aku marah.'


Dia mengulas senyum kemudian, secepat itu reaksi Zean berubah. Ekspresi tak terbaca yang sungguh tak terduga, Syila hanya tertawa sumbang menatapnya.


"Tadi kemana dulu? Kok lama?" tanya Syila seraya merapikan rambut Zean yang mulai menutupi alis itu.


"Antar Sean dulu, temani Papa makan dulu ... kamu kelamaan nunggu ya?"


Meski hanya beberapa menit Zean mengunjungi Mikhail, tetap saja dia merasa bersalah. Andai saja segera pulang, mungkin Syila tidak akan menunggunya terlalu lama hingga tertidur di sofa ruang tamu seperti tadi.


"Lumayan, kok bisa dapat ginian? Mirip lagi seperti yang suka Ayah bawakan dulu."

__ADS_1


Semua sangat sesuai dengan keinginan Nasyila, tidak ada sedikitpun yang berbeda bahkan dia merasa seperti kembali ke masa lalu. Zean tampak berpikir dan tersenyum penuh kemenangan, mungkin dia tengah merasa bak pahlawan untuk sang istri.


"Kamu tidak perlu tahu prosesnya bagaimana, yang penting aku berhasil mendapatkannya."


Beberapa saat lalu Syila mengatakan kenyang, tapi sesuap demi sesuap masih tetap dia terima. Zean berusaha mencari topik agar Syila menghabiskan nasi itu tanpa sisa, hatinya belum puas jika Syila tidak menghabiskannya.


"Lain kali tidak lagi, aku jadi merasa bersalah kalau sampai Yudha dan Sean sibuk sendiri."


Memang benar sebenarnya, Syila merasa bersalah dan mengatakan ini kali terakhir. Sementara Zean jelas berbeda dan menurutnya tidak ada yang salah. Toh, Yudha dan Sean mendapatkan manfaatknya juga.


"Mereka saudaraku, jadi tidak masalah, Syila."


Suapan terakhir, tanpa Syila duga jika dia sudah menghabiskan sebanyak itu. Zean bahagia luar biasa, ini adalah sebuah kebanggan baginya. Jika boleh, dia ingin syila meminta hal lain, tapi tentu jangan seperti ini.


Keduanya kembali ke kamar usai merasakan perutnya sekan hampir meledak itu. Syila kekenyangan hingga kesulitan berjalan akibat dipaksa makan layaknya bayi dengan sejuta tipu muslihat Zean.


"Syila."


Syila menoleh sekilas ke arah sang suami yang kini duduk di sebelahnya. Perutnya terisi penuh dan jelas tidak mungkin bisa tidur secepatnya.


"Tadi Mama tanya, resepsi kita bagaimana?"


Baru mendengar pertanyaan Zean, napas Syila sudah sedikit lelah. Bukannya dia enggan, tapi memang keadaan saat ini tidak memungkinkan dari hatinya tidak siap jika harus melaksanakan pesta pernikahan.


"Tapi kalau kamu tidak mau juga tidak masalah."


"Bukan begitu, tapi saat ini ibu masih mengkhawatirkan ... lagipula kandunganku sudah besar begini, apa nanti tidak akan jadi bencana? Nama kamu mungkin bisa lebih jelek dari Nathalia, coba pikirkan lagi."


Selain karena Syila merasa keberatan dengan perutnya, dia juga khawtair Zean akan dicap sebagai pria ynag sama buruk seperti mantan istrinya. Usia kandungan tidak bisa dibohongi, entah kenapa Syila merasa lebih aman jika yang mengetahui pernikahan mereka hanya orang-orang terdekat saja.

__ADS_1


"Masalah perutmu tidak masalah, tapi kalau soal ibu ... ya sudah, kapan-kapan saja, jangan dipikirkan soal ini."


"Tapi kalau kamu mau tidak masalah, asal jangan terlalu ramai saja ... aku takut," ucap Syila yang terdengar sedikit lucu bagi Zean.


"Takut kenapa?"


"Takit saja, kalau nanti aku dibanding-bandinkan dengan mantan istrimu ... ah aku pasti dibully mati-matian."


Sudah sejauh itu pikiran Syila, terlebih lagi penggemar suaminya sebagai pembicara masa kini rata-rata perempuan, jelas saja dia khawatir hal semacam itu akan terjadi.


"Sempit sekali pikiranmu, lagipula saat ini Nathalia sudah dianggap sampah, mana mungkin mereka berkata buruk tentangmu, Syila."


"Siapa tahu, kita tidak tahu bagaimana jahatnya mulut mereka."


"Tidak akan, berani membuat istriku menangis artinya dia sudah siap kehilangan nyawa," tutur Zean menghela napas panjang, komik yang dia baca mendadak membosankan usai bicara panjang lebar bersama Syila di tempat tidur dengan posisi begini.


"Sayang, kenapa aku sedikit lelah begini ya?"


"Hari ini pergi jauh, jadi wajar saja ... mau kupijat?" Syila menawarkan diri, belum juga Zean menjawab dengan bibirnya secepat itu Zean melepas baju dan merebahkan tubuhnya di hadapan Syila.


"Ayo, aku benar-benar lelah hari ini."


"Tidak ada basa-basinya, nolak dikit kek," ujar syila mneggeleng pelan dan sedikit menyesal telah menawarkan diri beberapa saat lalu.


"Di hadapanmu aku tidak punya alasan untuk jual mahal, Syila ... aku tahu kamu pasti sangat ingin menjamah tubuh suamimu ini."


"Masih sama, dan sepertinya seumur hidup dia akan begini ... tapi, aku mencintainya."


.

__ADS_1


.


- To Be Continue -


__ADS_2