
Jika sebelumnya, Sean yang dibuat gugup ketika pertama kali memasuki lobby perusahaan. Hari ini, Zean merasakan hal yang sama. Bukan gugup karena khawatir dimaki bos Sean, akan tetapi dia khawatir tubuhnya pulang dengan keadaan tidak utuh nanti malam.
Hanya demi mengikuti keinginan Sean yang ingin membuat Nathalia menangis darah di penghujung pernikahan mereka, Zean terpaksa terjun ke lapangan begini. Terbiasa dengan pekerjaan yang mengandalkan otak dan pemikiran, kini dia harus menggunakan otot serta ketelitiannya.
Sama seperti Sean yang butuh diarahkan, Zean juga demikian. Hari pertama mereka sudah berdebat lantaran Zean bingung cara menambal ban bagaimana. Sean hanya bekerja di bengkel kecil dengan peralatan seadanya, dan ini benar-benar menyiksa.
"Katakan saja bagaimana caranya, Sean ... sudah dua kali aku coba, orangnya tetap kembali lagi."
Dia mengadu, sungguh hal ini membuat Zean frustrasi. Pelanggan pertama, tapi hati Zean sudah benar-benar kacau dan ingin sekali melontarkan kata-kata mutiara pada wanita dewasa yang dia yakini adalah ibu-ibu di komplek ini.
"Ulangi cara yang tadi kau lakukan, pasti ada yang salah ... pastikan dulu tidak ada udara yang keluar baru kau pasang lagi, Zean."
"Augh!! Menyebalkan sekali pekerjaan begini ... berapa gajimu sebenarnya?"
Meski dia mengomel, Zean tetap mengikuti perintah Sean. Sementara pemilik motor itu sedang duduk manis menatapnya, entah kagum dengan ketampan Zean atau tengah memastikan ban motornya tidak terbakar di tangan pria itu.
"Sabar, Zean ... kau pernah mengatakan, cintailah pekerjaanmu maka semua akan terasa mudah."
Sepertinya sejak hari ini Zean akan menyangkal hal itu. Pada faktanya, dia tidak bisa memaksakan cinta kepada pekerjaan yang menguras tenaga dan emosi sekaligus semacam ini.
"Hetikan bualanmu, Sean ... ini sudah kutambal lagi, terus bagaimana?"
Cukup lama dia berjuang, bahkan tangannya terasa perih karena terus memaksakan diri. Untuk yang kali ini dia yakin sudah berhasil, sudah sesuai dengan perintah Sean dan jika nanti masih bocor juga, maka yang salah adalah bannya.
"Kau pikun atau bagaimana, seperti tadi, Ze ... isi anginnya dan pastikan tid_"
"Iya, santai saja aku mengerti."
Sean menghela napas panjang, tampaknya kecerdasan Zean memang bukan omong kosong belaka. Akan tetapi, pria itu terlahir dengan sejuta kecerdasan dan mampu mempelajari segala hal dengan cepat.
__ADS_1
Beberapa saat memang terdengar tenang, akan tetapi dentuman keras terdengar. Hal itu tentu saja membuat fokus Sean terpecah, dia khawatir jika saudaranya tertimpa atau mengalami kecelakaan kerja.
"Zean? Apa yang terjadi?"
Samar terdengar di telinga Sean, suara seorang wanita yang tengah memaki saudaranya. Pria itu mendengar dengan teliti dan beberapa saat kemudian dia menyimpulkan jika Zean telah membuat kesalahan.
.
.
"Gimana sih? Seperti anak magang saja, kenapa juga ban saya sampai meletus begini."
Inilah yang terjadi, Zean terlalu lama dan memang sepertinya ban tersebut sudah menipis hingga berakhir hancur begitu. Zean mengeraskan rahang dan menatap wanita itu penuh kekesalan, ini adalah kali pertama dia dianggap sebodoh itu bahkan dicap sebagai pria tidak berguna.
"Kalau tidak becus mending berhenti!! Kamu tu cocoknya kerja di salon, potong rambut sana ... nyesel saya datang ke sini!!"
"Maaf, saya akan ganti kerugian Ibu."
Sulit sekali mengontrol lidah Zean untuk berbicara yang baik di saat begini. Sebisa mungkin dia berusaha menyelesaikan masalah agar tidak berbuntut terlalu panjang.
"Ganti pakai apa? Kerja kamu cuma begini ... ingat ya, sekalipun muka kamu mirip suami Nathalia Velova saya mah tidak yakin rekeningnya sama,"
Sial, seseorang menyadari penampilannya. Zean tidak bisa menggunakan kekuatan uangnya saat ini, jelas saja dia khawatir wanita ini kian curiga. Terpaksa, dia harus berpura-pura miskin sekalian, padahal dia sudah berusaha dan membuat pakaiannya sengaja kotor agar terlihat dekil dan tidak terlalu kentara.
"Saya ada uang sisa kemarin, segini cukup, Bu?"
Zean merogoh saku celananya, kebetulan dia memiliki beberapa pecahan yang dia total mencapai seratus ribu. Lengkap sudah penyamaran Zean, dengan uang kusut dan recehan begitu jelas tidak ada yang mengira jika dia konglomerat di negeri ini.
"Udah ngasih ribuan, lusuh lagi ... segini mana cukup. Ckckck anak muda zaman sekarang, tampang aja dipeduliin," kesal wanita itu berlalu dan meminta bantuan seseorang yang bisa membawa motornya ke bengkel lain.
__ADS_1
"Cih? Aku baru saja dihina sekarang?" Zean seakan tidak percaya dengan apa yang dia alami sekarang.
Terbiasa dengan kehidupan sempurna dan semua mengaguminya, Zean tertekan kala pertama kali merasakan bagaimana tajamnya mulut wanita itu dalam mencerca kekurangannya.
Sementara di seberang sana, Sean tengah menikmati apa yang terjadi pada Zean sebagai hiburan. Tampaknya, bukan hanya mental Nathalia dia buat tertekan sampai mengurung diri di kamar, kini Zean juga kena imbasnya.
"Hahaha it's okay, Zean ... kau akan terbiasa nantinya."
"Si kambing sial-an ... diamlah, ini tidak lucu sama sekali," umpat Zean sebelum kemudian mengakhiri panggilan teleponnya.
.
.
Jauh dari keberadaan Zean ataupun Sean, menjelang sore Nathalia baru berani keluar. Tadi malam dia menangis lantaran Sean menghilangkan akun sosial medianya. Hal itu bukan tanpa alasan, berawal dari Nathalia yang enggan mengikuti perintah Sean untuk berhenti mengunggah hal-hal tentang dirinya.
Tanpa ancaman dan aba-aba sama sekali, akun Nathalia dengan pengikut belasan juta itu hilang di telan bumi. Jelas saja hal itu membuatnya tertekan bahkan menghindari seluruh panggilan sutradara dan para rekannya akibat Sean kacaukan tadi malam.
"Mbak, makan siang hari ini mana?"
"Loh, kata Tuan tidak perlu masak, Non."
"Sialan!! Apa maunya anak mama itu!!"
Nathalia mengepalkan tangan, kenapa Zean mendadak antagonis begini, pikirnya. Dia yang muak memutuskan untuk mendatangi Zean ke kantor, Entah apa alasan pria itu yang selalu menghalanginya untuk sekadar mengisi perut.
- To be Continue -
Hai-hai, terkhusus yang belum klik favorit jan lupa ya, Bebs🧚♀
__ADS_1