Istri Rahasia Sang Presdir

Istri Rahasia Sang Presdir
BAB 85 - Munafik


__ADS_3

Keputusan Nyayu yang membawa pergi Zulia tanpa izin jelas saja kesalahan. Keadaan Zulia masih mengkhawatirkan, hingga Zean memutuskan kembali membawa mertuanya ke rumah sakit. Dia yang sejak dahulu memang berperang batin bersama wanita ini marah besar. Bagi Zean, penyebab mertuanya semakin memburuk begini adalah Nyayu sendiri.


Tidak peduli seberapa keras Nyayu membantah dan menuduh Syila sebagai sebab utama. Andai saja Nyayu dapat bersikap bijaksana dan tidak menghasut Zulia, tentu tidak akan seburuk ini.


"Aku hanya sedang menghukumnya."


"Hukum? Anda siapa? Sekalipun Anda saudara kandungnya tetap saja tidak berhak."


Zean benar-benar tidak bisa melepaskan wanita ini, lidahnya terlalu gatal jika hanya berdiam diri. Setelah kembali ke rumah sakit, dia menahan Nyayu sesegera mungkin untuk bicara empat mata.


"Saya? Saya adalah orang yang menjadi saksi kehidupan Tante Zulia ... keluarga kami sangat membenci orang ketiga, pantang bagi kami menerima seorang pengkhianat dan Syila sendiri tahu akan hal itu. Tapi munafiknya, dia justru menjadi orang ketiga dan simpanan seorang pengkhianat."


Benar-benar tidak merasa bersalah, prinsipnya tentang orang ketiga sungguh tidak terbantahkan. Zean yang mendengar dengan teliti ucapan wanita itu hanya tertawa sumbang sebelum kemudian kembali menatapnya tajam.


"Cih, munafik? Sebelum Anda mengatakan hal yang tidak berguna tentang istri saya, coba berkaca ... ada kaca, 'kan di rumah? Oh atau tidak punya? Saya sarankan beli, uang dari saya sepertinya sangat cukup untuk membeli kaca."


"Sejak awal saya katakan, Syila bukan orang ketiga. Saya yang menginginkan dia hadir dalam hidup saya ... saya rasa otak Anda masih berguna, apa yang anda dengar di televisi sudah cukup untuk menjelaskan jika pernikahan saya memang sudah rusak jauh sebelum kehadiran Syila."


Terlalu panjang Zean bicara, sampai dia harus menarik napas lebih dalam. Dia belum selesai, sama sekali belum terpuaskan sekalipun wanita itu sudah bungkam dan tidak seperti pertemuan sebelumnya.

__ADS_1


"Anda boleh membenci saya jika memang dianggap pengkhianat, tapi sekali lagi saya tegaskan Ayana Nasyila tidak sehina yang Anda katakan ... sudah jelas? Saya harap anda bisa mengerti bahasa manusia."


Usai membuat Nyanyu terdiam, Zean berlalu pergi tanpa mengucapkan salam atau apapun. Jika dahulu dia masih bersikap sopan lantaran memandang Syila sebagai istrinya, saat ini tidak sama sekali.


Sejak dahulu, prinsip hidup Zean sudah begitu. Siapapun boleh menyakitinya, tapi tidak untuk seseorang yang dia cintai. Susah payah dia menahan diri untuk tidak menyakiti Nyayu, berhasil memang. Setidaknya, dia terpuaskan karena sudah mengatakan sesuatu yang bersemayam dalam benaknya.


Zean melangkah panjang, sudah lama dia tidak bersikap kasar semacam itu. Memasuki ruangan VIP tempat dimana Zulia sekarang, tatapannya sejenak berlabuh pada Syila yang tengah menggenggam jemari mertuanya.


"Kau dari mana?" tanya Mikhail menatap curiga putranya yang tampak berkeringat itu.


"Toilet, Pa."


Mikhail sudah mengucapkan banyak terima kasih dan kata maaf pada Zulia atas nama Zean. Meski, pembicaraan itu sepihak, tapi Mikhail yakin wanita itu menerima kehadiran mereka.


Begitupun dengan Zia, wanita itu bicara dengan penuh kelembutan. Usia mereka memang terlihat jauh berbeda, sebelumnya juga Syila sempat katakan bahwa dia adalah putri satu-satunya yang lahir ketika ibunya tidak begitu muda lagi.


Zean mendekat, awal menikah dia bahkan lebih dulu bersikap manis pada mertuanya dibandingkan Syila. Pujian-pujian Zulia sangat dia rindukan, dia memang terlambat dan seharusnya sejak awal tidak mempercayakan Nyayu merawat mertuanya.


.

__ADS_1


.


Malam ini akan mereka lalui di rumah sakit lagi, keputusan bodoh Nyayu benar-benar berdampak buruk. Zean tidak ingin terjadi hal yang tidak-tidak, maka dari itu dia harus menunggu keadaan Zulia memungkinkan untuk dirawat di rumah saja.


"Nanti kita rawat Ibu ya," ucap Syila tanpa menatap Zean yang sejak tadi duduk di tepian pembaringan.


"Iya, kita pulang ke rumah ... rawat Ibu, dan kita mulai lagi kehidupan yang sesungguhnya."


Syila mengangguk pelan seraya mengulas senyum. Dia terlihat lelah, tapi senyumnya lebih leluasa di mata Zean.


"Kamu kapan tidurnya?"


"Sebentar lagi, belum ngantuk," jawabnya kemudian menguap besar sekali, Zean menutup mulut Syila dengan telapak tangan hingga wanita itu menepisnya cepat.


"Jangan bantah, matamu sudah merah."


.


.

__ADS_1


- To Be Continue -


__ADS_2