
Zean terlalu baik untuk Nathalia, bahkan setelah semua kebohongan yang telah dia lakukan pria itu sama sekali tidak memiliki keinginan untuk membuatnya menangis darah. Namun, hal itu berbeda jika Sean yang bicara. Mengetahui wanita pembawa sial itu mengelabui keluarganya sedalam itu jelas saja dia marah.
Sesuai dengan rencana awal, yang mengetahui hal ini hanya mereka berdua. Mikhail hanya menyetujui kala Zean mengatakan agar bergerak dengan caranya, tanpa harus menyerang Halim secara terang-terangan.
Meski sempat terjadi drama sakit kepala akibat mendengar kelakukan menantunya, Mikhail kini merasa lebih baik dan membebaskan Zean untuk berbuat Semaunya. Dia juga tidak tinggal diam, selama Zean menyingkirkan Nathalia, pria itu akan terus mengambil alih Halim dan membuat pria itu terlena dengan hubungan yang terlihat sama sekali tidak ada cacatnya.
Terlanjur, semua bermula dari sandiwara dan biarlah sandiwara itu yang menyelesaikannya. Begitulah ucapan Mikhail yang dia lontarkan usai melihat bukti nyata perselingkuhan menantunya.
Semua harus berjalan sebaik mungkin dan Zean tidak ingin apa yang mereka rencanakan kacau begitu saja. Perbedaan Sean dan dirinya membuat mereka perlu waktu, satu minggu Sean dia minta merawat diri dan berhenti bekerja demi membuat segala sesuatu sedikit masuk akal.
Namun, memang jelas tidak akan mudah membuat Sean sebening Zean dalam waktu singkat. Hal ini sudah Zean duga, hingga dia sengaja terbang ke luar kota sejak satu minggu lalu demi mengelabui Nathalia.
Tentu dengan membawa serta istri tercintanya. Syila yang tiba-tiba diajak liburan jelas saja bingung, ditengah pekerjaan menumpuk Zean tiba-tiba mengajaknya pergi. Sementara Yudha yang tidak tahu apa-apa hanya bisa menunggu bosnya pulang dari bulan madu berkedok pekerjaan itu.
Bukan berarti Zean ingin menipu Yudha juga, akan tetapi hal ini memang sudah kesepakatan antara mereka berdua. Satu minggu telah berlalu dan waktu istirahat Sean sudah usai, hari ini pertamanya menjalankan peran sebagai Zean di kantor.
Tentu saja Yudha bersiap menyambutnya, pria itu sudah berdiri di depan ruang sang presdir dengan harapan ingin menyapa Syila juga. Yah, meski wanita itu sudah menjadi istri bosnya tetap saja dia ingin menyapa Syila pagi ini.
Namun, pagi ini matanya sudah dibuat bingung dengan penampilan bosnya. Kacamata hitam dan rambut yang sedikit pendek dari sebelumnya, apa mungkin sengaja merubah penampilan, pikir Yudha.
"Selamat pagi, Pak."
Yudha menepis sejenak pikirannya, mungkin pengantin baru auranya akan berbeda setelah bulan madu. Mata Yudha masih sangat jeli memerhatikan tangan Sean, tentu saja sedikit berbeda dari Zean.
__ADS_1
"Woah, anda rajin olahraga sekarang?"
Pertanyaan itu spontan sebenarnya, Yudha sama sekali tidak sadar dan secepat mungkin dia meminta maaf lantaran terlalu lancang pada atasannya. Akan tetapi, Hal tidak terduga justru Yudha dapatkan pagi ini.
"Iya, olahraga malam lebih tepatnya ... jaga matamu, Yudha, aku sudah punya istri dan tidak tertarik dengan laki-laki," ucapnya datar disertai tawa kecil yang membuat Yudha sejenak lebih tenang.
"Kerasukan apa? Tumben tidak tersinggung."
Yudha hanya tersenyum simpul mendengar jawaban Sean. Syila benar-benar mengubah bosnya hingga mulut pedasnya sedikit bisa dijaga, atau mungkin memang belum saja? Entahlah, saat ini Yudha berharap jika atasannya tidak mudah tersinggung lagi.
"Oh iya, sekretaris Anda ... apa belum bisa masuk, Pak?"
Sean tampak berpikir, dia menatap Yudha dari balik kacamata hitam itu penuh ketelitian. Memastikan jika siapapun tidak curiga siapa dirinya, termasuk orang yang paling dekat dengan Zean.
"Sudah aku pecat ... aku tidak mau sakit jiwa karena Anggara."
"Hah? Pecat lagi?"
"Kau tuli? Perlu kuulangi, Yudha?"
Mulutnya kembali ke pengaturan awal, memang salah Yudha berharap lebih jika pria ini akan lemah lembut. Hari pertama masuk kerja, dan Yudha kembali harus dibuat repot dengan permintaan Sean.
"Kriterianya bagaimana?"
__ADS_1
"Seperti biasa, pastikan menguasai bidangnya dan jangan terlalu cantik ... aku tidak ingin Syila cemburu."
Sebagaimana pesan Zean, sekretaris baru tidak boleh lebih cantik dan lebih muda dari syila. Sean sebenarnya tidak begitu peduli, toh peran yang dia yang sebenarya adalah di hadapan Nathalia. Akan tetapi, entah Zean tengah mengambil kesempatan atau apa, pria itu meminta Sean bertukar posisi sepenuhnya.
"Sekarang, pak?"
"Tahun depan," jawab Sean santai, tapi bibit kemarahan sudah terpupuk dalam benaknya.
"Syukurlah, pekerjaan saya padat sekal_"
"Yudha!! Ya sekarang ... pertanyaanmu konyol sekali," ketus Sean kemudian berlalu masuk ke ruangan Zean.
Belum apa-apa kepalanya sudah sakit, apa mungkin Zean menderita seberat ini selama dia tinggalkan, pikir Sean. Jujur saja, sebenarnya dia juga khawatir tidak akan mampu menjalani peran sebagai Zean sepenuhnya, dunia mereka terlalu berbeda dan kali ini Sean paksakan demi membuat saudaranya menikmati kebahagiaan.
Brugh
Sean duduk di kursi kebesarannya, nyaman dan empuk sebagaimana yang kerap dia rasakan ketika ikut Mikhail ke kantor dahulu. Kini, dia akan memainkan sebuah drama yang berperan amat penting tentu saja.
"Sepertinya akan membosankan, Zean harus membayar mahal nanti."
Sean mengutak-atik semua benda yang ada di mejanya. berada di ruangan dingin dan kursi empuk membuat Sean mengantuk seketika, padahal tadi malam dia sudah tidur nyenyak di ranjang Zean.
.
__ADS_1
.
- To Be Continue -