
Dalam satu waktu, Syila harus merasakan luka dan kebahagiaan bersamaan. Meski tidak bisa dipungkiri langkah yang Syila jalani memang salah. Yah, sejak dahulu dia menyadari dan tidak berharap lebih dengan pernikahannya bersama Zean. Semata-mata hanya demi Zulia, tentang perceraian suaminya sama sekali bukan kehendak Syila.
Namun, untuk saat ini memang dia tidak bisa melunakkan hati manusia dengan sejuta pembelaan yang dia lakukan, terlebih di hadapan Nyayu dan juga sang ibu. Sebagai satu-satunya harapan, wajar saja jika keluarganya kecewa dengan apa yang Syila lakukan.
Zean bangun lebih dulu, rutinitasnya akan kembali seperti semula. Kembali dengan kemeja serta statusnya sebagai pemimpin MN Group. Tidak lagi bermandikan oli seperti sebelumnya. Sedikit sedih, tapi Zean tidak mungkin selamanya bersandiwara hanya demi nyaman menjadi Sean.
Sebelum istrinya terjaga, pria itu sudah menyiapkan sarapan lebih dulu. Saat ini, Zean memang masih benar-benar berdua tanpa bantuan asisten rumah tangga. Bukan karena tidak mampu, tapi lagi-lagi dia tidak ingin Syila terancam.
Selang beberapa lama, Syila menghampiri dengan wajah bantalnya. Terlihat jelas jika dia mencari Zean ketika membuka mata, pria itu tersenyum simpul menyambut sang istri.
"Kamu bisa masak?"
"Bisa, cuma telur apa susahnya."
Manusia memang kerap meninggi, Syila tersenyum tipis kemudian mendekat. Hanya menggoreng dua telur, tapi persiapan Zean seperti hendak masak daging kurban. Tidak ada yang salah sebenarnya, mungkin telur dadar versi Zean memang selengkap itu.
"Kamu kenapa? Tidak ada yang salah, 'kan?"
"Tidak, aku penasaran bagaimana rasanya."
Meski lebih mirip bakwan sayur, Syila tidak masalah. Mungkin Zean ingin gizi yang seimbang hingga bentuknya begitu. Tanpa terduga, rasanya jauh dari yang Syila bayangkan. Mata wanita itu bahkan membola dan bibirnya tidak mampu berkata-kata.
Ini adalah telur dadar yang tidak pernah Syila rasakan. Lidahnya mencoba menyesuaikan diri, tapi lambungnya berontak hingga Syila tidak lagi mampu berpura-pura dan mengeluarkan seluruh isi perutnya.
Melihat istrinya mendadak mual jelas saja Zean khawatir, walau memang wanita itu tengah hamil, tapi rasanya tidak mungkin hanya pengaruh bayi dalam perut Syila semata. Pria itu segera menghampiri Syila seraya memijat belakang lehernya, sontak dia merasa bersalah.
"Sayang kenapa?"
"Telurnya manis, masakan kamu memang begitu atau salah kasih bumbunya?" tanya Syila masih mencoba berpikir bahwa Zean tidak salah, walau secara logika dia sendiri bingung siapa yang masak telur dadar semanis martabak bangka.
"Hah? Manis?"
__ADS_1
Syila mengangguk pelan, mungkin ini adalah hari terakhir dia makan telur. Dia yang tidak pernah mual, kini justru dibuat merasakan penderitaan seperti wanita hamil lainnya di pagi hari.
Mungkin kepala Zean terlalu sakit, begitu banyak yang harus dia jalani. kesibukan di kantor, kemarahan Zulia, kehamilan Syila dan juga persidangan kasus perceraiannya sudah sangat cukup menjadi alasan Zean tidak bisa benar-benar fokus.
"Maaf, sepertinya aku salah."
Beruntung saja istrinya saat ini Nasyila, jika sampai masih nathalia maka sudah pasti cercaan akan Zean dengar begitu nantinya. karena kesalahannya, mereka berdua kini kembali mengulang dari awal.
"Kamu di rumah saja ya, kalau ada apa-apa telpon aku ... aku usahakan pulang," ucap Zean sebelum meninggalkan istrinya pagi ini.
Syila menggangguk pelan dan membalas pelukan Zean sebelum pria itu benar-benar pergi. Saat ini, hanya Zean yang ada di sisinya, sedikit menyakitkan tapi syila merasa lebih baik dari kemarin.
"Jangan coba-coba ke rumah sakit, paham?"
"Iya," jawab Syila lembut bahkan hampir berbisik. Meski sempat terpikir untuk mendatangi Zulia diam-diam, saat ini Syila tidak punya pilihan karena memang percuma.
Seperti biasa, Syila akan mengantar sang suami hingga ke depan pintu. Lingkungan mereka cukup sepi, seperti yang Zean minta tidak ingin terlalu dekat dengan tetangga. Sungguh kehidupan menenangkan yang sejak lama Syila impikan, sayangnya batin Syila tidak setenang ini.
.
.
"Kau pikun, Zean?" tanya Sean kemudian menghampiri saudaranya, khawatir saja jika Zean amnesia akibat digugat cerai oleh Nathalia.
"Tidak, sengaja ... aku ingin bertemu denganmu pagi ini," tutur Zean seraya memandangi sekitar, masih sepi dan tidak begitu banyak kesibukan di sini.
"Mau apa? Mobilmu rusak atau mau kau berikan padaku?"
"Untuk apa, Papa beli dua ... untukmu ada di rumahnya, ambil saja."
Zean tidak berbohong, memang benar Mikhail juga membeli mobil serupa untuk Sean dua tahun lalu. Sayangnya, hingga saat ini sean juga belum memiliki niat untuk kembali. Bahkan, ketika dia berada di kediaman Zean, susah payah dia menghindari Zia yang kerap kali datang tanpa diminta.
__ADS_1
"Istrimu bagaimana?"
"Tidak begitu baik, mertuaku marah dan itu membuatnya sedih dari kemarin," jelas Zean kemudian, tampaknya tujuan pria itu mendatangi Sean hanya untuk membagi beban pikiran.
"Kenapa bisa?"
"Beliau tahu siapa aku, Syila yang kena imbasnya dan dianggap penyebab perceraianku," jelas Zean sedikit lesu dan membuatnya mengingat Syila lagi.
"Gawat, jadi orangtua Syila tidak terima dengan semua ini?"
"Iya, statusku dan langkah yang kami ambil sama sekali tidak dia restui saat ini ... aku sudah jelaskan, tapi tetap saja orangtua Syila marah besar.
"Ya wajar saja, siapapun pasti marah kalau tahu anak gadisnya menikah dengan suami orang," jelas Sean seakan membenarkan ucapan Nyayu, sungguh menyebalkan.
"Tapi faktanya tidak seburuk itu, Sean ... aku menikahi Syila juga atas keinginanku, perceraianku bersama Nathalia juga karena memang sudah saatnya."
"Ck, selesaikan satu-satu, Zean. Aku yakin mereka akan mengerti nanti, sabar jangan terlalu dipikirkan. Fokus dengan perceraianmu saat ini, aku yakin dengan statusmu sebagai duda akan lebih muda diterima," ucap Sean mendadak bijaksana dalam sesaat.
"Eh, tapi kau tidak sempat jadi duda ya ... jadi orang sepertimu nyebutnya apa, Ze?"
"Apa itu penting, Sean?" Zean berdecak kesal lantaran merasa pertanyaan Sean tidak ada bobotnya dari segi apapun.
"Tidak juga, cuma penasaran."
.
.
- To Be Continue -
Hai, sebelumnya maaf banget karena akhir-akhir ini aku up selalu siang. Ada beberapa hal yang membuat aku tidak bisa selalu up pagi-pagi, kurang istirahat misalnya. Dan, terkadang up banyak (3 Bab dari pagi, siang, malem) Itu viewsnya bahkan kalah sama up 1 Bab. Sebagai manusia normal, capek gengs. Tapi aku coba untuk konsisten lagi dan ubah jadwal up seperti dulu, cuma akhir-akhir ini kebetulan aja aku bisanya ngetik pagi dan terbitnya rada siang. Mohon maklumi, guys❤
__ADS_1