Istri Rahasia Sang Presdir

Istri Rahasia Sang Presdir
BAB 125 - S2 - Megantara Bahagia (Tamat)


__ADS_3

"Sayang ... aku tidak mengira keluarga kita akan sebahagia ini."


"Kamu suka? Aku yang atur semua, Syila," tutur Zean membanggakan dirinya.


Saat ini keluarga Megantara tengah berbahagia dengan melakukan acara berbagi bersama anak yatim. Hudzaifah melangkah dengan langkah kecilnya menghampiri para anak-anak yang Zean kumpulkan di tempat ini atas wujud rasa syukur sahabat sejak dalam kandungannya itu telah menjumpai takdirnya.


Meskipun jalannya agak sedikit brutal dan cukup membuat Zia lemas, pada akhirnya menciptakan hal baik juga. Mikhail tampak gagah dengan baju koko dan sarung kotak-kotak kesayangannya. Kalau kata Lengkara sarung cap Mikhail duduk.


"Dia sudah pintar jalan, tapi sepertinya cuma Hudzai yang lupa kalau Sean tidak ada di antara kita," tutur Zean baru menyadari jika putranya sama sekali tidak mencari keberadaan Sean.


"Mungkin karena kalian mirip, dia kan begitu ... kalau ada kamu, Sean dia lupakan. Begitupun sebaliknya, kalau ada Sean kamu yang dia lupakan."


Fakta yang memang tidak bisa Zean bantah. Begitulah putranya, seakan cukup dengan salah satu di antara mereka. Putranya hanya peduli tentang wajah, karena dia hanya melihat seseorang yang memiliki paras persis papanya.


"Masa begitu? Jadi dia cuma mandang fisikku?"


"Iya lah, buktinya memang begitu, 'kan?"


"Benar juga, dasar anak kecil."


Zean hanya tertawa sumbang, dari kejauhan dia memandangi Hudzai yang berinteraksi dengan banyaknya anak-anak kecil di sana. Terlahir beruntung sebagai putra Zean, tidak membuat keluarganya membatasi keinginan Hudzai.


Sejak kecil sudah terlihat dia mirip siapa, anak itu mampu berinteraksi sekalipun tidak ada yang mengerti bahasanya. Hudzai bahkan turut membagikan air mineral kemasan itu kepada anak-anak yang lain, mengikuti apa yang dilakukan Ameera dan juga Lengkara.


Mikhail didampingi ustadz Hanan menyuarakan niatnya malam ini. Mereka yang awalnya jauh dari hal semacam ini kini merasakan kedamaian dari hal yang tidak pernah mereka rasakan sejak dahulu.


Meski terhalang jarak yang cukup jauh, Mikhail tetap yakin doanya akan tersampaikan untuk sang putra. Tangis haru Zia masih terlihat jelas, kehangatan ini sungguh mengharukan.


Dalam balutan busana yang sama sopan dan juga senada mereka benar-benar definisi keluarga bahagia. Meski pengantin tidak berada di tempat, tapi kebahagiaan mereka sangat-sangat nyata.


Sean hanya menerima foto kebersamaan mereka saja, ini adalah kali ke-sekian Zean menangis untuk saudaranya. Dia bahkan tidak sanggup menyampaikan kata-kata untuk Sean, terpaksa Yudha menggantikannya.


"Selamat kakak ipar, aku tahu hidupmu akan berat di sana ... jaga kesehatan, jangan sampai sakit."


"Kakak ipar kepalamu."

__ADS_1


Dia masih mengumpat, artinya baik-baik saja. Zean tergelak mendengar Sean yang menggerutu di dalam kamar dengan nuansa yang jauh berbeda dengan kamarnya. Lebih hangat dan juga jelas itu adalah adalah kamar wanita.


"Aamiin-kan saja, Sean."


"Kalian pesta tanpa aku? Siallan."


"Heh kau bicara begitu, istrimu mana?" tanya Zean kemudian, dia masih benar-benar tidak menyangka jika Sean akan mendapatkan istri di luar ekspetasinya.


"Entahlah, tapi dia belum masuk kamar ... mungkin sedang menemui umi-nya."


"Asek!! Manggilnya umi ... nanti kalau kau punya anak apa mungkin dipanggil Abi, Sean?" tanya Zean ditengah riuhnya suasana yang memang tampak bahagia malam ini.


"Kau mengejekku, Ze?"


"Ah atau tidak Baba?" tanya Yudha yang juga mulai berani membuat kepala Sean berasap, pria itu mungkin ingin menampar keduanya satu-persatu.


"Hahah iya juga, sebentar lagi dia jadi ustadz, Yudh."


"Oh iya? Kalau sudah tua, insya Allah jadi kiyai," jawab Yudha sekenanya dan berhasil membuat Zean tebahak.


"Bedebah kalian, senang sekali melihatku tersiksa ternyata ... asal kalian tahu ya, aku di sini bangun jam empat dan tidur jam sepuluh, ays!! Bukankah tidur jam segitu anak bayi?"


.


.


"Ramai sekali kalian, kenapa anak monyet itu ikut juga?"


"Siapa anak monyet?" tanya Yudha kemudian melirik Lengkara yang mencebikkan bibir lantaran Yudha sama sekali tidak meraih tangannya, dasar calon suami kejam memang.


"Si Kara, siapa lagi."


"Astagfirullah, Sean ... Papa!! Sini, Pa."


"Astaga, Zean kau mau mati? Untuk apa panggil Papa?"

__ADS_1


Sean pikir becanda, nyatanya memang sungguhan dan kini ponsel dipegang Mikhail yang menggunakan kaca mata dan peci hitamnya. Sean yang tadi sempat menjuluki Lengkara anak monyet mendadak diam dan tidak menyahut begitu Mikhail panggil.


"Hallo, Sean!! Dengar Papa tidak?" tanya Mikhail meninggi hingga uratnya terlihat keluar.


"Ap-apaaa Pa? Se-sean tidak dengar!! Si-si-sinyal di sini jelek, Pa."


"Ini, sinyal jelek katanya."


Mikhail yang percaya-percaya saja segera mengembalikan ponsel itu kepada Zean. Dia kembali berlalu mengunjungi ustadz Hanan yang duduk manis di depan bersama Keyvan dan juga Syakil serta kedua putranya di sana.


"Buahahahahahha bisa saja kau, berani-beraninya menipu Papa."


"Kau yang cari gara-gara, sampai Papa marah bagaimana?"


Bukanya berpikir keduanya malah tertawa. Sengaja menepi di sudut masjid hanya demi menghubungi Sean. Sama sekali tidak mereka duga jika kepergian Sean kali ini lama dan tidak bisa pulang seenaknya.


"Sean apapun yang terjadi, intinya selamat atas pernikahanmu. Kami semua bahagia walau agak sedikit memalukan. Baik-baik di sana, jaga sikapmu, kami semua di sini menunggu kau pulang dengan membawa bidadari keturunan Arab itu."


"Arab? Istri Sean Arab?" tanya Yudha mengerutkan dahi, kebiasan Zean asal ceplos membuatnya tidak dapat dipercaya.


"Mungkin, mertuanya Husain ... bukankah itu nama orang Arab."


Yudha berdecak sebal, jika hanya soal itu dia juga tahu. Hanya bermodalkan nama, bisa-bisanya Zean asal sebut.


"Terima kasih, saudaraku ... tapi bisakah kau tidak menyebutku memalukan?"


"Sudah lupakan, intinya selamat ... ini kau lihat ustadz Hanan sedang pimpin doa."


Diawali dengan Basmalah dan diakhiri dengan Hamdalah, ustadz Hanan mendoakan kebaikan keluarga ini. Meski saat ini Hudzai masih berkeliaran karena bahagia dengan banyak teman, tapi tidak mengubah suasana malam ini.


"Ya Allah semoga jodoh!!" ucap Yudha sebelum kemudian mengucapkan Aamiin tiga ketiga kalinya.


"Ya Allah semoga tahun depan tambah anak."


Mendengar Yudha yang begitu jelas mengutarakan keinginannya, Zean juga turut meloloskan sebuah impian yang kecil kemungkinan akan dikabulkan Syila lantaran takut dengan sakitnya.

__ADS_1


...Tamat...


Yang masih kangen part-part Hudzai dan Opanya nanti aku kasih bonus chapter kalau banyak yang mau💋


__ADS_2