Istri Rahasia Sang Presdir

Istri Rahasia Sang Presdir
BAB 94 - Susu Hamil


__ADS_3

Kekhawatiran Syila benar-benar terjadi, luka yang dahulu sempat membuat Zean beberapa hari di rumah sakit kembali berdarah. Bukan terbuka, tepatnya luka baru akibat sepatu yang mungkin saja cukup keras di sana.


"Aarrgghh, perih!!"


"Sabar, sedikit lagi."


Malam hampir larut, usai makan malam romantis kepala Zean justru mengalami hal tragis. Beruntung saja tidak bocor sampai darahnya mengalir, Zean meringis kala Syila mengobati lukanya.


"Sudah."


"Hm, terima kasih istriku."


Syila beranjak untuk mengembalikan obat-obat yang diperlukan. Zean mengurungkan niatnya untuk memejamkan mata kala melihat Syila hendak berlalu ke luar kamar, rasa kantuk yang tadinya menyerang kini menghilang begitu saja.


"Sayang mau kemana?" tanya Zean sedikit tidak jelas lantaran dia menguap begitu lebarnya, bahkan Syila berpikir rahangnya akan retak.


"Buat susu."


"Aku saja, kamu tunggu di sini," ucap Zean kemudian beranjak dan meminta Syila untuk menunggu.


"Sendiri?" tanya Syila berharap sekali Zean akan mengiyakan pertanyaannya, jujur saja dia sebenarnya malas jika harus turun lagi.


"Iya sendiri, kamu di kamar saja jangan turun lagi ... kakinya nanti dingin."


Semenjak mendapat anjuran dari Mikhayla, pria itu berusaha menyiapkan susu untuk sang istri meski ngantuknya luar biasa. Entah teori dari mana, tapi yang jelas menurut Mikhayla susu hamil sebaiknya dibuat oleh seseorang yang menghamili.


Anggap saja tanggung jawab mutlak yang dibebankan pada seorang suami selama kehamilan. Zean sama sekali tidak keberatan dengan kewajiban semacam itu, lagipula hanya buat susu apa susahnya.

__ADS_1


Jika sendirian, Zean bisa melangkah cepat tanpa khawatir tergelincir kala meniti anak tangga. Meski dia sedikit manja, tapi Zean tetap belajar menjadi suami siaga. Meski belum benar-benar layak disebut suami siaga sebenarnya, masih banyak hal yang belum mampu Zean lakukan dengan baik.


Pria itu melakukan langkah seperti biasa, satu gelas susu untuk istrinya sudah siap untuk diberikan pada istrinya. Namun, dalam kesendiriannya Zean berpikir jauh. Berbulan-bulan dia menyeduh susu untuk Syila, tapi sampai detik ini dia tidak tahu bagaimana rasanya.


Gleg


Zean meneguk salivanya, aroma susu hangat itu membuat sesuatu dalam dirinya penasaran. Zean memerhatikan susu itu dari berbagai sisi, penampilannya tidak begitu berbeda dari susu yang pernah ada.


Akan tetapi, rasa penasaran Zean lebih besar untuk kali ini. Dia ingin mencoba, jujur saja Zean penasaran dan jiwanya yang selalu ingin tahu akan banyak hal tiba-tiba bangkit begitu saja.


"Coba sedikit mungkin tidak masalah ya?"


Zean mendekatkan gelas itu meskipun sedikit ragu. Pertama kali dia coba dengan sendok, tiga sendok masuk ke dalam mulutnya dan Zean belum bisa menyimpulkan bagaimana rasanya.


"Mungkin harus langsung dari gelasnya," gumam Zean tampak berpikir panjang, hingga pria itu benar-benar menegak setengah gelas susu hangat yang dia seduh untuk sang istri.


Zean memejamkan mata, pria itu menjilat bibirnya seakan tidak rela susu yang lain tidak masuk ke mulutnya. Setengah gelas sudah benar-benar masuk ke dalam perutnya, tersisa setengah lagi dan Zean diambang kebimbangan.


"Setengah lagi, sepertinya Syila akan marah kalau hanya setengah ... lebih baik buat baru saja."


Dia tidak memiliki pikiran untuk menambah setengahnya lagi, melainkan dia benar-benar akan menghabiskan satu gelas susu hamil sang sebelum kemudian menggantinya dengan yang baru.


Sama sekali tidak seperti tengah ditunggu, Zean menikmati segelas susu hamil milik istrinya pelan-pelan. Sangat dia nikmati, seakan tidak rela satu tetespun tersisa di sana.


Sejenak susu itu menghangatkan tubuhnya. Tidak ingin istrinya menunggu lebih lama lagi, Zean membawakan segelas susu yang baru untuk istrinya. Takaran sama, tapi di gelas yang berbeda.


Pelan-pelan, Zean membuka pintu kamar. Hampir saja istrinya tertidur, tapi tampaknya Syila tengah mencoba menahan rasa kantuknya. Wanita itu masih tersenyum meski dia sedikit kesal lantaran Zean lama sekali.

__ADS_1


"Kok lama?"


"Hm, iya gelasnya tidak ada yang pas ... jadi cari dulu," ungkapnya kemudian memberikan segelas susu penuh cinta yang dia seduh dengan kasih sayang itu.


Baru saja Zean mendekat, Syila menutup hidungnya. Pria itu bersendawa kecil hingga membuat Syila mencium aroma yang sedikit berbeda dari mulut Zean.


"Ih, bau susu ... Sayang nyusu ya?" tanya Syila seraya menutup hidungnya, pria itu menggeleng cepat dan menjaga jarak secepatnya.


"Tidak, sembarangan. Itu bau napas kamu sendiri, Syila."


"Napasku gimana? Orang baunya dari sini tadi ... kamu minum susuku, 'kan? Ngaku?" desak Syila merasa tidak salah sama sekali, aneh sekali rasanya jika Zean yang nyata-nyata bau susu mengelak dengan seribu alasannya.


"Astaga, itu karena kamu pegang susu makanya bau susu," elak Zean masih tidak bersedia jika harus mengaku. Yang benar saja, mana mungkin dia akan mengatakan faktanya, dimana letak harga dirinya nanti.


"Masa sih? Perasaan napas kamu deh."


"Sudah cepat minum, besok kita harus ke rumah sakit ... mau lihat baby boy," ungkap Zean seakan yakin sekali jika anaknya adalah seorang laki-laki.


"Iya, sebentar. Susunya masih pan_ iyuuh, tu kan bau susu memang." Syila harus kembali mencium aroma susu begitu kuat dari mulut Zean yang lagi lagi bersendawa tepat di depan wajahnya.


"Siallan, kenapa jadi kekenyangan begini?" Zean membatin seraya mengutuk dirinya sendiri, berawal dari sendawa kecil dan kini makin menjadi hingga Zean memutuskan ke kamar mandi.


.


.


- To Be Continue -

__ADS_1


__ADS_2