
"Na-nasi berkat itu apa?" tanya Zean menatap kedua orang di sisinya secara bergantian.
"Nasi berkat adalah tradisi turun temurun dalam budaya jawa yang diberikan pada tamu undangan usai melakukan pengajian ataupun yasinan," jelas Yudha menjawab sebisanya, sepenggal yang dia ingat saja.
"Tapi yang jual ada, 'kan?"
"Kuliner nasi berkat memang ada, tapi coba lihat lagi nona Syila minta yang mana?"
Zean belum selesai membacanya, Dadanya bergemuruh saat ini. Bukan main bingungnya Zean, apalagi setelah dia melihat kalimat terakhir dari pesan singkat Syila yang diberikan padanya.
"Yang didapat dari syukuran, selamatan atau lainnya ... kau lihat sendiri, berarti tidak boleh beli ya, Yud?"
Firasat Yudha sudah buruk sejak tadi, benar saja jika sudah begini tentu dia yang akan kena getahnya. Zean menggigit bibir saat ini, sebelumnya, dia sudah menyiapkan sejumlah uang dengan jumlah yang tidak sedikit demi menuruti keinginan Syila nantinya.
Sayangnya, dugaan Zean salah dan permintan sang istri sama sekali tidak ada hubunganya dengan uang. Murni harus diperjuangkan, dan Zean harus mencari siapa yang mengadakan syukuran atau semacamnya.
"Kita harus bagaimana?"
Kita? Kita kata dia, kita apanya. Yudha membatin seraya melirik Paula yang kini mengalihkan pandangan..
"Kemana carinya? Ck, cukup sulit ternyata ... ini beda dengan nasi kotak? Biasanya ketika aku jadi pembicara di seminar pasti dapat," ungkap Zean berharap sekali jika maknanya akan sama.
"Beda, Anda tidak pernah lihat? Atau mungkin tuan besar pernah membawakan nasi berkat sewaktu Anda kecil?"
Zean menggeleng, dia bukan pura-pura tidak mengetahui ataupun berlagak paling kaya. Hanya saja, memang dia tidak pernah merasakan dan mengalami hal semacam ini. Mungkin keluarga mereka sebenarnya paham, tapi hanya sebatas Mikhail saja.
__ADS_1
"Nanti saya hubungi orang-orang terdekat saya, siapa tahu ada rumah yang bisa kita datangi malam ini," ucap Yudha yang lagi-lagi membuat Zean mengerutkan dahi.
"Kenapa harus nanti? Apa tidak bisa siang begini? Kita langsung cari saja, Yud."
"Sabar, Pak ... butuh waktu, lagipula tidak setiap hari orang mengadakan selamatan di rumahnya."
Baru permintaan pertama, tapi Zean sudah dibuat sakit kepala. Melalui kehamilan Syila, tampaknya dia kebingungan. Enam bulan istrinya menjalani peran sebagai ibu hamil yang begitu tenang tanpa banyak keinginan, Zean justru memancingnya hingga membuat Syila melontarkan keinginan semacam ini.
Sepanjang hari Yudha dibuat sibuk sendiri, mencari siapapun yang bisa mengundang mereka agar mendapat nasi berkat tersebut. Sementara Zean yang kini khawatir tidak mampu memenuhi keinginan sang istri menemui Sean di bengkel dan mencurahkan hal yang sama.
"Kenapa tidak kau akali saja? Istrimu tidak mungkin tahu," jawab Sean enteng, sebagai manusia yang selalu menggunakan logika, Seorang Sean mana mau ikut susah.
"Aku tidak tega, Sean ... ini kali pertama dia meminta, mana mungkin aku membohonginya," keluh Zean terlihat lesu, jelas sekali dia tidak semangat menjalani hari ini.
"Oma Siska asli Jawa, 'kan? Mungkin anak-anaknya ada yang selamatan dalam waktu dekat. Coba kau hubungi beliau," ujar Sean yang tiba-tiba saja terpikirkan akan hal itu.
"Ya Tuhan, di antara banyak makanan kenapa istriku menginginkan itu? Apa tidak ada yang lebih mudah? Mahal tidak masalah."
"Kemarin kau berharap dia ngidam, sekarang dia ngidam justru mengeluh. Anda ini bagaimana, Zean?" tanya pria itu sembari lanjut memperbaiki kerusakan mobil yang sejak tadi berusaha dia perbaiki.
Hingga matahari mulai redup, Yudha tiba-tiba menghubunginya dan hal itu membuat napas Zean sejenak lebih lega. Tidak masalah jauh, yang jelas ada jalan keluarnya.
"Beliau merupakan tokoh Agama di sini, sungguh beliau merasa terhormat dengan kehadiran Anda."
"Sudah kau pastikan menunya?" tanya Zean justru mengalihkan pembicaraan tanpa peduli ucapan Yudha lebih dulu.
__ADS_1
"Iya, kebetulan menu yang diinginkan nona Syila juga menjadi andalan keluarga ini ... tapi, undangannya buat bertiga, usahakan agar dipenuhi, Pak."
Tanpa pikir panjang, dia mengiyakan ucapan Yudha dan menatap Sean sebagai sasaran selanjutnya. Lagipula tidak ada salahnya jika Sean turut serta, sudah lama mereka tidak pergi bersama-sama.
"Kenapa kau melihatku?" Sean mulai was-was, apalagi ketika melihat senyum tipis Zean di sana.
"Ada kabar baik, kau sudah lama tidak pergi ke pesta, 'kan?"
Zean tidak mungkin mengatakan kebenarannya mereka mau kemana. Karena kemungkinan besar Sean akan menolak jika tahu kemana mereka akan pergi.
"Pesta? Pesta apa? Kalau pengajian aku tidak mau ya."
"Bukan, ini pesta biasa ... kau pasti suka, Sean."
Wajah Sean tampak menerima, dia memang sudah lama tidak pergi bersama Zean. Meski dia tidak pernah mengutarakan, tapi percayalah rindunya akan hal itu jelas saja ada.
"Nanti aku jemput, kau tunggu saja di rumah, Okay!"
Lihatlah, dia semangat sekali sementara Sean hanya menatapnya datar. Entah kapan pria itu tidak merepotkan, ketika Sean tidur di rumahnya, Zean seakan sengaja mengusir secara halus. Setelah ditinggalkan, Zean justru mencari cara agar terus membuat Sean berada di posisi sulit.
"Yang menghamili dia sendiri, gilira**n ngidam ngajak semua."
.
.
__ADS_1
- To Be Continue -