Istri Rahasia Sang Presdir

Istri Rahasia Sang Presdir
BAB 102 - Tanpa Syarat


__ADS_3

"Semalam aku tidak bisa membedakan antara kamu dan Sean, sampai akhirnya aku salah peluk."


"What? Syila kamu?"


Ini adalah bencana di atas bencana, Zean bahkan bangun dan selimut yang menutupi keduanya sudah tergeletak di atas lantai layaknya benda yang tidak berguna.


Istrinya salah sangka, Zean ketar-ketir tentu saja. Apalagi, dia yang mengetahui bagaimana Sean di masa lalu jelas saja menelan salivanya susah payah saat ini.


"Maaf, kamu sudah janji tidak marah ya."


Zean menatapnya datar seraya berpikir teramat jauh, apalagi dia sempat mengingat ucapan Sean beberapa waktu lalu di rumah utama. Perihal tidak akan berbuat macam-macam, kecuali istrinya yang salah kamar.


"Bagaimana tidak, ya Tuhan ... kamu memeluknya, bagaimana bisa aku baik-baik saja?"


"Hampir maksudnya, belum sempat kupeluk, karena Sean menolak ... aku malu sekali, aku tidak bermaksud macam-macam, tapi memang semalam gelap dan aku panik, maaf."


Dia akui benar-benar menyesal, sungguh dia benar-benar merasa bersalah lantaran sampai lupa dengan perawakan suaminya sendiri.


"Hampir?"


"Iya, hampir."


Napas Zean lebih lega, bongkahan batu besar yang menghimpit dadanya sejenak terhempas. Sungguh, dia bahkan keringat dingin saat ini. Seorang Sean dengan sejuta pesonanya memang mampu membuat mata siapapun jatuh cinta, dan Zean akui jika harus bersaing dengan saudara kembarnya dia memang kalah.


"Maaf, Sayang ... aku tidak sengaja sumpah."


Sayang? Lihat, dia bahkan memanggil Zean dengan sebutan sayang. Benar-benar ingin menghindari masalah, padahal seorang Syila sangat sulit mengutarakan perasaan lewat kalimat yang dia ucap selama ini.


"Kali terakhir, lain kali aku tidak begitu lagi ... maaf ya."

__ADS_1


"Hm, tidak masalah, lagipula gelap, it's okay, jangan lagi diulangi." Zean masih mampu berucap seperti itu meski bagian ulu hatinya sedikit sesak, entah perasaan apa itu.


"Benar tidak marah?"


"Iya, tidak ... aku tahu hatimu hanya untukku, semoga tidak berubah ya, Sayang."


Suaminya tidak banyak drama kali ini, dia menerima permintaan maaf tanpa meminta syarat ini dan itu. Apa mungkin karena tubuhnya makin sakit semua? Entahlah, yang jelas Syila sudah berkata sejujur-jujurnya.


"Iya, tidak akan pernah berubah."


Mengawali pagi dengan perasaan berkecamuk semacam ini bukan hal asing bagi Zean. Keduanya terlihat baik-baik saja, terlebih lagi Syila. Dia berlalu ke dapur untuk membantu menyiapkan sarapan. Sementara Zean yang tadinya sempat dibuat senam jantung oleh saudaranya sendiri, kini menghampiri Sean yang sibuk sendiri melatih otot-ototnya di pagi hari.


"Cih, tebar pesona ... kau sedang menggoda istriku atau bagaimana?"


"Pikiranmu sempit sekali, Zean. Sejak dulu aku memang begini, tebar pesona dari mana?"


"Kenapa harus di luar? Di dalam saja bisa, kau yang sengaja tebar pesona."


Zean baru mendekat, tapi jujur saja dia lelah sendiri melihat Sean yang bergerak. Pria itu memilih memantau bunga-bunga kesayangan mertuanya di sini, menurutnya lebih baik dan tidak melelahkan.


"Udara di sini menenangkan, aku suka dan sepertinya akan sangat baik untuk pernapasan."


"Hm, terserah kau saja, Sean."


"Kau tidak mau coba? Aku sudah berlari mengelilingi rumah ini sebanyak lima kali ... menyenangkan sekali." Sean sudah mengajaknya baik-baik, walau dari wajah Zean saja sudah menjelaskan mana mungkin dia kuat melakukan hal semacam itu saat ini.


"Tidak terima kasih."


"Dasar pemalas, cari keringat, Zean ... ingat kata Papa rajin-rajin olahraga di waktu muda, agar tuanya tidak seperti dia."

__ADS_1


Sebenarnya Zean tidak semalas itu, tapi memang semenjak Sean pergi, kegiatan Zean berubah dan dia lebih banyak murung. Hal-hal yang dia lakukan bersama Sean seakan membuatnya terluka hingga dia memilih melupakan banyak hal karena rindunya pada Sean.


"Cari keringat tidak harus dengan cara lari-lari di pagi hari, Sean ... banyak kegiatan yang bisa membuatmu berkeringat," ungkap Zean masih terus memerhatikan mawar merah yang mulai berbunga itu.


"Apa saja memangnya?"


"Ya banyak, tapi opsi paling tepat adalah cari keringat bersama istri ... alami dan tidak selelah lari pagi."


"Ck, itu beda!! Otakmu kenapa jadi persis Mikhayla begini? Messum sekali."


Sewaktu Mikhayla kerap mengatakan hal macam-macam, Zean adalah orang pertama yang mengutuknya sebagai wanita cab-bul. Kini, dia bahkan lebih dari itu dan cukup membuat Sean tidak habis pikir.


"Sesekali, tapi Sean ... aku serius, jangan begini di hadapan istriku. Aku khawatir, aku jadi kalah di matanya dibandingkan denganmu," ucap Zean menghela napas pelan, sejak tadi dia memiliki kekhawatiran itu sebenarnya.


Takut kalah saing? Ya, anggap saja begitu. Zean memang takut kalah saing, padahal sama sekali Syila tidak berpikir untuk berpaling. Hanya saja, pengalaman di masa lalu yang membuat Zean lemah jika berurusan dengan wanita membuat pria itu terbawa-bawa.


"Hahaha bodohnya, bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa cinta tidak pernah menjadikan kita sebagai bahan perbandingan ... dia benar-benar mencintaimu, kemarin aku bisa melihat jika dia bisa berubah menjadi sosok ibliss tak berhati hanya demi menyelamatkanmu," jelas Sean kemudian menatap saudaranya sekilas.


"Maksudmu?"


"Ya, dia bisa membunuh Nathan kemarin ... hanya demi kau, jadi tidak perlu khawatir dia terpesona denganku. Sekalipun kau agak gemulai dia menerimamu apa adanya, tenang saja."


"Sean mulutmu!!"


.


.


- To Be Continue -

__ADS_1


__ADS_2