Istri Rahasia Sang Presdir

Istri Rahasia Sang Presdir
BAB 74 - Khawatir


__ADS_3

Syila mengerutkan dahi begitu mendengar ucapan Zean. Meski keduanya tidak melakukan apa-apa di rumah sakit, tetap saja firasat Nasyila mengatakan tujuan Zean sudah berbeda.


"Tidur, Sayang ... kamu pikir apa?"


"Ooh, ti-tidur."


Malu sekali, tampaknya tanpa perlu dituntun otak Syila sudah mampu berpikir mandiri semenjak menjadi istri Zean. Apa mungkin karena terbiasa? Entahlah, yang jelas saat ini dia juga merasa begitu.


Sebenarnya bukan lagi jam tidur siang, ini sudah menjelang sore. Akan tetapi, rasa lelah Syila tidak dapat dibohongi hingga dia menurut dan merebahkan tubuhnya di sisi Zean.


"Soal Azka tadi, maaf ya," ucap Zean tiba-tiba setelah keduanya terdiam beberapa saat.


"Hm, kenapa maaf? Dia hanya bertanya, jadi tidak masalah."


Zean hanya takut istrinya tersinggung, karena biasanya wanita hamil sensi mendengar nama mantan dari pasangannya. Sembari mengusap pelan perut sang istri, Zean hanya ingin memastikan perasaan istrinya baik-baik saja.


"Mereka anak kak Mikhayla?"


"Iya, cucu Mama sudah tiga ... satunya masih di sini," jawab Zean kembali mengeratkan pelukannya, dia yang mengajak Syila tidur tapi justru tidak berhenti menghirup aroma tubuh istrinya.


Menyadari suaminya mulai berulah, Syila hanya bisa pasrah. Hingga, dia menyadari bayangan seseorang yang terlihat samar di balkon kamar. Sebelum Zean menjadi, Syila menahan dada pria itu hingga Zean mengerutkan dahi kala menatapnya.


"Kenapa? Ada yang sakit?" tanya Zean sedikit menjauh lantaran khawatir perut istrinya terjepit.


"Bu-bukan, ada bayangan di sana ... tapi tidak mungkin, 'ka?" Dia menatap Zean penuh tanya, aneh sekali jika di balkon kamar ada orang lain.


Mata Zean sontak mendongak ke arah yang Syila maksudkan. Baru beberapa detik saja, Zean beranjak dan turun dari tempat tidur segera. Dia ingin memastikan, apa memang penghuni kamar sebelah sudah kembali sore ini.


"Aneh, apa cecunguk itu pulang hari ini juga?"


Merasa penasaran, Syila mengikuti langkah Zean tanpa izin. Pria itu membuka pintu kaca yang menjadi pemisah balkon dan kamar dengan sedikit kasar, terlihat jelas kita dia kesal sekali saat ini.


"Hei, Sean!"


Mata Syila sontak berkedip berkali-kali di balik pintu kaca kala melihat pemandangan di depan sana. Balkon kamar mereka menyatu, Sean terlihat tengah berdiri di depan kamarnya dengan wajah lesunya.

__ADS_1


"Kau di sini?"


Pura-pura terkejut, padahal sejak awal dia sudah mengetahui hal itu dari sang mama. Sean mendekat, bermaksud baik layaknya tetangga yang menyambut kedatangan penghuni baru di lingkungan ini.


"Bukannya masih di rumah sakit?" tanya Zean menatap Sean dari ujung rambut hingga ujung kakinya.


"Aku tidak betah, Sean ... bau."


"Tapi sepertinya belum diizinkan," selidik Zean mencari celah, dan ingin sekali dia mengirim Sean kembali ke rumah sakit secepatnya.


"Ya terserah, yang jelas aku ingin pulang."


Zean menghela napas pelan, bagaimana bisa dia tenang jika benar-benar tinggal satu atap bersama Sean. Andai kamar mereka berjauhan tidak masalah, demi apapun Zean khawatir jika saudara kembarnya itu terbawa kebiasaan lama yang asal masuk sesukanya.


"Kenapa cepat-cepat begitu, Sean."


"Aku tidak akan mengganggumu, lagipula kamar kita kedap suara ... kalian berteriak histeris juga aku tidak akan dengar."


Mengerti apa yang dimaksud saudaranya, Sean mempertegas bahwa dia sama sekali tidak akan mengganggu. "Terserah kau saja, Sean."


Dia tidak akan menang, sekalipun merasa khawatir dengan kehadiran Sean mana mungkin bisa dia bertindak semaunya. Saat ini, Zean hanya bisa mengalah, pria itu menghela napas kasar seraya menatap Sean datar.


"Tidak, aku hanya khawatir kau belum berubah."


Zean tidak bercanda, dia serius kali ini. Dia bisa memberikan segalanya untuk Sean, semua akan dia perjuangkan, tapi tidak untuk wanita yang dia cintai. Demi Tuhan, Zean tidak akan mampu.


"Kau masih marah soal itu, Zean? Ayolah, itu masa lalu ... lagipula aku tidak tahu kalau kau menyukai Leona juga."


Benar, semua memang masa lalu. Akan tetapi, hal itu membekas dalam diri Zean dan membuatnya selalu takut Sean akan mengambil apa yang dia cintai. Sejak dahulu terbiasa mengalah, Zean hanya tidak ingin sesuatu yang berharga bagi Zean diimpikan Sean juga.


"Aku percaya padamu, Sean ... tapi tidak soal Syila. Sejak dahulu kau memang sudah gila, bahkan istri orang kau pacari bagaimana aku bisa tenang."


Sean terbahak, bahkan rahangnya terasa sakit. Ini adalah pertama kali Zean terlihat takut di hadapannya. Mungkin karena pertemuan pertama mereka di pemakaman sedikit panas hingga Zean justru memiliki pikiran seburuk itu.


"Hahaha lucu sekali, pikiranmu ya Tuhan. Aku tidak segila itu, Zean. Kecuali ...."

__ADS_1


Pria itu sengaja menahan ucapannya, hingga Zean yang terlampau penasaran mendesaknya untuk melanjutkan segera. "Kecuali apa? Cepat katakan, Sean."


"Kecuali istrimu yang datang padaku, aku tidak yakin bisa menahan diri."


"Menyebalkan sekali jawabanmu." Bukannya tenang setelah mengutarakan ketakutannya, Zean justru semakin gusar.


"Maka dari itu pastikan istrimu tidak salah masuk kamar," tambah Sean disertai gelak tawa dan lagi-lagi hal itu membuat kepalanya berasap.


Menjalani pernikahan bersama Syila tanpa kecemburuan dengan masa lalu wanita itu, ternyata tidak menjadi jaminan mental Zean akan baik-baik saja. Siapa sangka, jika ancaman semacam itu justru berasal dari saudaranya sendiri.


"Hm terserah, Sean ... lekas membaik, aku ingin memukul wajahmu," pamit Zean kemudian kembali masuk ke kamarnya.


.


.


Tanpa terduga, ketika dia membuka pintu kaca itu, sang istri tengah berdiri dengen posisi menguping pembicaraan di luar sana. "Sudah selesai? K-kok lama?" tanya Syila salah tingkah lantaran tertangkap basah tengah memantau pertemuan mereka.


"Kamu sedang apa?"


"Nungguin kamu ... katanya mau tidur."


"Nguping?" selidik Zean mendekati sang istri, kecurigaan pria itu benar-benar nyata kala melihat istrinya tampak gugup.


Meski sebenarnya memang, bahkan dia berusaha membuka pintu kaca sedikit demi bisa mendengar pembicaraan mereka mana mungkin Syila mengaku.


"Tidak, kurang kerjaan nguping buat apa."


"Matamu mengatakan hal berbeda, istriku berbohong ... kamu mendengar semuanya, 'kan?"


"Tidak semua, hanya sedikit," jawab Syila menepis tangan Zean dan memilih berlalu lebih dulu.


Sikap Syila sedikit berbeda, apa mungkin caranya bertanya barusan sedikit kasar? Tapi rasanya sudah sangat lembut, pikir Zean bingung sendiri. "Kenapa dia yang marah? Bukankah seharusnya aku?"


.

__ADS_1


.


- To Be Continue -


__ADS_2