Istri Rahasia Sang Presdir

Istri Rahasia Sang Presdir
BAB 68 - Hikmah Dibalik Duka


__ADS_3

Tidak ada musibah, tanpa hikmah setelahnya. Begitulah salah satu nasihat yang pernah Zean dapat dari Ibra semasa hidup. Meski dirinya hampir kehilangan nyawa setelah tragedi tadi siang, akan tetapi Tuhan masih berpihak menyelamatkan hidup Zean.


Selamat bukan berarti dia baik-baik saja. Musibah yang tampaknya direncanakan itu mengakibatkan Zean terluka cukup serius, tidak hanya Zean tapi Yudha juga mengalami hal yang sama, bahkan lebih parah.


Berawal dari sebuah mobil Jeep hitam tanpa plat nomor yang mengikuti mereka, hingga Yudha menyadari rem yang tidak berfungsi dengan baik. Keduanya sama-sama panik, pada akhirnya Yudha kehilangan kendali dan membuatnya menabrak pembatas jalan.


Kecelakaan tidak dapat terhindarkan, Zean yang masih dalam keadaan sadar dapat melihat dengan jelas Yudha tersiksa di sebelahnya. Pria itu sempat memaki Yudha yang terlalu bodoh mengambil tindakan dan tidak memedulikan keselamatan dirinya sendiri.


Tidak lama berselang, sirine ambulance terdengar hingga Zean sedikit lebih tenang. Beruntung saja beberapa saksi mata di sana bertindak cepat dan tidak hanya mengabadikan kejadian itu dengan kamera ponsel mereka.


Luka yang Zean alami memang tidak begitu parah jika dibandingkan Yudha, darahnya juga tidak terlalu banyak yang tumpah. Tapi anehnya, Zean tidak mampu berdiri bahkan dia harus dibantu beberapa orang untuk bisa keluar dari mobil.


Di posisi itu, Zean masih terus mengutamakan Yudha seakan dia sama sekali tidak butuh pertolongan. Beberapa kali dia berucap pada tim medis yang menolong mereka untuk fokus pada Yudha saja.


Hal ini berlanjut ketika tiba di rumah sakit, Mikhayla harus menamparnya agar bisa diam lantaran Zean keras kepala dan ingin menghampiri Yudha yang dilarikan ke ruangan berbeda. Pria itu yakin betul Yudha yang butuh pertolongan saat ini, bukan dirinya.


"Yudha, kak ... aku baik-baik saja, sumpah."


"Iya, dengarkan aku!! Yudha juga sedang ditangani dan kamu juga butuh, Zean," sentak Mikhayla mulai kehilangan kesabaran.


"I'm okay, Mikhayla ... aku tidak terluka, aku ingin melihatnya."


"Tetap di sini, lukamu perlu dijahit, jangan keras kepala!!"


Adiknya memang sedikit pembangkang, Mikhayla tengah menghadapi dirinya dengan versi berbeda saat ini. Zean mengkhawatirkan Yudha, tapi tidak menyadari jika darah segar juga mengalir di pelipisnya.


"Ini bukan darahku, tapi darah Yud_"

__ADS_1


"Darahmu bodoh!! Coba jilat sendiri kalau tidak percaya!! Diam sebentar, okay ... pasien di sini banyak, bukan cuma kamu saja," bentak Mikhayla menekan setiap kata-katanya karena memang kekesalan dalam benaknya sudah terlampau besar pada pria ini.


Tidak ingin Mikhayla semakin marah, Zean menurut dan mengikuti kehendak sang kakak. Walau saat ini pikirannya benar-benar kacau, kekhawatiran tentang Yudha dan juga Syila menyatu hingga membuat kepala Zean semakin sakit.


Cukup lama berselang, Mikhayla meninggalkan Zean begitu saja. Setelah dia pastikan adiknya lebih baik, barulah Mikhayla menghubungi orang tuanya. Di saat yang sama Zean justru menghubungi Sean dan meminta saudaranya untuk menjemput Syila detik itu juga.


Sean yang menerima pesan dari Zean justru berpikir pria itu sekarat hingga dia bergegas meninggalkan pekerjaannya untuk menjemput Syila. Yah, kedua pria ini sama-sama tidak bisa berpikir di saat panik hingga Sean juga terjebak dalam pertemuan yang tidak terduga ini.


Tapi semua itu tidak selamanya buruk. Karena dengan keadaan Zean kini, penantian kedua orang tuanya pada Sean tiba di titik temu. Tidak hanya itu, stasus Syila sebagai istri Zean diterima dengan baik oleh Zia.


"Kamu kenapa menangis? Aku sudah bercerai hari ini ... gimana? Kamu bahagia, 'kan?" tanya Zean memecah kesunyian seraya menatap mata sembab sang istri.


Sudah Zean katakan berhenti menangis, tapi air mata Syila seakan tidak bisa berhenti kala menyaksikan sang suami.


"Bahagia bagaimana, kamu begini," celetuknya kembali meneteskan air mata, entah kenapa sejak dia dampingi tadi sore Zean seakan baik-baik saja padahal luka di bagian kepalanya cukup serius menurut informasi dari Mikhayla.


"Anggap saja hukuman, aku membuat ibu koma beberapa bulan lalu."


.


.


Di tengah perbincangan mereka, Sean masuk dengan maksud mengambil jaketnya. Sudah terduga, pria itu memang sedikit perhitungan dan tidak semua orang bisa memiliki barang miliknya.


"Ck, berikan padanya, Syila ... untuk apa juga kau berikan pada istriku."


"Aku sudah bawa gantinya, semuanya lengkap di sini. Cek sendiri," ucap sean menyerahkan paper bag yang dia terima dari Zia.

__ADS_1


"Itu apa?"


"Baju ganti istrimu, malam ini tidak mungkin dia hanya pakai itu, 'kan?" tanya Sean menggerakkan dagunya ke arah Syila, seakan paham jika wanita itu sedikit risih dengan pakaiannya sendiri.


"Baju ganti? Kau masuk ke kamarku, Sean?!"


"Ck, Mama yang kasih, Badjingan! Semuanya masih baru dan tidak ada yang menyentuh lemarimu."


Zean sudah terbaring di ranjang saja masih bisa sekasar itu, Syila memang kerap bingung ketika berhadapan dengan keduanya. Tidak ingin Sean terlalu lama dan Zean semakin marah, wanita itu segera menyerahkan jaket Sean dengan ucapan terima kasih khasnya.


"Aw senyuman adik ipar cantik sekali, matamu kenapa selalu hilang begitu kalau tersenyum?"


"Sean!! Keluarlah," titah Zean menyentuh pelipisnya, dia merasakan sedikit sakit setiap kali berbicara dengan nada tinggi.


Sean mengalah, dia berlalu tanpa mengucapkan apa-apa. Namun, ketika hendak membuka pintu, pria itu kembali berbalik dan tampaknya ingin memastikan sesuatu pada Zean.


"Mau apa lagi, Sean?"


"Soal mobil yang mengikutimu, kau yakin tanpa plat nomor?" Sebelumnya mereka sempat membahas hal ini sekilas, tapi Sean khawatir otak Zean yang sedikit bergeser hingga dia perlu memastikan sekali lagi.


"Yakin, aku tidak mungkin salah soal itu."


Sean mengangguk kemudian, dia benar-benar pergi kali ini hingga membuat Syila menatapnya penuh tanya. "Kenapa Sean tanya begitu?"


"Entahlah, mungkin karena senyum sok imutmu itu."


.

__ADS_1


.


- To Be Continue -


__ADS_2