Istri Rahasia Sang Presdir

Istri Rahasia Sang Presdir
BAB 81 - Rumah


__ADS_3

Tiba di rumah, Syila benar-benar menangis dalam pelukan Zean. Syila tidak terlahir sebagai wanita cengeng. Tidak, sama sekali tidak begitu. Hanya saja ucapan Nyayu beberapa saat lalu benar-benar mengganggu pikirannya.


"Kalau sampai beneran susah gimana?"


"Operasi."


Jawaban paling realistis terlontar begitu saja dari bibir Zean. Sungguh, dia benar-benar tidak menyesal menyakiti Nyayu. Bahkan saat ini, dia ingin kembali dan melakukan hal yang sama untuk kesekian kalinya.


"Masa jawabnya begitu?"


"Terus gimana? Namanya melahirkan ... jelas tidak akan semudah kentut, Syila."


Istrinya sedang serius, dia dicekam ketakutan dan bisa-bisanya Zean memberikan sebuah perbandingan semacam itu. Sudah berkali-kali Zean katakan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


"Tapi aku bikin ibu nangis, kalau dia murka gimana?"


"Apa kamu dengar kalimat itu dari ibu?" Zean terdiam sebentar sembari menunggu jawaban Syila.


"Tidak, 'kan?"


"Hm, tidak."


"Ya sudah, semurka-murkanya seorang Ibu dia masih punya hati, Sayang ... kamu tahu bagaimana Papa dulu sewaktu masih muda?"


Jelas saja Syila tidak mengetahui bagaimana kisah papa mertuanya, bicara empat saja belum pernah. Wanita itu menggeleng pelan, Zean mulai menceritakan panjang lebar bagaimana sang papa di masa muda.


Kisah turun temurun yang dia dapatkan dari Ibra, sang kakek. Yah, mereka memang saling membuka aib, Mikhail juga tidak ada bedanya seperti Ibra yang tanpa takut dianggap durhaka menceritakan masa lalu seorang Ibrahim Megantara.


Hingga di akhir cerita Zean, sang istri membeliak dan menutup mulutnya dengan telapak tangan. sebagai orang asing yang masuk dalam keluarga Megantara, jelas saja dia terkejut.


"Serius?"


"Hm, makanya papa tidak marah pas tahu alasanku menikahimu."


"Jadi dulu Mama selingkuh?" tanya Syila kembali memastikan, sungguh kisah cinta yang sangat egois, pikir Syila.


"Bisa dibilang begitu, lebih tepatnya Papa yang ngebet jadi selingkuhan."


Hanya karena mendengar kisah cinta Mikhail, istrinya bahkan lupa dengan ketakutan yang dia rasakan. Mungkin perjalanan cinta Zia dan Mikhail lebih menegangkan dibanding proses melahirkan.

__ADS_1


"Kasihan pacarnya mama."


"Iya, aku juga kasihan sama om Zidan ... tapi kalau mereka tidak selingkuh, suamimu yang tampan ini tidak akan lahir, Sayang."


Cih, selalu saja. Tiada hari tanpa memuji diri sendiri. Kepala Zean terbentur tanpaknya memiliki dampak yang teramat buruk.


"Ah benar juga."


Tunggu sebentar, Zean mengatakan jika orang tuanya berawal dari sebuah perselingkuhan. Apa itu artinya mereka punya penyakit turunan? Mata Syila sontak menatap tajam Zean hingga raut wajahnya berubah muram.


"Kenapa lagi?"


"Andai nanti aku tidak cantik lagi ... atau sesuatu terjadi padaku, apa kamu akan mencari Syila yang lain?"


Pertanyaan macam apa itu, Zean menatap keraguan dalam manik indah Syila. Padahal, sama sekali tidak ada keraguan cinta Zean untuknya walaupun seujung kuku.


"Kenapa pertanyaanmu begitu? Apa masih ragu?"


"Bukan ragu, tapi ingin tanya saja."


Dia hanya ingin memastikan jawaban dari pria itu. Walau dia sangat paham bahwa ucapan pria terkadang tidak bisa dipercaya sepenuhnya.


Manis sekali ucapannya, apa mungkin Zean begini pada semua wanita. Membayangkannya saja Syila sudah sangat sebal, terlebih lagi Zean memang pembicara yang baik.


"Aku memilihmu bukan hanya karena ingin mencari teman tidur, tapi teman hidup yang kujadikan rumah untuk pulang dan burungku bersangkar," lanjutnya seraya tertawa sumbang, sama sekali memang dia tidak bisa romantis.


"Ngaco!!"


Syila sudah seserius itu mendengarkan jawaban sang suami. Hatinya yang tadi sempat menghangat bahkan jiwanya seakan menembus langit ke tujuh terhempas begitu saja.


"Lupakan, jangan terlalu banyak pikiran, aku tahu pasti wanita itu yang menjadi sebab kamu begini."


Tiada yang lebih mudah selain memahami isi hati istrinya. Sejak kemarin, bahkan awal menikah sama sekali Syila tidak pernah bertanya hal semacam ini. Anehnya, usai bertemu dengan wanita itu Syila justru bertanya hal aneh yang menurut Zean tidak perlu dipermasalahkan.


"Iya, tidak lagi."


.


.

__ADS_1


Selang beberapa lama, pintu kamarnya diketuk dari luar. Tidak ingin benar-benar menjadi durhaka, Zean yang mengetahui seseorang di luar sana adalah mamanya segera beranjak keluar.


"Ma?"


Sedikit gugup, sorot mata Zia membuatnya tiba-tiba merasa bersalah. Terlebih lagi, ketika dia melihat wanita itu membawakan minuman herbal di tangannya.


"Mama mau masuk boleh?"


"Ehm silahkan, Ma."


Untuk pertama kalinya, dia bahkan takut menerima kehadiran Zia di kamarnya. Apa mungkin karena baru saja selesai menggunjingkan mamanya? Entahlah, yang jelas Zean tidak enak hati.


"Minumannya buat apa, Ma? Kata kak Mikha aku sudah baik-baik saja, cukup minum obat dari dia ... aku tidak suka jahe, Mama."


"Ini buat Syila, bukan kamu."


Lagi dan lagi, Zean harus merasakan malu di hadapan istrinya. Sore itu tengah hujan, Zia memberikan minuman itu untuk menghangatkan tubuh menantunya.


"Oh ... begitu, lalu aku cuma lihat gitu?"


"Syila kenapa? Kalian bertengkar?"


Jangan heran, memang satu keluarga ini terbiasa dengan konsep pembicaraan silang, ditanya apa jawabnya apa. Zia mendelik seperti hendak menerkamnya.


"Tidak, Ma," jawab Syila jujur seraya mengulas senyumnya.


Meski Syila sudah menjawab tidak, mata wanita itu tetap menatap Zean tajam seakan memaksa untuk mengakui hal yang sama sekali tidak dia perbuat.


"Ngaku!!" desak Zia lebih serius kali ini.


"Sumpah, Ma ... kami tidak bertengkar, mana mungkin aku tega membuatnya menangis. Istriku hanya terharu mendengar perjuangan Mama sewaktu melahirkan kak Mikhayla."


"Halah, demi apa?"


"De-demi Papa!!" ucapnya tergesa seraya mengangkat kedua jemari, dia tidak berani mengatasnamakan Tuhan untuk kali ini.


.


.

__ADS_1


- To Be Continue -


__ADS_2