Istri Rahasia Sang Presdir

Istri Rahasia Sang Presdir
BAB 69 - Kekhawatiran Mikhail


__ADS_3

Kejadian yang Zean alami sontak membuat keluarga besar menggila, sama marahnya bahkan kini sudah berkumpul di kediaman utama keluarga Megantara. Termasuk Sean, pria itu memutuskan untuk pulang setelah Mikhail berhasil meluluhkan hatinya di rumah sakit.


Mikhail yang menyadari kejanggalan sejak awal jelas tidak tinggal diam. Tanpa perlu ditelusuri lebih dalam, Mikhail sangat yakin jika semua ini akibat ulah Halim. Tidak hanya Mikhail, Keyvan juga turun tangan dalam masalah ini.


"Bakar saja rumahnya, Om."


"Jangan gegabah, lagipula jika kita melakukan hal semacam itu maka tidak ada bedanya dengan Halim."


Belum terbukti apa-apa, tapi Keny sudah mengusulkan ide semacam itu. Justin yang baru mendengar kabar ini juga berpikiran sama, hanya saja tidak dia lontarkan karena yakin akan bertentangan dengan pendapat Mikhail.


"Lalu bagaimana?"


"Wibowo sedang memastikan seluruh CCTV di beberapa titik ... kita hanya butuh bukti untuk melumpuhkan pelakunya, biar hukum yang bicara."


"Wibowo sendirian?" tanya Justin mendadak khawatir dengan asisten Keyvan tersebut.


"Sama Om Babas, hal semacam ini sudah biasa mereka tangani, santai saja."


Mereka berbincang cukup lama, Sean melirik pergelangan tangan kirinya. Pria itu memilih berlalu tanpa permisi, Mikhail yang menyadari kepergian putranya hanya berpikir pria itu mungkin ingin istirahat. Akan tetapi, tujuan Sean sepertinya berbeda lantaran dia tidak naik ke lantai dua.


Benar dugaan Mikhail, putranya tidak ke kamar melainkan ke luar. Secepat mungkin Mikhail mengejar putranya, tapi Sean lebih cepat dan kini pria itu sudah melaju keluar gerbang.


"Sean!!"


Sayangnya, sekuat apapun Mikhail berteriak, tidak akan terdengar lagi oleh Sean. Dia yang khawatir Sean kembali pergi, segera memanggil Keyvan dan memintanya mengikuti Sean segera.


"Sean kemana, Pa?"


"Entahlah, anak itu masih sama kerasnya ... ayo kita kejar, Van!!"

__ADS_1


Dia pernah merasakan kehilangan Sean, putranya itu baru saja kembali setelah empat tahun pergi. Tidak ingin hal itu terjadi lagi, Mikhail nekat hendak mengejarnya. Namun, secepat mungkin Keyvan melarang sang mertua, khawatir jika nanti justru masuk angin.


"Papa tenang, biarkan kami saja yang mencarinya ... Papa tunggu di rumah," ucap Keyvan menenangkan mertuanya, walau memang hingga saat ini Mikhail tetap gagah, di mata Keyvan pria ini amat lemah bahkan rentan terkena penyakit.


Zia yang kini menghampiri mereka berhasil menenangkan Mikhail, walau jujur saja kepergian Sean membuat Zia sama takutnya. Saat ini, dia hanya bisa mempercayakan semua pada ketiga pria tampan itu.


"Nanti kalau Khayla telepon, tolong bantu jelaskan ya, Ma ... aku khawatir dia marah."


"Sonya juga ya, Tan."


"Agny juga, Tante."


Baiklah, Zia mengangguk dan menuruti permintaan ketiga pria yang patuh terhadap istri tersebut. Sejak awal menikah, mereka bertiga tidak pernah berubah.


.


.


Mengetahui saudaranya menjadi sasaran empuk Halim, jelas saja dia tidak akan berdiam diri. Menyelesaikan dengan cara hukum? Cih, lama!! Hingga saat ini Sean tidak bisa percaya. Terlebih lagi, Halim bukan pria sembarangan dan dia enggan kejahatan mereka hanya dibayar beberapa tahun penjara.


Tidak, sama sekali Sean tidak bisa menerimanya. Pria itu melaju dengan kecepatan tinggi, waktu yang dia butuhkan hanya beberapa menit saja untuk tiba di istana keluarga Halim yang tampaknya masih tenang itu.


Tanpa pikir panjang dia menelusup masuk, melewati pagar yang mengelilingi kediaman Halim. Setelah mencari tahu beberapa hal tentang Halim akhir-akhir ini, Sean berada di tempatnya kini.


Dalam diamnya, Sean bergerak dan dan mencari celah untuk bisa masuk ke dalam rumah Halim. Akan tetapi, mata Sean justru tertuju pada sebuah mobil yang sengaja disembunyikan di belakang rumahnya.


"Cih, menjijikkan sekali kalian," umpatnya kemudian kala mengingat bentuk mobil tersebut sama persis dengan yang dijelaskan Zean.


Tidak salah lagi, dugaannya sama sekali tidak salah. Kemarahan Sean benar-benar membuncah, apalagi ketika dia mengingat bahwa Yudha saat ini masih dalam keadaan kritis. Yang Halim lakukan adalah sebuah pembunuhan berencana, kerusakan di mobil Zean adalah bukti jika kematian saudaranya sudah benar-benar direncanakan dengan matang.

__ADS_1


Usai Sean memastikan mobil itu, dia hendak berbalik dan kembali melanjutkan misinya untuk menghabisi Halim. Namun, saat ini seorang pria yang tampak seumuran dengannya tengah tersenyum miring kala laser berwarna merah itu membuat Sean panik sesaat.


"Woah, ada maling di rumahku ... ini kah caramu bertamu? Mau apa, bukankah lebih sopan temui Papaku baik-baik?"


Sean masih memilih diam, menatap lekat-lekat mata tajam pria itu. Hingga, ketika dia menemukan celahnya, Sean mendekat dan menyerang dengan tangan kosong. Sejak dahulu, Sean mampu membuat lawannya tidak berkutik dengan tendangan yang masih sama mematikan hingga membuat Nathan, saudara kembar Nathalia mundur beberapa langkah.


"Sean? Woah mimpi apa kita bertemu di malam ini?"


Bak berhadapan dengan lawan yang sepadan, pria itu yakin betul jika yang di hadapannya ini adalah Sean. Nathan baru saja kembali dari Florida setelah Halim mengatakan apa yang terjadi sesungguhnya. Pria itu kini tersenyum tipis dan kembali meremehkan pria di hadapannya.


"Jangan berlagak mengenalku, Badjingan ... lawanmu adalah aku, bukan Zean."


"Ah, si lemah itu bagaimana? Sudah mati kah?"


Mendengar pertanyaan Nathan, pria itu kian menggila hingga pertengkaran antara pria dewasa yang sama-sama terbalut dendam ini tidak dapat terhindarkan.


"Keparat kau, Nathan!!"


"Cih? Keparat? Nathalia hancur karena saudaramu ... kalian yang keparat, Sean!!"


Keduanya sudah mengenal sejak lama, Nathan adalah senior Sean dulunya. Akan tetapi, sama sekali dia tidak akan memandang itu untuk saat ini. Pukulan demi pukulan dia berikan dan terima dalam waktu bersamaan, hingga tanpa keduanya sadari darah mulai mengucur di sudut bibir dan hidungnya.


"Kau memang pemberani, Sean ... tapi sayang, kedatanganmu ke sini hanya untuk mengantarkan nyawa."


.


.


- To Be Continue -

__ADS_1


Buat yang nggak tahu, di Gairah Cinta Sang Presdir sudah disentil sedikit bahwa anak Mikhail dan Halim itu memang sama-sama kembar, tapi tidak identik.


__ADS_2