
"Ada apa, Nak?"
"Eh maaf, Kiyai ... tidak ada apa-apa, kami berterima kasih sudah diundang," jawab Yudha berusaha keras menjaga nama baiknya.
"Hahaha iya-iya, saya yang berterima kasih ... kedatangan kalian membuat saya merasa terhormat," jawab kiyai Hasan seraya menepuk pundak Yudha.
Tatapannya kemudian tertuju pada Sean dan Zean yang turut mendengarkan ucapannya, jika sedang begini mereka terlihat jelas sebagai anak baik-baik.
"Mendengar nama Megantara, saya mengingat mendiang ayah saya juga pernah mengenal nama itu ... apa mungkin yang kalian maksud Ibrahim Megantara?"
"Wah, kiyai tahu Kakek saya?" Mata Zean berbinar, peluang mendapatkan nasi berkat tambahan akan semakin besar jika faktanya begini.
"Iya, dulu ayah saya masih hidup mengenal Ibrahim Megantara."
"Kita masih keluarga dong, Kiyai!" seru Zean dan membuat Yudha berpikir untuk pura-pura tidak mengenalnya saja.
"Suatu kehormatan lagi jika dianggap begitu, tapi mendiang ayah saya hanya pernah dikenal sebagai penghulu untuk menikahkan kakekmu sekaligus Gavin kalau tidak salah."
"Ah iya-iya, Opa Gavin ... tidak masalah, kita tetap keluarga intinya," ucap Zean mengulurkan tangannya.
Secepat itu Zean menyesuaikan diri. Sesuai dengan rencana, dia berhasil mendapatkan tambahan nasi berkat ketika mereka pamit pulang. Tidak hanya Zean yang mendapat tambahan, tapi Sean dan Yudha juga demikian.
"Dapat lima, apa tidak mubazir nanti?"
"Tidak, Sean ... aku khawatir istriku tidak cukup satu."
"Bukan kau, tapi aku," jawab Sean malas, sudah dia tolak sebenarnya, tapi Zean yang justru mendelik dan menganggap Sean tidak sopan di hadapan kiyai Hasan.
"Napsu makan Lengkara dan Ameera itu persis tukang pukul, kau tenang saja ... ada om Babas juga, jangan lupakan ada Papa."
Sean mudah sekali bingung, padahal penghuni rumah adalah penampung segala makanan. Herannya, pria itu justru terlihat lesu dengan pemberian kiyai Hasan yang melebihi batas wajar itu.
"Ya tapi kan_"
"Jangan menolak rezeki, Yudha saja tidak protes."
Bukannya tidak protes, tapi dia malas bicara lebih tepatnya. Yudha tetap fokus melajukan kendaraan untuk mengantar kedua tuan muda ini. Tugasnya memang cukup banyak sejak tadi siang.
Seperti tadi posisi ketika pergi, maka Sean yang diantar lebih dulu. Tentu saja Zean diharuskan untuk turun, setidaknya menyapa sang papa. Sudah satu minggu tidak bertemu, Zean merindukannya walau sedikit.
"Yudha mausk, kenapa tunggu di mobil?'
"Sa-saya di sini saja, masuklah, Pak ... saya ada telepon," ujar Yudha memperlihatkan ponselnya yang memang bergetar.
Zean yang tidak ingin mengganggu urusan pribadi Yudha masuk dan mengiringi langkah Sean. Tujuan utamanya tentu saja Mikhail yang saat ini duduk manis di depan televisi.
__ADS_1
"Selamat malam, Papa ... belum tidur ya?"
"Matamu belum buta, kan, Zean?"
Ditanya baik-baik, dia justru ngajak ribut. Zean mencebik dan melewati Mikhail begitu saja. Menyadari kedua putranya membawa sesuatu yang sepertinya enak, Mikhail mengikuti langkah mereka ke ruang makan.
"Widih anak Papa habis dari mana? Bawa apa ini?"
"Tadi ada selamatan kiyai Hasan, ini Nasi berkat katanya, Pa ... makanlah, pasti Papa suka."
Berbeda dengan Zean yang melayangkan tatapan permusuhan akibat disemprot Mikhail beberapa saat lalu, Sean justru sebaliknya. Jelas saja hal itu membuat membuat Mikhail kesal sendiri pada salah satunya.
"Kebetulan Papa belum makan, boleh minta satu?"
"Ya boleh, Pa," jawab Sean menggeleng pelan lantaran Mikhail melontarkan pertanyaan sekonyol itu.
Zean mengerjapkan matanya perlahan. Ini sudah lewat dari jam makan malam keluarga mereka, rasanya tidak mungkin seorang Mikhail belum makan malam sementara kedua adiknya saja sudah naik ke atas.
"Kamu kenapa lihat-lihat papa begitu, Zean?"
"Ah ... tidak, cuma bingung saja kenapa Papa belum makan jam segini," jawab Zean kemudian duduk sebentar, meski keinginannya untuk bertemu Syila sudah menggebu, tapi tidak mungkin Zean pergi secepat itu.
"Belum dua kali ya maksudnya?" tanya Zean disertai gelak tawa yang cukup membuat hati Mikhail dongkol seketika.
"Iya, kenapa memangnya? Terserah Papa dong ... Kamu kok sewot."
.
.
Jika di ruang makan ketiga pria itu tengah berinteraksi begitu hangat, tanpa mereka ketahui jika di sisi lain dua insan yang baru saja mencuri waktu tengah melepaskan kerinduan di bawah temaram lampu taman.
Yudha benar-benar lancang, hanya demi seorang wanita dia sampai melakukan hal sekonyol ini. Sungguh, sama sekali tidak pernah Yudha pikirkan jika dirinya justru akan melangkah sejauh ini.
"Kenapa keluar begini?"
"Apanya?"
"Bajumu, Kara. Pendek sekali ... apa tidak dingin?" tanya Yudha berdecak heran menatap gadis cerewet itu.
"Namanya baju mau tidur ya pendeklah," jawab Lengkara mencebikkan bibir dan menatap wajah kekasih barunya ini begitu lekat.
"Minimal pakai jaket, aku juga pria normal, Kara."
"Baru juga aku begini, kalau benar-benar kulepas bagaimana?"
__ADS_1
"Gila, Kakakmu tahu aku bisa dihukum mati, Kara," desis Yudha menundukkan pandangannya.
Lengkara terkekeh kemudian mencubit perut Yudha hingga pria itu mengaduh sakit. Susah payah Yudha menahan agar suaranya tidak terdengar, tapi tangan jahil lengkara memang tidak bisa diam sepertinya.
"Kamu tadi habis dari mana? Rapi banget," puji Lengkara mengulas senyumnya malam ini.
"Tadi ke syukuran Kiyai hasan, demi nasi memenuhi ngidamnya nona Syila."
"Kok nona Syila sih manggilnya? Kak Syila gitu," tutur Lengkara menatapnya sedikit kesal, sudah berkali-kali Lengkara jelaskan bahwa tidak perlu bersikap seperti itu.
"Saat ini masih harus nona, Ra ... nanti ya, doakan semoga Tuhan izinkan bisa panggil non Syila pakai sebutan kakak juga."
Lengkara mengangguk setelah sempat tersenyum penuh makna. Paham betul bagaimana perasaan Yudha yang merasa mereka berbeda karena kasta.
"Selalu ... I love You, Mas Yudha." Lengkara melingkarkan tangannya di tubuh Yudha tanpa diminta, dia menyayangi pria ini meski belum lama menjalin kasih.
"Belajar dari mana panggilan itu?" tanya Yudha merasa sedikit aneh, ini kali pertama dia mendengar Lengkara memanggilnya begitu.
"Dari Mama, kenapa? Risih ya?"
"Ti-tidak, aku suka."
Baru saja Yudha hendak membalas pelukan Lengkara, teriakan Zean tiba-tiba terdengar hingga membuat pelukan mereka terpaksa harus usai di sana. Lengkara mengambil langkah untuk masuk dari pintu belakang, sementara Yudha dengan perasaan was-was kembali ke depan.
"Yudha!! Woey!!"
"Ehem, iya, Pak."
Berusaha tenang meski jantung sama sekali tidak aman. Zean mengerutkan dahi lantaran heran pria ini dari mana sebenarnya. "Kau dari mana?"
"Angkat telepon Ibu, tidak bisa tidur katanya."
"Ayo pulang, istriku sudah menunggu, Yud."
Tenang sekali rasanya hati Prayudha Bagas Tami karena berhasil mengelabui bosnya tanpa sedikitpun dicurigai.
"Huft, selamat."
.
.
- To Be Continue -
Zean : Ikan kakap ikan gurame, komen dung biar rame.
__ADS_1
Sean : Ke pasar naik angkot, vote!!
Zean : Kok gitu pantunnya?