Istri Rahasia Sang Presdir

Istri Rahasia Sang Presdir
BAB 75 - Tidak Terima


__ADS_3

Seperti yang Zia katakan, kedua putrinya tiba malam ini. Syila was-was begitu mendengar suara melengking yang dia yakini sebagai adik iparnya. Wanita itu tidak pernah menjauh dari Zean meski sejak tadi sore dia masih bungkam, enggan dan malas bicara pada sang suami.


Mereka cantik-cantik sekali, Syila seakan tengah melihat seorang bintang iklan di sini. Tidak heran jika keduanya bahkan memiliki penggemar layaknya Nathalia meski belum sebanyak itu. Yang pertama kali mereka hampiri adalah Sean, pria itu terlihat tidak nyaman lantaran kedua adiknya menangis tersedu di dada Sean.


"Itu Lengkara, kesayangan Sean."


Tanpa ditanya, Zean merasa sang istri butuh penjelasan. Tingkah Lengkara yang seakan mendapat kehidupan setelah mati mungkin saja membuat Syila penasaran, begitulah perkiraan Zean.


"Sementara Ameera yang itu, mereka kembar tapi masih bisa dibedakan ... Lengkara punya tanda lahir di punggung kanan, sementara Ameera di kiri."


Informasi yang sangat penting sekali, siapa juga yang akan memastikan tanda lahir di saat berkenalan dengan seseorang, pikir Syila. Pria itu terkekeh kala Syila berdecak dan menunjukkan kekesalannya, dibandingkan terus diam lebih baik Zean melihatnya marah begini.


"Meera ... sini, Sayang."


Terlalu fokus dengan kehadiran Sean, kedua adiknya bahkan lupa jika dirumah ini sudah hadir personil baru. Wanita cantik dengan mata teduh yang begitu menenangkan itu semakin gugup kala Ameera mendekat.


Mata Ameera yang memerah masih terlihat begitu menyeramkan ketika dia menatap tajam Syila dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Sungguh, Syila benar-benar bingung dengan keluarga ini, kenapa cara mereka menyapa orang baru selalu sama. Tatapan tajam, menerka dalam diam, dan biasanya akan mengucapkan sesuatu yang tidak pernah dia duga sebentar lagi


"Kecil ya, Kak."


Mata Syila membola mendengar ucapan adik iparnya. Benar saja dugaan Syila, setelah menatapnya begitu lama, Ameera mengatakan hal semacam itu, jelas saja ini tidak wajar. Syila mendongak, dia menatap Zean yang tiba-tiba tertawa sumbang usai mendengar ucapan Ameera.


"Jangan bandingkan dengan siapapun, Meera ... baju kakakmu longgar, makanya terlihat kecil."


What? Syila meneguk salivanya dan sontak menunduk. Bajunya memang sedikit longgar, dia tidak ingin terlalu kentara tengah hamil. Maka dari itu dia berusaha menutupi perutnya hingga membuat lekuk tubuh Syila tidak terlihat.


Pembicaraan mereka kenapa malah jadi begini? Benar-benar di luar ekspetasi. Lebih menyebalkan lagi, Ameera juga ikut tertawa lantaran Zean yang menjitak keningnya.


"Kak Zean kenapa? Badannya maksud Meera ... tuh sama sepertiku, bisa pinjem baju dong."

__ADS_1


"Oh, kukira yang lain."


Zean berdehem kemudian mengalihkan pandangan, pikirannya terlalu mandiiri dan mendahului maksud tujuan Ameera. Sama sekali tidak ada maksud Ameera kurang ajar pada kakak iparnya, dia hanya sedikit terkejut karena dari foto Syila sedikit berbeda.


"Dasar otak Kakak saja, negatif semua ... Aduh maaf ya, Kak Syila."


Karena mulut Zean, gadis cantik itu merasa benar-benar bersalah. Khawatir sekali kakak iparnya akan tersinggung, sungguh ucapannya benar-benar spontan dan memang itu yang terpikir di kepalanya.


Tidak berselang lama, Lengkara juga mendekat usai membuat baju Sean basah dengan air mata. Yah, mereka menghabiskan kerinduan selama beberapa menit sebelum kemudian menyapa kakak iparnya.


"Kak Syila, aku Lengkara ... panggil saja Kara atau Ara juga boleh. Kami kembar, tapi aku lebih cantik sedikit," ujarnya seraya mengulurkan tangan dengan senyum hangat tanpa paksaan.


Lengkara tidak sedingin dan semisterius Ameera. Caranya bicara juga lebih lembut, tidak begitu kaku dan benar kata Zean jika adiknya yang satu ini sedikit mirip Sean dari caranya berinteraksi. Bukan sok akrab, tapi memang tidak sekaku Zean.


"Aku bilang juga apa, cem-ceman kak Zean pasti cantik."


"Hahaha iya, pilihan kak Zean memang tidak pernah salah, Meera," jawab Lengkara membenarkan ucapan Ameera, tidak bisa dipungkiri istri Zean yang kali ini tampak lebih cantik dan lembut jika diperhatikan.


"Ih kamu kok bahasnya ke arah sana."


Lengkara mencubit lengan Ameera yang justru membuka aibnya. Sementara Zean kini menatap keduanya dengan tatapan tajam, dia marah dan sedikit tidak terima dengan ucapan adiknya, padahal sama sekali tidak salah.


"Jaga bicara kalian di depan istriku, paham?"


Semudah itu Zean berubah, dia yang tadinya hangat kini kembali seperi Zean yang dulu kerap marah besar pada Syila di kantor. Ucapan adiknya sama sekali tidak salah, akan tetapi tidak seharusnya diucapkan di depan Syila.


Kebiasaan mereka yang memang tidak suka berbicara di belakang kerap kali menimbulkan masalah. Keduanya tertunduk usai meminta maaf pada Syila, tanpa permisi Zean menarik sang istri untuk kembali ke kamar malam ini.


.

__ADS_1


.


"Kamu sih, harusnya tadi jangan bahas gituan."


"Salahku ya? Aku pikir kak Zean tidak akan marah," sesal Ameera bingung sendiri menatap sang kakak yang kini telah menghilang di penghujung anak tangga.


Keduanya sama-sama bingung, membuat Zean marah adalah hal yang paling mereka hindari sejak lama. Akan tetapi, malam ini tanpa sengaja Ameera membuat Zean tersinggung.


"Kalian mau sampai kapan di sini? Mandi sana ... lalu tidur, ini sudah larut."


Mikhail datang dengan sarung kotak-kotak di andalannya. Mereka sampai lupa jika belum memeluk sang papa, dia terlalu fokus dengan Sean sejak tadi.


"It's okay ... jangan ulangi, Kakakmu sedang tidak baik-baik saja. Jangan menjadikan tindakannya sebagai candaan karena khawatir akan menyakiti istrinya, paham kalian berdua?"


"Paham, Pa," jawab Lengkara masih berusaha memeluk erat tubuh besar sang papa.


"Tapi benar kak Zean selingkuh, 'kan, Pa?" Masih saja, Ameera masih merasa tidak ada yang salah dengan ucapannya.


"Bukan dong, itu seleksi, dia bebas memilih apa maunya."


"Ih Papa, seleksi tu kalau belum menikah ... sudah menikah ya selingkuh."


Sebagai seorang pria yang sempat membuat wanita berpaling dari kekasihnya, di mata Mikhail tidak ada kalimat selingkuh. Yang ada hanya perjalanan dalam memilih, itu saja.


"Sama saja, apa bedanya? Berpaling, berkhianat, memiliki hubungan dengan orang lain di saat kita punya pasangan itu namanya selingkuh, Pa."


"Sudah diam, Ameera kalau masih ngeyel Papa jahit mulutnya mau?"


.

__ADS_1


.


- To Be Continue -


__ADS_2