
Istriku sangat hebat dalam segala hal dan aku dibuat jatuh cinta setiap detiknya. - My Beloved Husband.
Menjelang sore, hanya kalimat itu yang Syila pikirkan. Dia menggenggam ponselnya erat-erat, caption yang Nathalia gunakan di unggahan terbarunya adalah kalimat Zean yang mendadak viral setelah menjadi pembicara seminar tadi pagi.
Lagi dan lagi, Nathalia membuat seluruh wanita di negeri ini merasa iri, termasuk Syila sendiri. Dia menghela napas panjang, hatinya mendadak sakit kala melihat foto pernikahan yang Nathalia unggah satu jam lalu.
Berbagai pujian dan doa baik Syila baca dengan teliti. Lihatlah, bahkan seluruh dunia merestui hubungan mereka. Sementara dia? Sebatas istri yang Zean rahasiakan dan dinikahi atas dasar kasihan. Sakit, tapi itu faktanya.
Pandangannya mulai kabur manakala mata Syila semakin mengembun. Dia lupa jika sekarang tidak sendirian, hatinya sebagai wanita tidak bisa terima hingga tanpa sadar isakan tangis tidak lagi bisa dia tahan.
Syila menggigit bibirnya, berusaha menahan agar Zean tidak menyadari tangisnya. Wanita itu menoleh, pintu kamar mandi masih tertutup yang artinya Zean masih mandi. Untuk sesaat dia tidak ingin munafik, air matanya ingin bicara dan mengutarakan seberapa sakitnya.
"Ya Tuhan, kenapa sesakit ini berbagi."
Tidak pernah Syila bayangkan bahwa rasanya akan sesakit ini. Sejak awal menjalani pernikahan itu dia sudah berusaha membentengi hatinya untuk tidak mencintai Zean terlalu dalam. Akan tetapi, dia seakan terperangkap janjinya sendiri.
Hari ini dia tidak sekuat kemarin, tadi saja ketika Zean dikerumuni banyak wanita dia seakan tidak rela. Wanita itu terus menangis hingga tangan kekar itu mendekapnya dari belakang.
"Ze-zean?"
Cepat-cepat Syila menghapus air matanya. Aroma khas tubuh Zean dan tetesan air akibat rambutnya masih basah itu membuat syila tersadar dari lamunannya.
"Kenapa? Apa aku menyakiti hatimu hari ini?" tanya Zean lembut seraya mengecup pelan punggungnya.
"Tidak," jawab Syila masih terisak, Zean membalikkan tubuhnya agar bisa menatap kebohongan yang sang istri sembunyikan dari matanya.
__ADS_1
"Katakan, apa yang membuatmu menangis sampai ingusan begini?" tanya Zean serius, dia menyeka air mata sang istri penuh perasaan.
"Kangen ibu," jawabnya singkat menghindari tatapan Zean.
Sayangnya, sang suami tidak semudah itu percaya. Mudah sekali bagi Zean membaca kebohongan Syila, pria itu merebut ponsel yang kini Syila genggam begitu eratnya.
"Kamu menangis karena benda ini, 'kan?"
Mendadak panik, kesedihan yang tadinya terlampau dalam kini tergantikan dengan ketakutan Zean tahu alasan sebenarnya. Habis sudah dia, jelas Zean akan menjadikannya bahan ejekan jika ketahuan menangis karena unggahan Nathalia.
"Tidak, nangis karena ibu dibilangin."
"Bohong sama suami itu dosa, Sayang," ucap Zean tersenyum simpul dan merasa akan menemukan harta karun di ponsel Syila.
"Jangan becanda, Zean ... cepat berikan."
Perebutan ponsel itu masih terus berlanjut, hingga Zean yang merasa khawatir sang istri menggagalkannya tidak punya cara lain selain mengunci tubuh Syila di bawah kungkungannya.
"Ah ... karena ini?"
Syila memerah, harga dirinya sedang pergi entah kemana saat ini. Tergantikan rasa malu yang luar biasa besar hingga mengalahkan ukuran tubuhnya. Zean tersenyum tipis kala melihat Syila sengaja memantau unggahan Nathalia dengan caption kata-kata dia tadi pagi.
Istrinya menangis bahkan sesak karena itu, akan tetapi Zean justru sebaliknya. Dia berdebar, hatinya menghangat dan merasa benar-benar berharga. Bukan di mata Nathalia, tapi di mata Syila.
Salahkah jika dia tersenyum karena tangisan istrinya? Zean menghela napas pelan sebelum kemudian meletakkan ponsel Syila sembarangan. Perhatiannya beralih pada sosok lemah lembut yang kini tengah menatap Zean dengan netra indahnya.
__ADS_1
"Istriku menangis hanya karena itu? Katakan, apa perlu aku minta Nathalia hapus agar kesedihanmu ini berkurang?" tanya Zean dengan jarak yang begitu dekat hingga membuat bulu kuduk Syila meremang.
Syila tidak punya jawaban, pertanyaan Zean justru membuatnya kembali meneteskan air mata tanpa diminta. Pria itu segera memeluknya seraya memberikan ketenangan untuk sang istri.
"Jangan menangis, kata-kata itu untukmu ... bukan wanita itu," ucap Zean masih terus mengusap pelan pundak Syila, ingin sekali dia mencaci Nathalia yang sembarangan menjual namanya demi terlihat sebagai pasangan sempurna.
Selama ini Syila hanya diam, tidak ada reaksi berlebihan bahkan ketika Zean pulang ke rumah untuk Nathalia, dia juga terlihat santai. Zean tidak marah kali ini, pria itu justru bersyukur lantaran sang istri terang-terangan menunjukkan kecemburuannya.
"Hapus air matamu, jangan menangisi hal murah semacam itu ... istri yang hebat dan mampu membuatku jatuh cinta setiap detiknya itu kamu, peka sedikit dong, Sayang."
Bukan tidak peka, Syila hanya membatasi dirinya selagi bisa. Wanita itu sadar betul posisi dan sebagai apa berdiri. Hanya saja, entah kenapa sore ini hatinya bicara lain dan bersama Zean beberapa hari terakhir membuat pertahannya runtuh seketika.
Beberapa saat dia diamkan, mungkin Syila butuh menenangkan dirinya. Hingga, wanita itu memberanikan diri untuk menatap sang suami dengan mata sembabnya. Semudah itu matanya bengkak dan memerah seakan baru saja ditinggalkan pergi untuk selama-lamanya.
"Maaf, tidak seharusnya aku kekanak-kanakan begini," ungkap Syila setelah sedikit lebih tenang, akan tetapi dia belum melepaskan Zean yang memeluknya.
"Tidak masalah, kamu berhak menangis ... aku akan meminta Nathalia menghapus unggahan tidak berguna itu, bisa-bisanya dia percaya diri dan berpikir itu untuknya."
"Ja-jangan, untuk apa kamu melakukan hal semacam itu?" Syila menggeleng, dia khawatir nantinya Nathalia justru berpikir macam-macam dan posisi mereka terancam.
"Aku tidak suka, dia membuat istriku menangis sore ini," ucapnya kemudian beranjak untuk meraih ponselnya, Syila masih tenggelam dalam kebingungan dan merenungi maksud ucapan Zean barusan.
.
.
__ADS_1
- To Be Continue -