Istri Rahasia Sang Presdir

Istri Rahasia Sang Presdir
BAB 36 - Virtual


__ADS_3

Mulai terbiasa tidur dalam pelukan, Syila kini kesepian. Nanti malam yang Zean janjikan jam berapa sebenarnya, sungguh sejak tadi dia tidak melakukan hal apapun selain memandangi notifikasinya.


Tring


Dada Syila kembali berdebar, sayangnya senyum wanita itu harus kembali redup lantaran notifikasi yang masuk justru pesan dari operator. Menyebalkan sekali memang, dia berdecak sebal dan ingin sekali melempar ponselnya.


"Tahan, Syila."


Andai saja tidak ingat betapa sulitnya mendapatkan benda pipih itu, sudah pasti Syila benar-benar akan menghancurkannya akibat terlalu lama menunggu Zean.


Satu menit, dua menit, lima menit hingga sepuluh menit berlalu. Syila mengakhiri penantiannya, dia berdecak kesal dan memaki Zean dalam hatinya.


Janji Zean membuatnya berharap, dia sengaja makan lebih awal hanya demi menunggu Zean menghubunginya. Selama ini belum pernah dia merasakan hal semacam ini, uring-uringan hanya demi sebuah kabar.


Syila memandangi layar ponselnya, sudah berkali-kali dia menyusun kalimat untuk memastikan Zean tidur atau memang lupa. Akan tetapi, jemarinya berperang dengan gengsi yang setinggi langit.


Tidak, Syila sadar tidak mungkin dia melakukan itu. Sekalipun Zean mengatakan rumah tangga bersama Nathalia tidak seindah kelihatannya, tetap saja naluri Syila sebagai istri mengatakan cemburu.


Mau bagaimanapun awal hubungan mereka, perlakuan Zean padanya sudah cukup untuk menjadi alasan Syila merasakan hal itu. Meski, dia sudah berusaha membatasi, hatinya sebagai wanita tidak bisa berohong sama sekali.


Baiklah, tidak mengapa malam ini dia akhiri lebih cepat tanpa Zean di sisinya. Syila naik ke tempat tidur usai mematikan lampu kamar, mungkin lebih baik dia tidur. Lagipula, besok pagi masih bertemu, pikirnya sebelum kemudian menarik selimut hingga menutupi wajahnya.


Matanya dia paksakan terpejam, Syila masih terus memikirkan sang suami menghubunginya. Hingga, ponselnya kembali berdering dan kali ini berbeda. Syila meraih kembali ponsel yang dia letakkan di atas nakas, senyumnya mengembang seketika.


Tanpa basa-basi, tanpa menunggu lebih dulu dia menerima panggilan Zean. Sungguh, kentara sekali jika dia menunggu sebenarnya. Akan tetapi, semua itu baru Syila sadari ketika suara Zean sudah terdengar.


"Aku terlambat ya?"


"Tidak, aku baru selesai siapin pakaian buat besok."


Hanya demi membuat Zean tidak merasa bersalah, Syila berbohong. Padahal, semua itu telah dia selesaikan sejak tadi. Hati Syila goyah, suara Zean membuat kekesalannya hilang seketika.


"Sudah makan?"


Pertanyaan klise, tapi jika itu dari Zean maka maknanya berbeda. Syila mengangguk seraya mencabut benang di pinggiran bantalnya. Jika Zean mengetahui tingkahnya malam ini pasti menjadi bahan ejekan seumur hidup.


"Syila ...."


"Sayang!!"


Suara Zean sedikit meninggi, mungkin bingung lantaran Syila terdiam untuk beberapa lama. Wanita itu terperanjat kaget kemudian berdehem untuk menutupi kegugupannya.

__ADS_1


"Iya ... aku dengar," ucap Syila lembut sebagaimana nada dia bicara selama ini.


"Dengar? Terus kenapa diam saja kalau ditanya."


Baru Syila tersadar jika jawaban yang dia berikan untuk Zean hanya sebuah anggukan. Memang benar-benar gila, pikirnya. Jangan sampai Zean menyadari jika dirinya sedikit tidak waras kali ini.


"Sudah aku jawab, sinyal mungkin," elak Syila asal sebut, dia cari aman padahal Zean sendiri mengetahui dengan jelas kualitas jaringan di kediaman sang istri tidak perlu diragukan lagi.


"Syila, video call boleh? Aku ingin memastikan sesuatu."


Tanpa menunggu lama, Syila mengikuti keinginan Zean. Setidaknya dia tidak perlu usaha untuk melihat wajah sang suami, pikir Syila.


"Gelap ... kamu dimana? Kamar mandi ya jangan-jangan?"


Dia lupa tentang lampu kamar, merepotkan sekali hubungan begini. Senyum hangat Zean terlihat nyata kala melihat wajah cantik istrinya, wajah Syila yang bersemu merah.


Hal semacam ini belum pernah dia rasakan, menghabiskan sisa malam dengan lawan jenis bukan Syila sama sekali. Pandangannya terfokus pada bagian belakang Zean, sepertinya bukan di kamar karena tidak ada tempat tidur di sana.


"Pintu sudah dikunci?"


"Sudah," jawab Syila diiringi anggukan pelan, dia benar-benar terbiasa menjawab pertanyaan seraya menggangguk begitu.


"Kamu sendiri gimana, sudah makan?"


Zean tidak melepaskan Syila dari pandangan. Mendengarkan jawaban polos dari setiap pertanyaan yang Zean berikan. Hanya pembahasan sederhana, Syila juga tidak bertanya soal Nathalia ataupun mertuanya.


Bukan karena tidak peduli, melainkan dia enggan merusak suasana hati Zean. Suaminya memperlihatkan apa yang dia kerjakan, pria itu tengah menegaskan bahwa dia memang tidak di kamar bersama Nathalia, melainkan berkutat sendirian di ruang kerja.


.


.


Awalnya pembahasan mereka normal-normal saja, hingga semakin larut Zean mulai aneh dan beberapa kali membenturan kepalanya pelan di atas meja.


"Kamu kenapa sih?"


Beberapa saat lalu dia baik-baik saja, jelas ketika menunjukkan gejala-gejala aneh Syila khawatir. Zean tidak menjawab dia kenapa, akan tetapi bibirnya memanggil sang istri beberapa kali seraya mengusap wajahnya kasar.


"Syil," panggil Zean dengan suara beratnya, semakin dia terlihat aneh dan Syila sampai mengira Zean minum malam ini.


"Iya, kenapa?"

__ADS_1


"Buka," titah Zean singkat, padat dan tentu saja tidak jelas. Perintah itu menimbulkan tanya di benak Syila hingga dia melirik ke arah jendela, pikiran seorang Syila positif sekali memang.


"Buka apanya?"


"Bajumu," desis Zean pelan, tapi masih terdengar oleh Syila hingga wanita itu menyadari perubahan Zean bukan mabuk minuman, melainkan mabuk yang lain.


"Untuk apa?"


"Buka saja, tolong aku tersiksa."


Zean terpejam kemudian menatap Syila penuh damba, rahangnya mengeras dan sesekali mengacak rambutnya. "Sayang, please ... kita suami istri, jadi tidak mungkin aku macam-macam."


Kekhawatiran Syila tertebak, dia memang berpikir ke arah sana. Akan tetapi, sejenak kemudian Syila menepis keraguannya dan mengikuti kemauan Zean. Tidak masalah, selagi itu untuk suaminya.


Ya Tuhan, tampaknya Zean benar-benar mengajak Syila menggila malam ini. Pria itu mengerang dan menghela napas penuh kelegaan setelah beberapa saat dia melakukan aksinya dengan bantuan sang istri via virtual. Syila terdiam, wajahnya kembali memerah ketika Zean tertawa sumbang masih dengan napas yang terengah-engah.


"Sudah?"


"Hm, pakai bajunya sana," ucap Zean kemudian, jelas dia tidak ingin istrinya masuk angin setelah ini.


"Zean, aman, 'kan?" tanya Syila kemudian, entah kenapa dia mendadak curiga dan khawatir sekali.


"Apanya?"


"Kamu benar tidak akan macam-macam soal yang tadi, 'kan?"


Meski pria itu suaminya, tetap saja Syila khawatir Zean merekam layar panggilan video mereka. Bukan maksud curiga sang suami, akan tetapi kemungkinan ponsel Zean jatuh ke tangan orang lain jelas saja tetap ada.


"Hahahahaha, aku lupa ... seharusnya rekam layar ya," ucap Zean usai terbahak dan dia merasa istrinya lucu sekali.


"Huft, syukurlah."


"Tapi aku sempat sreenshot," tambah Zean hingga membuat wajah Syila berubah masam, salah besar memang dia percaya pada Zean.


"Zean, buat apa?" tanya Syila memelas dan berharap sekali itu hanya candaan belaka.


"Jaga-jaga ... jangan coba-coba lari dari hidupku kalau fotomu tidak mau tersebar, paham?"


Syila mendadak ciut, dia meneguk salivanya pahit. Sifat pemaksa dan semena-mena Zean tampaknya memang mengair dalam darahnya, Syila bingung sendiri sifat siapa yang Zean warisi.


.

__ADS_1


.


- To Be Continue -


__ADS_2