
"Ck, hentikan sandiwaramu wanita murrahan ... aku lelah."
Empat tahun menjalani pernikahan, tidak pernah Zean melontarkan kalimat sekasar itu. Tidak hanya ucapan, tapi juga tindakan. Dia mendorong tubuh Nathalia seakan wanita itu adalah seonggok noda.
"Apa kamu bilang?"
"Ck, telingamu masih berfungsi dengan baik, 'kan?"
Zean menekan setiap kalimatnya kemudian beranjak naik ke kamar. Jangan ditanya dia sekesal apa, jelas saja ingin muntah saat ini juga. Diikuti Nathalia yang kini masuk ke kamar, dia mengunci pintu kamar segera.
Wajahnya yang tadi tampak menangis kini berbeda, tidak lagi ada air mata. Wanita itu bersedekap dada dan memandangi Zean dari jarak beberapa meter. Suaminya pulang, itu berarti masih bisa dikendalikan, pikir Nathalia tersenyum tipis.
Syukurlah, kekhawatirannya tidak sebesar itu. Tidak sia-sia dia meminta bantuan mertua dan kedua adik iparnya. Nathalia sangat paham bahwa Zean begitu menghormati mamanya, oleh karena itu tidak mungkin malam ini Zean bisa pergi lagi.
"Cincin kamu, mana?"
Sejak kapan Nathalia peduli tentang cincin pernikahannya. Zean menoleh dan menarik sudut bibirnya tipis, jika ditanya dimana dia juga tidak bisa menjawabnya. Dia lupa, tepatnya tidak peduli.
"Hilang."
"What? Semudah itu kamu hilangkan, Zean ... kalau sampai keluarga kita dan fansku tahu hal ini bagaimana?"
Baru saja hatinya sedikit tenang, kini kembali dibuat terguncang lantaran Zean tidak lagi mengenakan cincin pernikahan mereka. Mau bagaimanapun, hal itu sangatlah penting bagi kepastian hubungan di mata publik.
"Mereka semua manusia, 'kan? Aku rasa paham bahasaku jika aku jelaskan nanti," jawabnya ketus sekali, hati Nathalia bahkan terhenyak kala menyadari Zean sekasar ini.
"Ka-kamu yakin hilang? Coba ingat-ingat lagi, Zean. Mungkin tercecer atau kamu letakkan dimana begitu?"
__ADS_1
Zean tampak berpikir, serius sekali seakan dia benar-benar membutuhkan cincin itu. Padahal, sekalipun hilang sungguhan sama sekali dia tidak peduli.
"Hm, seingatku setelah pemakaman Opa ... sepertinya ikut terkubur, kamu ambil saja ke kuburan Opa kalau mau cincin itu."
Gleg
Zean benar-benar di luar dari kebiasaan. Sampai-sampai Nathalia menelisik wajahnya sekali lagi. Melihat Zean yang seperti ini, entah kenapa terbesit dalam pikiran Nathalia jika yang ada di hadapannya ini bukanlah Zean.
Baru kali ini Nathalia dibuat bungkam. Padahal, Zean tidak membentaknya, hanya mengucapkan sebuah kalimat yang memang terkesan pedas di telinga.
Keduanya sama-sama terdiam, tidak ada interaksi untuk sementara waktu. Hingga, Zean hendak berlalu ke kamar mandi usai membuka kemejanya. Tatapan Nathalia fokus pada beberapa lekas luka di punggung Zean.
Sebentar, Nathalia sangat familiar dengan bekas luka yang seperti itu. Mendadak jantungnya bergemuruh, dia kebingungan dan semakin dicekam ketakutan. Pikirannya mulai kacau, dan keraguan jika pria yang di hadapannya ini adalah Zean semakin mencuat.
Begitulah bodohnya Nathalia, dia bahkan tidak mengenali suaminya sendiri. Walau tidak dapat disalahkan, wajah Sean dan Zean begitu mirip. Akan tetapi, seharusnya pasangan memiliki sebuah ikatan dalam diri mereka, dan mirisnya hal itu tidak ada dalam hubungan mereka.
.
.
Zean menoleh, menghentikan langkah dan mengerutkan dahi usai mendengar pertanyaan Nathalia. Tumben, pikirnya kemudian mendekat beberapa langkah. Entah kenapa, Zean mendadak ingin membahasnya dan membuat wanita di hadapannya ini semakin ketakutan.
"Ah, ini? Kucing," jawabnya santai, sengaja menunggu respon Nathalia .
"Kucing? Cakaran kucing tidak begitu ... kamu main wanita, Zean?"
"Kamu tahu, lantas kenapa bertanya?"
__ADS_1
Nathalia panas tiba-tiba, akan tetapi hendak menyalak-nyalak dia ciut lebih dulu. Wanita itu hanya bisa mengepalkan tangan, berusaha untuk terlihat seperti biasanya walau jujur saja dia takut melihat sorot tajam dari kedua netra Zean.
"Sejak kapan kamu begini? Zean yang kukenal tidak pernah main wanita ... atau jangan-jangan kamu bukan suamiku?"
Sudut bibirnya tertarik begitu tipis, dia tengah menertawakan Nathalia yang bahkan tidak mengenalinya. Zean mendekat, mengikis jarak hingga keduanya begitu dekat.
Ini bukanlah adegan manis antara suami istri, melainkan sebuah cara pria dewasa menghadapi lawannya. Mata Nathalia membulat sempurna, dia baru saja melontarkan sebuah pertanyaan bunuh diri tanpa dia sadari.
"Lihatlah, kamu bahkan tidak mengenaliku ... salah jika aku mencari kesenangan juga? Kita impas, Nathalia."
Zean berbisik pelan dan berhasil membuat Nathalia membeku. semakin dia mendengar ucapan Zean, semakin dia bingung sendiri. kata-kata impas dari Zean membuat dia tidak berani mengatakan apapun. Otaknya mulai berpikir jauh kenapa bisa Zean melontarkan hal itu.
"Calmdown, Nathalia ... sekalipun dia bersenang-senang bersama wanita murrahan itu tidak masalah, lagipula kemarin pasti pertama kali Zean ke club malam."
Otak bodohnya justru berpikir ke arah sana. Sebagaimana yang Nathalia pahami, kebiasaan jajan seperti itu sah-sah saja. Dia mendadak merasa tenang dan menyimpulkan jika cakaran di punggung Zean adalah milik seorang wanita malam.
"Masih ada yang ingin kamu katakan?"
"Tidak ada, mandi sana."
"Satu lagi, berhenti cari perhatian mama dengan cara bodohmu. Aku tidak peduli kamu tidak makan sampai kapanpun sebenarnya, sejak dulu kita begini, 'kan? Jadi, aku tegaskan padamu jangan usik urusan pribadiku sebagaimana kesepakatan kita waktu itu."
Zean mengingatkan lagi sebuah kesepakatan yang Nathalia buat sendiri. Dia merasa terbebani, malam ini dia terpaksa pulang hanya karena memikirkan mamanya. Apalagi, saat ini mamandannkedua adiknya tidur di rumah Zean, tentu saja mereka hendak memastikan Zean dan Nathalia baik-baik saja hingga esok hari.
.
.
__ADS_1
- To Be Continue -