
Sebagaimana janji Zean yang akan menjadikan Syila istri satu-satunya, pria itu mendaftarkan pernikahan mereka demi membuat ikatan cinta keduanya sah di mata hukum. Meski sebenarnya terlambat, akan tetapi ini lebih baik dibandingkan tidak sama sekali.
Statusnya memang sudah sah berpisah dari Nathalia. Namun, tetap saja bukan berarti dia bebas berkeliaran di luar sana. Sekalipun media sudah mulai redam, bukan berarti pembicaraan tentang Zean akan berhenti.
Khawatir dengan kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi, Zean membayar dua orang penjaga yang lebih mirip tukang pukul untuk menemani Syila kemanapun selama Zean tidak berada di sisinya.
"Zean, nemu dimana orang-orang begini?"
Tidak hanya Syila yang menganggap mereka tukang pukul, melainkan Mikhail juga. Dia sempat terkejut ketika mereka memperkenalkan diri, terlebih lagi tato bentuk mata di bagian leher itu.
"Dari Sean."
"Hah?!!"
Terkejut jelas saja, mengingat putranya menghilang empat tahun lamanya, Mikhail mendadak khawatir jika Sean hidup sebagai pembunuh bayaran atau sejenisnya.
"Dari Sean, Papa."
Mikhail bukan tuli ataupun meminta Zean mengulangi kata-katanya. Akan tetapi, dia hanya terkejut dan khawatir saja. Terlebih lagi, dahulu dia sempat menduga Keyvan sebagai preman pasar.
"Kau tidak bercanda? Kenapa bentuk mereka begitu?"
"Memangnya kenapa, Pa?"
"Papa lebih takut akan mereka menculik istrimu, Zean."
Zean spontan berdehem lantaran sang papa bicara terang-terangan. Meski setengah berbisik, tetap saja mereka bisa mendengar begitu jelasnya. Senyum kepalsuan Mikhail berikan pada mereka usai Zean menyadarkannya.
"Jaga menantu saya baik-baik, paham kalian?"
Berlagak galak, tapi Zean justru menahan tawa. Jika tiga puluh tahun lalu, mungkin Mikhail akan terlihat menyeramkan. Namun, untuk saat ini. Perutnya yang bergetar ketika membentak dan sarung dari brand ternama yang dia kenakan hanya membuat Mikhail sedikit lucu.
__ADS_1
"Siap, Opa."
"Heh? Opa kepalamu!!"
Dipanggil Opa oleh anak seumuran Zavia mungkin dia tidak keberatan, tapi jika yang memanggilnya dengan sebutan itu adalah pria dewasa bahkan lebih tua dari Keyvan, jelas saja Mikhail tidak rela.
"Maaf, Tuan besar."
"Besar? Kalian mengejekku besar?"
Hari pertama bertemu, kedua orang itu sudah membuat Mikhail murka. Beruntung saja Zean hanya sementara di rumah utama, jika selamanya Mikhail akan bertemu mereka, mungkin bukan seafood lagi penyebab dia masuk rumah sakit.
"Sudah, Pa ... begitu saja jadi masalah."
"Mereka menghina Papa, Zean. Tidak tahu saja kalian betapa tampannya Mikhail Abercio di waktu muda."
Dia benar-benar tidak terima, padahal panggilan itu sudah paling sopan menurut mereka berdua. Nasib sial, pekerjaan yang ditawarkan Sean tampaknya lebih rumit daripada membunuh tokoh politik. Mereka sedikit bingung, yang perlu dijaga itu istri bosnya atau perasaan orangtua bosnya.
Syila yang mendengar ucapan mertuanya hanya diam dan berusaha tidak terbahak. Beberapa waktu lalu dia sempat bertanya dalam benaknya, Zean mirip siapa dan sikap semacam itu diturunkan dari siapa. Kini, semua terjawab sudah dan sepertinya Syila akan tidur nyenyak.
.
.
"Apa besok saja ya?"
Pertanyaan itu tiba-tiba muncul usai dia menatap lekat wajah sang istri yang begitu fokus memasangkan dasi untuknya. Syila mendongak lantaran tidak mengerti apa yang Zean maksudkan.
"Apanya besok?"
"Kerjanya, kepalaku masih sakit."
__ADS_1
Mendadak sakit tanpa terduga, Syila yang menyadari hal itu hanya tertawa sumbang. Padahal, dia sudah pastikan sendiri dan tidak ada tanda-tanda kepala Zean masih sakit.
"Masa?"
"Hm ... Sayang aku_"
"Zean!! Bastian sudah menunggu ... jangan kelamaan, Zavia telat nanti."
Suara itu terdengar samar, Zean memutar bola matanya malas lantaran sang mama membuat ucapannya terhenti. Hal yang dia sedikit tidak suka jika sudah pulang adalah ini, diperlakukan layaknya anak kecil yang tidak tidak bisa melakukan apa-apa.
Kekhawatiran Mikhail adalah alasan, sekalipun sudah dia tolak tetap saja Mikhail pemenangnya. Wajah kusut Zean di pagi hari membuat Syila tersenyum simpul.
Berat sekali rasanya melangkah, dulu Zean paling suka ketika ada alasan untuk meninggalkan rumah. Namun, saat ini semua sudah berbeda dan keadaan tidak dapat disamakan.
Mikhail yang melihat putranya menuruni anak tangga sedikit tidak niat hanya menghela napas kasar. Yah, dia pernah di posisi itu. Bahkan menunda rapat hanya demi istri juga bukan sekali dua kali. Dia tidak akan marah dan sangat memaklumi mengapa Zean sebegitunya.
"Kamu bilang cuma ambil dasi, kenapa lama sekali?" tanya Mikhail penuh selidik, usai sarapan pria itu memang bergegas naik dengan alasan lupa pakai dasi.
"Lama cari warnanya, Pa."
Mikhail tidak lagi mengusik putranya. Sekalipun ingin, tapi dia urungkan demi menjaga hati menantunya. Khawatir jika candaan Mikhail justru membuat Syila tidak nyaman di sini.
"Jalanmu itu cepat sedikit, Zean ... persis pengantin begitu," omel Zia yang justru berpikir berbeda, tepatnya kasihan pada Bastian dan Zavia yang sudah menunggu di depan sana.
"Mama sama Papa kenapa cerewet sekali? Bulan madu sana," ungkap Zean yang membuatnya mendapat cubitan kecil dari Syila.
"Okay!! Kau yang bayar, Zean ... Papa mau ke Lombok, tapi terserah Mama saja mau kemana."
Zia malu sekali di hadapan menantunya, bisa-bisanya pria itu setuju bahkan berdiri dengan begitu gagahnya kala mendengar ucapan Zean yang tentu saja hanya candaan.
.
__ADS_1
.
- To Be Continue -