Istri Rahasia Sang Presdir

Istri Rahasia Sang Presdir
BAB 121 - S2 - Ibu Susu Untuk Hudzai


__ADS_3

"Nanas, Om nanas!!"


"Sabar makanya, om tiup dulu ya, Sayang."


Semakin hari, Hudzaifah mungkin lupa dimana tempat asalnya. Baru saja beberapa waktu lalu Zean panik mencari keberadaan putranya hingga membuat Mikhail dilarang membawa Hudzai untuk sementara, kali ini justru Sean yang cari perkara.


Hanya karena tidak punya kesibukan dan kesepian, dia menjemput keponakannya secara paksa. Sengaja dia datang setelah Zean makan siang, dia tidak ingin membuat saudaranya itu kembali naik darah.


Kini, kedua pria berbeda generasi itu tengah menikmati puding yang masih berasap itu. Tidak sabar lagi menunggu puding itu mengeras, mereka justru menikmatinya seolah wedang jahe.


"Enak?"


Hudzai mengangguk seraya kembali membuka mulutnya lebar-lebar. Mungkin dia baru merasakannya, Sean hanya terkekeh melihat tingkah lucu keponakannya. Tanpa dia sadari jika baju Hudzai sudah basah akibat tumpahan puding dari sendok yang dia suapkan.


Sembari menonton televisi keduanya tampak asik sekali. Tanpa beban, hidup kedua putra mahkota ini sedikit mengusik mata Ameera yang lelah usai casting tapi tidak juga menjadi pemeran utama, sungguh menyebalkan dunia hiburan itu.


"Sudahlah, Meera. Lebih baik buka angkringan sana, kamu cocok jual sate-satean."


"Apasih? Situ mending kawin sana ... tidak punya pacar ya? Huu kasihan, mana mainnya cuma sama bayi lagi, datar sekali hidupmu, Kak."


Sebuah fakta yang membuat Ameera merasakan bantalan sofa melayang tepat di kepalanya. Seakan tidak punya pembicaraan lain dan telinga Sean sudah mulai panas mendengarnya.


"Halah, aku sudah puas bermain dengan banyak wanita ... jadi tidak penasaran lagi rasanya. Sementara kamu? Dari kecil tidak punya, hayo."


"Ih punya ya!! Jangan sembarangan."


"Pembual, jika memang ada tunjukkan dong ... bawa ke sini, ke hadapan Papa seperti Lengkara."


Keduanya sama saja, tidak ada yang berbeda. Baik Ameera maupun Sean tidak ada bedanya, sama-sama kesepian jika tentang asmara. Beruntung saja hadir malaikat lucu yang diberi nama mirip nabi, tapi tetap banyak yang menduganya anak perempuan.


Pertikaian kecil adik kakak itu kembali terjadi, Sean seakan lupa usia dan Ameera juga sama gilanya. Tanpa mereka sadari jika kini Hudzai tengah berusaha sendiri minum puding itu dan berakhir dengan jeritan tangis akibat panas yang mungkin menjalar di lidahnya.

__ADS_1


Keduanya panik saat ini, bak pasangan yang sama bodohnya menghadapi amukan balita Sean dan Ameera justru saling menyalahkan. Ini adalah kali pertama Hudzaifah menangis hingga membuat para mereka kewalahan.


"Aduh gimana ya?"


"Susunya mana?"


Sean memberikan dot yang masih berisi setengah itu. Namun, Hudzai justru menepisnya dan benar-benar menolak.


"Kamu saja yang kasih, Ra ... kan punya itu," ucap Sean sekenanya menatap dada adiknya dan berakhir dengan jambakan Ameera seraya mengutuknya dengan kata-kata mutiara.


"Cab-ul!! Kakak kenapa lihat-lihat!!"


"Dasar gila, siapa juga yang naffsu!! Sejak kecil aku sering melihatmu telanjang bulat, biasa saja."


Sean menoyor kepala adiknya lantaran pikiran wanita itu terlalu gila. Sama sekali tidak ada niat Sean berpikir ke sana. Lagi pula siapa yang naffsu pada adik sendiri, sekalipun ada berarti memang otaknya perlu dipertanyakan, pikir Sean.


"Kakak sembarangan, apa maksudnya begitu."


Memang benar, ketika Hudzai panas dia menangis persis seperti ini. Satu-satunya cara agar membuatnya diam hanya dengan Syila, mungkin saja kali ini akan berhasil. Begitulah pikiran Sean saat ini, sayangnya Ameera justru salah menduga dan menganggap Sean ca-bul.


"Masa iya begitu, Kak?"


"Coba dulu, kan siapa tahu."


"Tapi, 'kan tidak ada isinya."


"Bentuknya yang penting sama, kamu lihat sendiri dia buang dotnya artinya tidak suka dan dia maunya itu ... sementara punyaku begini mana bisa."


Ameera mulai berpikir dan menatap Hudzai yang tidak berhenti menangis. Kasihan tentu saja, jiwanya mendadak bergetar dan berpikir yang Sean katakan mungkin saja benar.


"Aduh, punyaku masih perawan, Kak ... masa langsung disedot, kalau suamiku nanti tahu gimana?"

__ADS_1


"Aman, rahasiamu ada padaku ... cepat, demi Hudzai please!!"


Sean memaksan kehendaknya, dalam keadaan terdesak dia tidak punya pilihan lain karena memang tidak tega. Belum lagi penghuni rumah ini tidak ada yang dirumah, lengkap sudah alasan Ameera menjadi ibu susu untuk Hudzai.


Tanpa pikir panjang, Ameera membawa Hudzaifah ke kamarnya. Diikuti Sean yang masih khawatir pada ponakannya hingga tidak sadar jika Ameera ke kamar justru tengah menghindarinya.


"Astaga, kenapa ikutan?" tanya Ameera mengerutkan dahi seraya menahan pintu kamarnya.


"Mau lihat, aku kasihan, Meera."


"Kakak tunggu di luar dong, kita bukan suami istri gilaaa."


Baru Sean sadar, terpaksa dia menunggu di depan pintu demi memastikan cara itu berhasil atau tidak. Sebenarnya bisa saja menghubungi Syila lebih dulu, akan tetapi jarak rumah mereka cukup jauh, ditambah lagi Sean sudah berjanji tidak akan membuatnya menangis. Hal itu membuat Sean khawatir jika jujur, bisa jadi Zean akan melarangnya bertemu dengan malaikat kecil itu untuk selamanya.


"Berhasil tidak ya, harusnya suka sih ... Hudzai kan laki-laki juga."


Beberapa saat dia menunggu, sesuai dengan harapan Hudzaifah memang tidak lagi menangis. Sean setenang itu, idenya berhasil membuat putra Zean terdiam meski dengan cara yang terbilang sedikit aneh.


"Ra?"


"Jangan masuk, Kak."


.


.


- To Be Continue -


Yang belum nyamperin Sean mana nih? Jan lupa ya ... karena banyak yang biasa melewatkan pengumuman, maka aku kasih tahu lagi di sini ya.


Jan lupa di subreeek Abang Sean ya, Beb.

__ADS_1



__ADS_2